Ketimpangan di Kota Dolar

RUMAH | Kondisi rumah keliuarga longginus Ainiu di Pomako. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
RUMAH - Kondisi rumah keliuarga longginus Ainiu di Pomako. Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua

Awal Desember, langit Mimika cerah padahal beberapa hari sebelumnya terus diguyur hujan. Seorang pria dengan rambut sedikit memutih, sibuk memperbaiki atap rumah berbahan seng dan daun sagu yang sudah mulai bocor karena bertahun-tahun tidak pernah diperbaiki.

Pria tersebut adalah Longginus Ainiu (50) Putra asli Kamoro yang merupakan warga RT9 Kampung Pomako. Tahun 2002, ia bersama istri dan dua anaknya keluar dari kampung halamannya, Timika Pantai mencoba mengubah hidupnya di Kota Mimika.

Terhitung 19 tahun sudah Longginus tinggal di Pomako,hingga Longginus memiliki lima cucu dari dua anaknya mereka masih tinggal bersama dalam satu rumah panggung bertiang kayu mangrove, berdinding tripleks, dan terpal. Rumah tersebut dibuat oleh Longginus diatas tanah milik salah satu pengusaha berasal dari luar Papua.

Di Timika, ada dua suku besar yakni suku Kamoro yang mendiami pesisir pantai sementara Amungme yang mendiami pegunungan.

Mata pencarian suku Kamoro adalah menjadi nelayan dan pangkur sagu, dengan semboyan 3S (Sagu, Sampan,dan Sungai) yang juga ditekuni oleh Longginus saat masih tinggal di Timika Pantai.

Namun di kota ternyata tidak ada yang berubah. Ia masih berjuang menjadi peramu tradisional mencari ikan, karaka, udang dan hasilnya dijual ke pengusaha dari luar Papua. Dengan pendapatan Rp100.000 perhari hanya mampu membeli beras. Bahkan untuk membeli sayur dan lauk pauk saja dia kesulitan.

Meski begitu, Longginus mengatakan “Lebih baik tinggal di kota, di kampung tidak bisa pegang uang, di kampung kami sudah tidak ada rumah, ini juga kami tinggal di tanahnya orang, kalau mereka bilang kami pindah ya kami pindah,” ujarnya.
Perdagangan dengan sistem tradisional hingga kini masih terus dipercaya Longginus bisa menghadirkan pendapatan yang mumpuni.

“Ana-ana (Anak-anak) kota dolar dorang,” begitu yang sering dibanggakan oleh anak muda Timika dengan khas dialek Papua, sebab Timika merupakan kota yang kaya akan emas yang dikelola oleh perusahaan asing.

Namun kebanggaan itu tidak dirasakan, dalam kenyataan ketika melihat keadaan yang sedang dialami oleh masyarakat asli Kabupaten Mimika yang tinggal di Pomako. Mereka tertinggal di tengah pertumbuhan kota Timika yang pesat.

Ibu kota Timika terbilang lebih maju dibanding distrik lain. Mimika terdiri dari 18 distrik, 19 kelurahan dan 133 kampung tersebar dari perkotaan, pegunungan, dan pesisir. Untuk skala lebih besar, meski secara keseluruhan pada Maret 2018, Papua masih tercatat sebagai provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia, namun berdasarkan data BPS, bersama kota Jayapura, kabupaten Mimika termasuk sebagai kabupaten paling baik secara ekonomi. Ini terjadi karena tingkat pendidikan, infrastruktur kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dianggap lebih baik dibanding daerah lainnya di Papua.

Dari ukuran Gini Ratio (angka ketimpangan) pada 2018, Papua mengalami penurunan sebesar 0,013 poin menjadi 0,384. Angka ketimpangan Papua sedikit di bawah angka ketimpangan nasional yang mencapai 0,389. Sementara, di Mimika Gini Ratio justru terus membaik dari 0,33 tahun 2015 menjadi 0,29 pada tahun 2016.

Seiring perkembangan, masyarakat Amungme dan Kamoro harus berjuang untuk melawan zaman. Di Kota Timika ada 5.647 sarana perdagangan di luar pasar yang rata-rata kepunyaan pendatang dari luar Papua. Untuk di Pasar Sentral, dari 1.908 pedagang hanya 384 orang pedagang Papua, notabene kaum perempuan.

Dari 384 pedagang, hanya 3 pedagang yang menjual bumbu dan sayuran dengan menggunakan lapak yang beratap dan dilengkapi meja. Memang ada juga yang menjual di lapak modern, lapak itu khusus menjual sagu yang memang sudah disiapkan oleh pemerintah. Sebagian besar berjualan di blok yang disediakan khusus untuk Mama Papua dan ada juga blok khusus penjualan noken.

