Gereja Sebut Hitadipa Mencekam, Warga Sipil Disuruh Keluar

Pdt. Andrikus Mofu dan Pdt. Petrus Bonyadone (Zoom - Dok/SP)
Pdt. Andrikus Mofu dan Pdt. Petrus Bonyadone (Zoom - Dok/SP)

TIMIKA | Situasi keamanan di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua dikabarkan semakin mencekam pasca pembacokan anggota TNI dan penembakan seorang pendeta pekan lalu.

Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Pdt. Petrus Bonyadone mengatakan, tidak ada seorang pun warga sipil bahkan anggota DPRD Intan Jaya berani masuk ke wilayah distrik Hitadipa.

“Distrik ini menjadi daerah operasi militer. Masyarakat sipil bahkan DPRD tidak berani masuk ke sana. Bahkan masyarakat asli di situ disuruh keluar,” katanya dalam konferensi pers yang difasilitasi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Kamis (24/9).

Pdt. Petrus menyebut, aparat keamanan telah meminta masyarakat meninggalkan Hitadipa sehingga wilayah itu seolah-olah menjadi kawasan perang dan daerah operasi militer.

“Penempatan pasukan non organik datang dari luar, mereka tidak mengerti budaya di sana, lalu menguasai daerah ini jadi daerah operasi militer,” katanya lagi.

Kondisi ini membuat masyarakat sipil, atau pun umat gereja, berpencar ke beberapa perkampungan terdekat dengan berjalan kaki sekitar 5-6 jam. Bahkan sebagian masyarakat lari dan bersembunyi ke dalam hutan.

IKLAN-TENGAH-berita

Pelayanan rohani di sana juga dipastikan lumpuh total. Begitu pula semua aktivitas lainnya, baik pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Kondisi masyarakat di sana, kata Petrus, benar-benar mencemaskan.

“Saya rasa pemerintah pusat harus turun dan melihat dengan mata kepala sendiri. Ini perlu ada investigasi secara terpadu terkait kasus penembakan di sana, tidak bisa hanya dilakukan oleh polisi dan TNI,” kata Petrus.

Prev1 of 3

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar