Hilangkan Stigma Kabupaten Nduga Tidak Aman, Kapolres Lakukan Sejumlah Langkah

Situasi di Kabupaten Nduga, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasanya. (Foto: Ist)
Situasi di Kabupaten Nduga, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasanya. (Foto: Ist)

TIMIKA | Kapolres Nduga, AKBP Rio Alexander, memastikan bahwa situasi keamanan di Kabupaten Nduga pasca peristiwa pembantaian warga sipil di wilayah itu, kini telah aman dan kondusif. Bahkan, aktivitas masyarakat sudah berjalan seperti biasanya.

AKBP Rio pun mengatakan, upaya yang dilakukan pihaknya tidak lepas dari dukungan para pihak mulai dari TNI, Brimob maupun Bupati, dalam hal ini Pemerintah setempat untuk bagaimana sama-ssma berupaya semaksimal mungkin mengembalikan situasi aman dan tetap menjaga keamanan wilayah itu.

Sebab, pasca peristiwa pembantaian warga sipil di Nduga pada 16 Juli 2022 yang menewaskan 12 orang, situasi keamanan di wilayah itu menjadi terganggu. Namun kini, Rio menegaskan bahwa situasi Nduga sudah aman terkendali.

“Kami sudah lakukan upaya juga bersama Pemerintah daerah dengan TNI disana. Batalyon 431, mereka betul-betul bantu kami pihak Kepolisian,” kata AKBP Rio ditemui di Mapolres Mimika, pada Senin, 8 Agustus 2022.

Pasca peristiwa pembantaian warga sipil, Rio menjelaskan, pihaknya menghadapi bebepa persoalan. Yang pertama adalah persoalan eksodus. kata dia, jangan sampai eksodus besar-besaran terjadi dari wilayah hukumnya. Karena itulah Ia menyiapkan beberapa strategi untuk mengindari itu.

Kemudian masalah ketersediaan pangan atau logistik. Yangmana jalur perlintasan untuk menyuplai logistik dari luar daerah yang masuk Nduga dari Batas Batu menuju kota Kenyam, harus dijaga betul keamanannya.

Selanjutnya yang ketiga adalah persoalan pendeta yang ikut tewas dibantai oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogeya. Pihaknya mengantisipasi jangan sampai terjadi gejolak antar warga lokal seperti misalnya perang suku atau perang keluarga, akibat tuntutan atau denda adat atas kematian pendeta Elieser Baye.

Terkait eksodus, pihaknya dibantu TNI telah berhasil mengatasinya. Langkah yang dilakukan adalah meningkatkan intensitas patroli di wilayah itu setiap jamnya. Kemudian mendatangi warga pendatang menyampaikan  agar tidak khawatir dengan kondisi keamanan di Nduga.

“Itu setiap jam kami patroli, kemudian pendatang-pendatang yang ada di pinggiran kota kita arahkan masuk ke dalam kota,” jelasnya.

Kemudian persoalan pendeta yang meninggal, kata Rio, bersyukur dari Pemerintah setempat termasuk Kementerian Sosial RI, turut memberikan bantuan sehingga apa yang di khawatirkan tidak terjadi.

Sementara masalah ketersediaan pangan atau logistik, hal inilah yang menurut AKBP Rio masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pihaknya untuk terus menjaga jalur perlintas dari Batas Batu menuju kota Kenyam.

Namun, menurut dia, masalah ketersediaan pangan atau logistik bukan baru saja terjadi pasca peristiwa pembantaian, melainkan sudah terjadi sebulan terakhir. Hal itu lantaran kondisi cuaca yang kurang baik sehingga menghambat suplai logistik dari luar, terutama melalui laut.

“Jadi untuk logistik, satu bulan ini untuk ke Kenyam memang terhambat karena cuaca, ditambah lagi kejadian kemarin. Satu minggu saja pasca kejadian itu, beras habis,” ungkapnya.

Pada saat kondisi itu, AKBP Rio mengumpulkan para pedagang untuk menyampaikan agar tidak menaikkan harga dengan kondisi yang terjadi.

“Ada yang menaikkan harga, kami di Kepolisian punya Satgas Pangan, dan itu jelas pidana,” ujarnya.

Menanggapi menyampaikan Rio, para pedagang pun bertanya bagaimana caranya memasukkan logistik hingga ke kota Kenyam, mengingat saat itu jalur perlintasan dari Batas Batu ke kota Kenyam kurang aman.

Rio pun menjawab bahwa pihaknya akan melakukan pengawalan bersama TNI maupun Brimob dari Bata Baru sampai kita Kenyam. Tidak tanggung-tanggung, personel yang dilibatkan dalam pengawalan bisa mencapai 150 personel.

“Itu jawaban saya untuk mereka tidak menaikkan harga. Jawaban dari konsep yang saya tawarkan ke pedagang kios agar tidak ada yang menaikkan harga,” katanya.

Bahkan, Ia pun menjamin dalam pengawalan itu pihaknya tidak meminta sepersepun biaya dari para pedagang. Ia pun berani diklarifikasi terkait hal tersebut.

“Saya cukup dibayar dengan harga tidak boleh naik, itu saja. Kita sudah komitmen dengan aparat TNI disana, dengan Brimob disana, komitmennya itu bukan untuk cari uang,” katanya.

Sebab, jika ada hal seperti itu, maka secara otomatis para pedagang akan menaikkan harga barang, lantaran telah mengeluarkan uang untuk pengawalan.

“Mereka isikan BBM kita saja, saya tidak mau,” ujarnya.

Hingga kemarin, kata AKBP Rio, pengawalan sudah dilakukan tiga kali pasca peristiwa pembantaian warga sipil.

Meski demikian, Ia menjamin kalau situasi di Kabupaten Nduga hingga saat ini sudah aman dan masyarakat beraktivitas seperti biasanya, begitu juga aktivitas pemerintahan.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Saldi
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.