Mama-mama Papua menjual hasil kebun seperti pakis, daun pepaya,daun petatas,nangka sayur, umbi-umbian (singkong, keladi dan petatas),sagu,noken,buah nanas,lengkuas, sereh, dan daun gatal. Mereka rata-rata berjualan di bawah lantai.

Berjualan di bawah lantai hanya bealaskan karung ini, dipercaya dan memiliki filosofi tradisi dari masyarakat pribumi sebagai bentuk cinta mereka terhadap ibunya yang dipercaya bisa membawa keberuntungan.
Selain itu, semua barang dagangan tidak bisa diletakkan di atas meja lapak. Mereka membutuhkan tempat yang luas. Berjualan pun tidak bisa di tempat yang tersembunyi harus dilihat orang. Sehingga Mama-mama Papua berjualan di pinggir jalan besar seperti di Budi Utomo, Cenderawasih, SP4 dan beberapa lokasi lainnya.

“Kalau jual di pinggir jalan, orang lihat langsung bisa laku, di pasar itu laku tapi hanya petatas saja, daun gatal orang tidak beli padahal kalau taruh di pinggir jalan begini paling laku,” kata Oni Magai (21) perempuan Amungme dari Kampung Jila.

 

Oni Magai sedang menata jualannya di pinggir jalan SP4

 

Ada lapak modern yang sudah dibagikan pemerintah, dijual dan disewa kepada pedagang pendatang dari luar Papua. Namun ada juga pedagang Orang Asli Papua (OAP) yang mampu mempertahankan lapaknya, “Saya tidak mau jual lapak ini, banyak yang jual, saya mau jualan disini juga,” kata Mama Rina Pei asal Paniai, yang saat itu berjualan sayuran sawi, kangkung dan markisa.

Mama Rita Tayaro memilih berjualan hasil perkebunan yang sekali tanam dan terus dipanen,salah satunya salak yang merupakan salah satu buah yang cukup melimpah di daerah Mapurujaya.

“Waktu itu suami masih ada, kami coba taman kangkung, sawi tapi capek bikin bedeng, jadi jual salak saja, sudah satu kali tanam tapi tinggal ambil setiap hari,” kata Rita Tayaro.

Di sana juga sudah tidak terlihat suku Kamoro yang berjejer berjualan sagu dengan khas tumangnya. Tahun 1993 pedagang sagu masih membeli di suku Kamoro dengan harga pertumang Rp400.000.

Kini, pedagang sagu bahkan pedagang asli Papua mau menjual sagu harus membeli di pabrik olahan sagu yang dikelola oleh seorang pengusaha berdarah Jawa.

“Sekarang kami beli sagu hanya Rp100 ribu per karung ukuran 20 kilo baru kami jual lagi di Pasar,” Kata Mama Yohana Beide seorang pedagang asal Sarmi-Biak.

 

Mama Yohana Beide saat menjual sagu di Pasar Sentral Timika

 

Bahkan, buah pinang yang selalu dikonsumsi oleh orang Papua kini jarang dijual oleh mereka sendiri. Untuk menjual pinang, pedagang OAP juga membeli pinang di beberapa distributor, salah satunya distributor pinang yang beralamat di Pasar Lama milik seorang pengusaha asal Buton yang juga biasa menerima kiriman pinang dari Jayapura.

Meski kini banyak persaingan saat menjual pinang karena sudah banyak pedagang asal luar Papua yang berjualan pinang, namun mereka tetap optimis. “Menurut saya pedagang pendatang ada disini mereka tujuan utama berbisnis, banyak hal baik yang kami belajar dari mereka kususnya dalam berdagang,” kata Henny Kambuaya.

Di Jalan Ahmad Yani Timika, tampak beberapa toko milik pedagang pendatang yang menjual cenderamata khas Papua ada pula yang menjual ukiran ukiran khas Kamoro.

Bayangkan, Kampung Iwaka dicanangkan sebagai Kampung Adat dan Budaya oleh Pemda Mimika namun tidak memiliki makna bagi warga Kampung Iwaka. Pasalnya 150 orang pengukir di Iwaka yang merupakan suku Asli Kamoro sudah mengukir dan menganyam berbagai kerajinan namun ‘bingung’ hendak dipasarkan kemana, akhirnya untuk mengukir, mereka harus memikirkan secara matang.

“Masyarakat sudah semangat ukir tapi tidak tau mau jual kemana, tidak ada galeri khusus untuk masyarakat Kamoro,” kata sekertaris Kampung Iwaka, Yoppy Pattikawa.

