Intelektual Adat Waa Menilai Pemda dan Freeport Terlantarkan Pengungsi Tembagapura

PENGUNGSI | Salah satu Mama Papua, warga masyarakat adat Waa, Distrik Tembagapura yang dievakuasi akibat konflik bersenjata pada Maret 2020 lalu. (Foto: Sevianto/SP)
PENGUNGSI | Salah satu Mama Papua, warga masyarakat adat Waa, Distrik Tembagapura yang dievakuasi akibat konflik bersenjata pada Maret 2020 lalu. (Foto: Sevianto/SP)

TIMIKA | Kaum intelektual dari masyarakat Adat Waa, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua menilai telah terjadi penelantaran terhadap masyarakat mulai dari Kampung Banti 1, Banti 2 hingga Opitawak, yang kini mengungsi di wilayah perkotaan Timika dan sekitarnya.

Beberapa waktu lalu juga masyarakat adat Waa mengaku sudah tidak mampu bertahan di wilayah perkotaan Timika setelah di evakuasi pada Maret 2020.

Sehingga akhirnya mereka membangun posko di Jalan C. Heatubun (Jalan Baru) untuk menggalang dukungan agar bagaimana caranya bisa kembali ke kampung halaman mereka.

Kaum intelektual dari Kampung Waa, Natex Bugaleng kepada seputarpapua.com, Senin (27/7), mengatakan, Pemerintah bersama pihak terkait seperti PT Freeport Indonesia (PTFI) telah melakukan penelantaran terhadap masyarakat Waa yang kebanyakannya adalah bayi, anak-anak bahkan lansia.

“Kami melihat, PTFI, pemerintah dan pihak-pihak terkait telah melakukan penelantaran terhadap masyarakat adat Waa (Banti 1, Banti 2 dan Opitawak). Mereka adalah bayi, anak-anak dan lansia yang tidak harus di terlantarkan,” kata Natex Bugaleng di Timika.

“Mereka mengeluh dan meminta dikembalikan ke kampung, karena sudah tidak nyaman dan tidak cocok ada di Timika kota,” sambungnya.

Natex juga mengungkapkan, sudah ada banyak di antara para pengungsi Tembagapura yang mengalami sakit hingga meninggal dunia, lantaran susah mendapatkan kehidupan yang layak di perkotaan.

Bahkan, mereka pun telah bersuara namun tidak mendapat respon positif dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas mereka.

“Adapun banyak diantara mereka sakit dan meninggal dunia, mereka susah mendapatkan kehidupan yang layak. Mereka bersuara namun tidak ada respon positif yang mengakomodir suara dan keluhan mereka,” ujarnya.

Prev1 of 2

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar