Kebutuhan Telur untuk Konsumsi Karyawan Freeport Capai 4.700 Karton Per Bulan

Senior HR/IR Legal Manager Pangan Sari Utama, Portonatus Lenggamali (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Senior HR/IR Legal Manager Pangan Sari Utama, Portonatus Lenggamali (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Senior HR/IR Legal Manager Pangan Sari Utama, Portonatus Lenggamali menjelaskan kebutuhan telur bagi karyawan PT. Freeport Indonesia sebanyak 4.700 karton perbulan.

4.700 karton ini juga saat ini diambil dari telur lokal Timika.

Portonatus mengatakan dalam usaha peningkatan kualitas telur ada peran dari tiga pilar yakni, Pemerintah, swasta dan masyarakat atau pengusaha.

“Pengusaha membantu semuanya tentunya satu bahan makanan karena ini untuk konsumsi masyarakat dalam hal ini adalah pekerja di PT Freeport Indonesia dan Pangan Sari sebagai cateringnya sehingga pertama adalah secara kwalitas harus baik, kedua secara kuantitas, tiga legalitas, terus keempat price karena bagaimanapun juga Pangan Sari dalam hal ini pengusaha bisnis,” katanya ketika diwawancarai di Hotel Horison Diana, Senin (7/11/2022).

Menurutnya mengenai Price (harga) juga harus kompetitif yang bisa memberikan suatu jaminan kepada karyawan untuk mendapatkan kualitas telur yang baik.

“Artinya kalau kita lihat dari sisi government dan good government ada tiga pilar itu pengusaha dalam hal ini selalu siap membantu supaya apapun makanan yang dikonsumsi bisa secara kualitas itu baik, secara kontunitas artinya jangan sampai itu suplainya ke kami berhenti itu tidak boleh karena kita (Pangan Sari) harus sediakan makanan,” ungkapnya.

Dijelaskan saat ini penandatanganan MoU antara Pemkab dan Pangan Sari Utama selama dua tahun berjalan namun, selama ini pihaknya sudah mengambil telur lokal dan tidak mengambil dari luar Timika.

“Gerakan yang diambil oleh ibu Sabelina ini bahwa semua harus memiliki nomor kontrol veteriner itu berarti bahwa semuanya berdasarkan undang-undang ketahanan pangan harusnya seperti itu, sehingga dengan ini memacu semua stakeholder yang ada khususnya peternak untuk bisa memperhatikan legalitasnya,” ujarnya.

Sebab tidak hanya legalitas saja, namun benar-benar persyaratan kesehatannya harus terjaga.

“Memang kita tidak ambil dari luar semua dari lokal karena disini juga sudah over kan, jadi semuanya itu harus mendukung pertanian lokal, atau peternakan lokal yang ada di Timika,” pungkasnya.

Tanggapi Berita ini
reporter : Kristin Rejang
editor : Felix

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.