 

Masyarakat Iwaka Saat memperlihatkan hasil ukirannya.

 

Modal pun menjadi kendala dari pedagang Papua, memang mereka menabung, namun Mama Yohana Beide lebih memilih menabung di celengan. Ia juga percaya apa yang laris dihari ini dihabiskan asalkan cukup untuk makan, dan memberikan persepuluhan di gereja, esok bisa dicari lagi.

“Mama mau kalau dapat kesempatan dan dikasih modal berjualan bumbu-bumbu dan sayuran lain yang ambil dari luar daerah, karena kita mau tapi kendalanya modal,” kata Yohana.

Kadang hasil jualan hanya laku Rp150 ribu harus berbagi juga dengan mahalnya ongkos transportasi yang perhari bisa habis Rp60 ribu perhari, belum harus dibagi dengan untuk makan sehari-hari.

Di Timika, kendaraan umum dalam kota hanya ojek, ada juga layanan taksi SP2-3, Mapurujaya.

Rita Tayaro berpikir dari pada harus bagi hasil dengan mahalnya ongkos ojek, ia memilih memenuhi kebutuhan transportasi dengan cara menukar sebidang tanah dengan sebuah motor bekas.

“Ada tanah di SP5, kecil saja, saya tukar dengan orang Timur, dia kasih sa motor, sa kasih dia tanah,” katanya.

Masa Lalu

Keadaan sekarang sangat berbeda dengan kehidupan sebelum tahun 1960 saat belum adanya jalur transportasi, masuknya pendatang dan hadirnya PT.Freeport Indonesia, Masyarakat Amungme dan Kamoro juga pernah merasakan merdeka secara ekonomi yang berasal dari alam.

Suku Amungme, suku asli Mimika merupakan suku ‘penakluk’ karena bekerja keras dengan berkebun dan mampu hidup di atas gunung sekitar 2000 – 4000 dpl dengan kemiringan lereng bisa sampai 45 – 50 derajat.

Kala itu,mereka bertahan hidup dari tanaman seperti tebu juga umbi-umbian. Alat berkebun terbuat dari batu khusus yang diambil dari Ugimba (Intan Jaya).

Untuk mendapatkan batu tersebut harus melewati gunung dengan berjalan kaki. Tradisi dari Suku Amungme adalah bukan Nomaden (rumahnya tetap namun lahan garapan yang berpindah-pindah).

Untuk mencari daging demi memenuhi kebutuhan lauk pauk, masyarakat Amungme biasanya berburu, bukan saja di dataran tinggi namun di dataran rendah. Hasil buruan juga menjadi barang dagangan mereka, yang dijual kemudian di tukar dengan alat tukar di zaman itu yakni Kulit Bia (Cangkang Kerang) yang sulit didapatkan dan tidak mudah ditiru sehingga menjadi berharga.

Karena orang Amungme yang lingkungannya tidak ada pantai atau danau, sehingga Kulit Bia diperoleh dari Danau Paniai.

Untuk mendapatkan Kulit Bia, mereka harus berdagang, membantu membangun rumah.

Ada juga berdasarkan kesepakatan membuat kebun lalu ditukar dengan Kulit Bia. Kulit Bia juga digunakan untuk membayar harta perempuan
Mereka juga menjalankan bisnis tembakau, melakukan transaksi di Nawaripi dan Manasari dengan masyarakat suku Kamoro. Dari suku Kamoro, suku Amungme menukarkan tembakau dengan kampak, parang dan beberapa alat keterampilan.
Perdagangan lainnya yaitu garam yang didapatkan dari Ugimba yang uniknya ditemukan diatas gunung, garam tersebut digunakan sebagai bumbu masakan hingga kini.

“Kalau kampung saya di Tsinga, harus naik ke Cartenz dibawah gunung Cartenz persis di bawah bibir kolam Grasberg itu mereka lewat disitu baru turun ke Ugimba,” jelas tokoh Amungme dengan latar belakang Sarjana Ekonomi, Menuel John Magal.

Lainnya adalah berdagang busur panah,dibuat di lembah Duma Dama terletak diantara daerah Adminitrasi Kabupaten Mimika, Deiyai dan Paniai, juga gelang dan noken yang dari dulu merupakan barang tradisional bahkan dari Paniai terkenal sehingga noken bagi orang Amungme merupakan makna kehidupan sosial.

“Semua mereka jangkau dengan jalan kaki, alat hitung waktu saat itu menggunakan tali, setiap tidur mereka hitung satu, keluarga di rumah juga bisa ikut hitung, jadi luar biasa perekonomian mereka,” ujarnya.

