seputarpapua.com

Haris Azhar Desak Pemkab Mimika Cari Solusi ‘Pengungsi’ Tiga Kampung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
PENGUNGSI | Warga Tembagapura saat diungsikan di Timika, pada awal Maret 2020. (Foto: Sevianto/SP)
PENGUNGSI | Warga Tembagapura saat diungsikan di Timika, pada awal Maret 2020. (Foto: Sevianto/SP)

TIMIKA | Warga pengungsi dari tiga kampung (Waa Banti, Kimbeli, dan Opitawak) yang kini hidup terlunta-lunta di Kota Timika menanti dipulangkan ke kampung halaman mereka di Distrik Tembagapura.

Lokataru – Kantor Hukum dan HAM, selaku kuasa hukum masyarakat adat tiga desa (Aroanop, Waa Banti, Tsinga) bersama Forum Tsingwarop menagih tanggung jawab Pemkab Mimika memulangkan warga pengungsi tersebut.

Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar mengatakan, warga tiga kampung itu sejak akhir Februari dan awal Maret 2020 telah mengungsi ke Timika, meninggalkan kampung mereka di Tembagapura – wilayah operasi PT. Freeport Indonesia (PTFI).

“Pengungsian terjadi karena masyarakat merasa situasi di kampungnya tidak aman akibat baku tembak antara aparat keamanan Indonesia dengan TPNPB-OPM,” kata Haris kepada Seputarpapua, Minggu (15/11).

Beberapa hari lalu, Haris sempat menemui para pengungsi. Sudah tujuh bulan berlalu, belum juga ada kejelasan kapan mereka dipulangkan. Ia menyaksikan, kondisi para pengungsi sangat memprihatinkan.

“Kondisi tersebut antara lain, pertama, banyak warga pengungsi yang mengalami stress dan trauma karena tidak bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca di Kota Timika,” kata Haris.

Selain itu, sebut Haris, ketidakmampuan pengungsi untuk menyesuaikan dengan kondisi cuaca di Timika, memperparah kondisi mereka hingga dilaporkan delapan pengungsi telah meninggal dunia.

“Kemudian, kondisi keuangan masyarakat pengungsi yang serba kekurangan. Terlebih biaya hidup di Kota Timika cukup tinggi. Sebelumnya, di kampung masing-masing, masyarakat pengungsi biasa berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Berita Terkait
Baca Juga