seputarpapua.com

Jenazah Guru Oktavianus dan Yonatan Diterbangkan ke Kampung Halaman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Jenazah guru Oktavianus Rayo dan guru Yonatan Renden saat tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Sabtu (10/4/2021).
Jenazah guru Oktavianus Rayo dan guru Yonatan Renden saat tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Sabtu (10/4/2021).

TIMIKA | Jenazah dua guru korban penembakan kelompok kriminal bersenjata diterbangkan dari Bandara Mozes Kilangin Timika menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu (11/4/2021) siang.

Guru Oktavianus Rayo dan guru Yonatan Renden rencananya akan dikebumikan di kampung halaman di Lembang Sa’dan Pebulian, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten Toraja Utara.

Ratusan kendaraan mengiringi jenazah kedua pendidik yang meninggal ditembak kelompok bersenjata di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua. Oktavianus tertembak pada Kamis (8/4/2021) dan Yonatan tertembak pada Jumat (9/4/2021).

Keduanya mengajar di Beoga, Oktavianus berstatus guru honor senior (10 tahun) dan mengabdi di SD YPPGI Milawak, sementara Yonatan berstatus honorer di SMP Negeri 1 Beoga.

Oktavianus meninggalkan seorang istri, Natalina Pamean, dan lima orang anak. Sedangkan Yonatan meninggalkan seorang istri, Dewi Gita Paliling, dan dua orang anak. Anak terakhir Yonatan baru berumur enam bulan.

Pembela hak asasi manusia (HAM) Theo Hesegem sangat menyesalkan tindakan brutal terhadap kedua tenaga pendidik yang diduga dilakukan oleh sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Saya sebagai pembela ham sangat menyesal tindakan brutal yang diduga dilakukan oleh OPM, mengorbakan kedua guru yang sama sekali tidak tau masalah apa-apa. Apa untungnya menembak warga masyarakat sipil yang nota benenya tidak tau masalah,” tegasnya dalam pernyataan, Minggu.

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela HAM Sedunia) ini mengatakan, sebagai warga negara kedua guru juga punya hak hidup yang sama dengan manusia lainnya.

“Mereka datang untuk membangun sumber daya manusia di tanah Papua, kok mereka ditembak. Menurut saya, adanya guru maka kita bisa menjadi pintar dan menjadi orang-orang hebat di tanah ini, untuk membangun Papua,” tuturnya.

Ada pun Oktovianus Rayo (40) tertembak di kampung Julukoma, distrik Beoga, Puncak, Kamis (8/4). Sehari kemudian, guru Yonatan Renden ikut tertembak ketika mengambil terpal untuk mengalas jenazah guru Oktavianus pada Jumat (9/4).

 

Reporter: Sevianto Pakiding
Editor: Aditra
Berita Terkait
Baca Juga