 

Tokoh Amungme, Menuel John Magal

 

Saat itu, suku Amungme hidup merdeka dengan alam, tidak ada persaingan, tidak ada ketakutan, juga hal yang menghambat ekonomi. Mereka tidak mengenal raja atau kepala suku semua keputusan adalah kolektif, dan demokratis.

Kehidupan Suku Amungme sedikit berbeda dengan suku Kamoro yang tinggal di pesisir pantai selatan Mimika dengan kehidupan Nomaden (berpindah-pindah) aktivitas sejak dahulu adalah melaut serta pangkur sagu dengan semboyan 3S (Sungai, Sampan dan Sagu).

Suku Kamoro mengenal perdagangan menggunakan uang, saat orang luar Papua masuk sebelum tahun 1940-an dimana Alat tukar pada zaman itu menggunakan uang Indiae Batav (IB).

Masyarakat Kamoro saat itu berdagang tali rotan, kayu masohi dan damar yang diambil dari kali Kamora yang dijual pada pedagang asal China. Mereka juga berdagang Kopra (Kelapa). Transaksi dilakukan di Namatota, Kaimana dan Kokonao.

Selain orang China, Kamoro juga mengenal berdagang hasil laut dan kebun ketika ada guru-guru injil mulai datang dan membeli akhirnya bisa menopang kehidupan ekonomi saat itu.

“Bagi masyarakat Kamoro alam sudah sediakan semua jadi tidak ada pengaruh misalnya orang bilang ekonomi global, mereka tidak prinsip itu, yang penting bisa makan. Sehingga tentang perdagangan sudah dilakukan sejak dulu jadi tidak kaget lagi dengan perkembangan jaman,” kata Tokoh Kamoro, Marianus Maknaipeku.

Tokoh Kamoro, Marianus Maknaipeku

 

Merantau

Sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19, di Kaimana dan Kokonao mulai ada perdagangan yang berpusat di Namatota, banyak pedagang yang berasal dari suku China, Seram, Buton, Bugis sebenarnya sudah mulai datang namun tidak menetap, begitu yang dijelaskan oleh Cahyo Pamungkas dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Bahkan kira-kira tahun 1963 juga sudah ada tentara yang mulai datang ke Mimika, sementara guru-guru injil, perawat misalnya dari Kei, Ambon sudah datang sebelum 1963 ke pesisir Mimika,” kata Cahyo.

Pada tahun 1967 Freeport Indonesia mulai masuk. Memang hingga tahun 1974 masyarakat Amungme yang mendiami pegunungan yang dijadikan areal pertambangan masih merasa asing.

“Jadi awalnya mereka (Amungme) masih menentang, karena ini adalah tanah mereka,” Kata Veronika Kusumaryanti, seorang Antropolog lulusan Harvard AS. Dalam sejarah terlihat tahun 1974-1977 orang Amungme terus melawan kehadiran Freeport. Namun saat itu, masyarakat tidak bisa berbuat banyak.

Dari kejadian-kejadian tersebut ada keterkejutan budaya (culture shock) yang bisa terlihat misalnya sekarang masyarakat Amungme terutama laki laki sudah banyak meninggalkan pertanian, yang bertani justru banyak perempuan sementara laki- laki lebih banyak di kota mencari pekerjaan.
Suku Kamoro, reaksi budayanya lebih banyak memilih menjauh dari pusat kota.

Kali Ajikwa yang menjadi tempat pembuangan tailing saat ini menjadi tempat pendulangan emas namun orang Kamoro tidak terlibat sama sekali.

“Jadi culture shock yang diekspresikan oleh orang Kamoro adalah menjauh, jadi orang Kamoro kan kebanyakan tinggal di agak jauh dari perkotaan justru mungkin di Pomako ada beberapa komunitas Kamoro. Jadi ekspresinya berbeda beda antara suku Kamoro dengan suku pegunungan seperti Amungme,Nduga dan sebagainya,” kata Veronika.

Dijelaskan masyarakat Suku Kamoro mengambil dari dusun sagu, juga sungai, jadi untuk berdagang memang Perempuan Kamoro sudah mulai ikut, tapi untuk laki laki agak susah untuk ikut terlibat dalam usaha usaha yang dilakukan oleh para pendatang dari luar.

“Jadi ini memang model budaya yang sangat berbeda jadi kalau dipaksanakan juga untuk orang Kamoro disuruh bertani yah tidak bisa karena dia tradisinya bukan disitu,” ujarnya.

Juga banyaknya uang membuat orang orang Papua maupun pendatang luar Papua sangat bermotivasi. “Jadi semua orang kalau biasa hidup di Timika yah bicaranya uang terus, dan itu berbeda sekali dengan daerah lain,” katanya.

