Kasus DBD di Mimika Mulai Menurun

Obet Tekege
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Obet Tekege Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua

TIMIKA | Kadus Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Mimika, Papua kini sudah menurun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Obet Tekege menjelaskan kasus DBD yang terjadi jika dilihat menurut Distrik tersebar di Distrik Mimika Baru, Wania dan Distrik Kuala Kencana.

“Sekarang hitungan kami sudah diminggu ke 26 jumlah kasus sekitar 39 kasus. Dari 39 kasus ini, sebagian besar sudah berobat dan sudah sembuh sehingga sisa dua yang dalam penanganan di rumah sakit,” jelas Obet ketika diwawancarai di Kantor Pusat Pemerintahan, Jumat (15/7/2022).

Ia menjelaskan, apabila dipetakan menurut umur, dari 39 kasus tersebut usia 15 tahun keatas lebih banyak terserang sekitar 20an orang, sementara sisanya adalah anak-anak di bawah 15 tahun.

Lanjutnya, sejak menerima informasi terkait 39 orang yang terserang DBD, pihaknya langsung mengevaluasi dan mulai gencar melakukan pencegahan yang dimulai dari Puskesmas.

Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan pihak RT, Kampung dan Kelurahan untuk gerakan jumat bersih.

“Dari Puskesmas juga gencar melakukan kampanye pencegahan DBD. Setelah itu bagaimana kordinasi ke RT supaya mereka bisa tangani pembersihan lingkungan sehingga dengan tingkat pengetahuan mereka mampu untuk mengendalikan sumber penyakit DBD di lingkungan,” ungkapnya.

Obet menerangkan gejala DBD yang bisa diwaspadai yakni demam, sakit kepala, lemas, mual dan muntah. Kemudian secara fisik muncuk bintik- bintik merah.

“Jadi kalau sudah lemas harus ke puskesmas, orang tua jika anaknya ada gejala begitu, harus bawa ke rumah sakit atau Puskesmas terdekat,” ungkapnya.

Pihaknya juga telah melakukan penelitian dan didapati di beberapa lokasi terdapat nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus DBD.

“Kita langsung periksa di malaria center, dan didapati Nyamuk Aedes Aegypti. Kita dapat di ember-ember, selokan, kaleng cat dan genangan air lainnya. Juga tempat penumpukan sampah yang terdapat jentik nyamuk Aedes Aegypti, dimana jentik itu bisa berkembang selama 7 hari kemudian menjadi nyamuk dewasa. Jadi kami harapkan masyarakat bisa menjaga kebersihan lingkungan,” pungkasnya.

reporter : Kristin Rejang
editor : Batt

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.