Selain kehadiran Freeport, ada juga program penetapan transmigrasi pertama tahun 1986 di Satuan Pemukiman (SP1) jumlah penduduk pendatang saat itu adalah 156 jiwa kedatangan masyarakat terus berkembang hingga tahun 1999 jumlah transmigran dengan program pemerintah menjadi 15.794 jiwa hingga tersebar di 13 SP. Memang sudah banyak yang kembali ke daerah asalnya namun ada pula yang masih menetap hingga saat ini.

Banyak pula masyarakat yang datang tanpa program pemerintah dan hingga kini jumlah pendatang diperkirakan 60 persen dari 311.969 jiwa.

Tabel data jumlah penduduk di Mimika

 

Bekerja keras dan berusaha di tanah rantauan memang sudah menjadi asam garam bagi para pendatang. Hartaty Anamofa (47) yang berasal dari Dobo, Maluku, sudah ada di Timika sejak tahun 1997 bersama orang tua yang adalah pebisnis sembako.

Tahun 2000 setelah selesaikan study di Makassar, Hartaty kembali ke Timika, berjuang dengan ilmu bisnis dari orang tua, Hartaty yang juga berdarah China ini, berusaha dari nol karena orang tua mengalami sakit. Bermula dari berjualan kue juga ice cream hingga mulai berjualan barang elektronik, namun tak bertahan lama. Tahun 2002 ia mencoba menjadi pemasok sembako ke Agats sambil mencoba berbisnis sirip ikan hiu.

Tantangan, kapal terbakar hingga menimbulkan korban jiwa, rumah habis terlalap api, namun ia teru bangkit dari nol dengan ilmu bisnisnya berawal dari berjualan kue, hingga akhirnya tahun 2010 mulai fokus untuk mencari ikan, kepiting, udang dan hasil laut lainnya di perairan Mimika, bahkan kini menjadi salah satu pengusaha ekspor hasil laut hingga ke Singapura dan China yang sudah mempekerjakan 15 karyawan, juga memiliki beberapa usaha salah satunya rumah makan seafood dan usaha air galon di Pomako.

Hartaty yang dulunya adalah lulusan Teologia, juga mengaku kini ingin mendedikasikan dirinya melayani anak-anak di Pomako. Karena sejak tahun 2010 ia sudah hidup bersama dengan masyarakat Kamoro.

“Saya juga jatuh bangun karena keuangan, cuman pada dasarnya kita harus menjaga kepercayan. Hidup sederhana, makan apa adanya, pakai apa adanya, harus tetap bersyukur,” ujarnya.

Hartaty saat mengajar anak anak Pomako

 

Lainnya adalah Supri asal Lamongan, Jawa Timur yang sudah ikut dengan orang tua tahun 1995 ke Timika dan berdagang. Sempat balik ke Jawa untuk mencari keuntungan disana, namun banyak saingan akhirnya tahun 2018 ia kembali ke Timika mencoba buat usaha warung lalapan hingga tahun 2021 masih tetap berjalan.

“Di Jawa ladangnya banyak, jadi banyak saingan juga makanya mendingan kesini dari pada bertani disana belum ada hasilnya,” ujarnya.

 

Andi sedikit berbeda, sejak tahun 1995 menjadi Karyawan PT.Freeport Indonesia akhirnya memutuskan untuk berhenti dan bersama kakaknya membangun warung bakso Aneka Rasa. Awalnya hanya kontrak kini sudah memiliki tempat usaha sendiri bersama dengan sang kakak dengan penghasilan kotor bisa sampai Rp8 juta perhari dan mampu mempekerjakan kurang lebih 10 karyawan .

“Pernah kasih anak Papua gabung kerja, tapi dia keluar sendiri kadang datang kadang tidak. Tapi selama usaha disini masyarakat Papua sangat baik, mereka ramah terhadap kami,” katanya.

Tempat usaha milik Andi

 

Melihat peluang di Papua kebutuhan akan pinang tidak pernah berhenti, Arnia yang merupakan wanita asal Buton menjual pinang sudah 15 tahun.

Karena potensi pinang yang begitu menggiurkan, sang suami juga memilih berhenti bekerja sebagai tukang ojek dan bersama Arnia berjualan pinang.

“Dulu saya meskipun perempuan, saya juga pernah ojek. Sekarang jualan pinang, Alhamdullilah penghasilan bersih bisa 3 jutaan perbulan, bisa makan buat rumah dan sekolahkan anak,” ungkapnya.
(Bersambung ke Kota Bisnis Menjadi Tujuan).

reporter : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.