Kisah Heroik Dua Nakes di Sorong Bantu Ibu Melahirkan Anak ke-10 di Mobil

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Saat Bidan Imelda menolong persalinan di atas mobil Hilux (Kiri) dan Suster Ida saat menunjukan Bayi perempuan yang baru lahir (Kanan)
Saat Bidan Imelda menolong persalinan di atas mobil Hilux (Kiri) dan Suster Ida saat menunjukan Bayi perempuan yang baru lahir (Kanan)

BIDAN Imelda Popy Yandeday, S. Tr. Keb dan Perawat, Antonela Ida Baru, S.Kep akhir-akhir ini menjadi perbincangan di dunia maya karena aksi heroik dua tenaga kesehatan (Nakes) ini berjuang membantu seorang ibu O (Inisial) hingga melahirkan anaknya sehat dan selamat.

Kepada Seputarpapua.com, Bidan Imelda bercerita, ibu hamil tersebut tinggal di Distrik Bamusbama, Tambrauw, Papua Barat.

Ibu tersebut berusia 37 tahun dengan umur kehamilan 30 minggu. Anak yang akan dilahirkan saat itu adalah anak ke 10.

Imelda mengatakan menurut informasi dari pihak Pustu tempat tinggal ibu O bahwa ibu yang hendak melahirkan itu belum pernah melakukan kontak di Puskesmas.

“Jadi waktu tanggal 30 Agustus 2021 itu ibu ini sudah rasa ingin bersalin namun proses awal persalinan itu mereka sendiri atau keluarga yang awasi. Dimana tanggal 30 jam 3 subuh ketubannya pecah namun mereka belum panggil bidan yang bertugas di Distrik Bamusbama,” kata Imelda.

“Nanti sudah sekitar jam 6 pagi baru mereka panggil bidan yang ada di lokasi kemudian datang dan melakukan pemeriksaan,” lanjutnya.

Pemeriksaan dilakukan oleh bidan Pustu namun tidak ada kemajuan sehingga bidan tersebut menghubungi Rumah Sakit Pratama Fef Kabupaten Tambrauw.

Karena bidan dari Pustu menghubungi rumah sakit pratama yang merupakan tempat kerja dari Bidan Imelda dan Suster Ida, bahwa pasien akan dibawa oleh keluarga ke rumah sakit pratama sehingga tenaga kesehatan semua sudah _stand by_ untuk menunggu.

Namun, karena pihak rumah sakit mendapat informasi lagi bahwa di Bamusbama mereka kesulitan transportasi, akhirnya dari rumah sakit pratama menindaklanjuti informasi itu dan berinisiatif untuk turun langsung ke Bamusbama yang jarak tempuh sekitar 1 jam lebih.

“Kami dari sini siapkan dengan peralatan dan obat obatan langsung menuju ke lokasi,” ujarnya.

Tiba di Bamusbama, secara medis pihaknya sudah melakukan tindakan induksi karena air ketubannya pecah dari pukil 03.00 WIT dini hari sampai pukul 10.00 WIT pagi, namun proses persalinan atau pembukaan tidak terlihat atau tidak maju.

Setelah bidan Imelda dan rekannya melakukan evaluasi mulai pukul 10.00 WIT hingga pukul 12.30 WIT lagi, akhirnya diputuskan untuk merujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sele Be Solu Kota Sorong untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut dengan fasilitas yang lebih memadai.

“Karena ada pertimbangan secara medis, tindakan awal, pertolongan pertama semua sudah dilakukan, memberikan obat, membantu agar bisa kontraksi semua sudah kami lakukan, namun tidak ada kontraksi sementara ketubannya sudah pecah sehingga kami dan keluarga memutuskan merujuk untuk lebih baik perawatannya, selain itu ibu juga dalam keadaan Hemoglobin (HB) rendah atau anemia, sehingga harus dapat perawatan lebih bagus dan lengkap bisa langsung konsultasi dengan dokter kandungan,” jelasnya.

Akhirnya Imelda dan rekannya suster Ida bersama perwakilan keluarga menggunakan mobil Hilux yang merupakan sewaan dari rumah sakit pratama membawa ibu yang hendak melahirkan tersebut menuju ke RSUD di Kota Sorong.

Wanita single berusia 28 tahun tersebut menceritakan perjalanan dari Kampung Bamusbama menuju Kota Sorong cukup jauh. Biasanya harus menempuh 4 jam perjalananan.

Cuacanya saat itu sempat dalam perjalanan mereka mendapat hujan namun hujan hanya di lokasi tertentu sehingga beberapa lokasi jalan agak berlumpur.

Karena mereka membawa pasien, sehingga terpaksa kecepatan laju kendaraan yang digunakan harus dikurangi ditambah lagi kondisi jalan yang rusak.

Saat baru sampai di Pintu Angin Jalan Malaumkarta, Kabupaten Sorong sekitar pukul 16.20 WIT ibu hamil sudah mulai merasakan kontraksi dan hendak melahirkan.

“Sampai di Pintu Angin kami langsung menepi ke pinggir jalan di dalam mobil saya lakukan pertolongan persalinan akhirnya bayinya lahir, berjenis kelamin perempuan sehat dengan berat 2.400 gram, panjang 50 Centi, sehat sekali,” katanya.

Imelda menjelaskan setelah ia menolong ibu melahirkan, ia langsung menyerahkan bayi ke suster Ida untuk melakukan perawatan terhadap bayi yang baru lahir tersebut.

Diceritakan semua prosesnya dilakukan didalam mobil berjenis Hilux itu. Termasuk memotong tali pusar usai persalinan.

Kemudian dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) atau ASI pertama dari sang ibu kepada bayi, kemudian ldilanjutkan dengan perawatan bayi oleh Suster Ida dan Bidan Imelda lanjut dengan mengeluarkan placenta.

“Jadi setelah pertolongan persalinan di Malaumkarta, lalu placentanya sudah lahir kami observasi 15 menit kemudian kami langsung lanjutkan perjalanan dua jam menuju ke rumah sakit kota dalam perjalanan kami terus melakukan observasi sebagai data dan dokumentasi dari kami petugas yang menolong,” katanya.

Setelah perjalanan selama 2 jam akhirnya sekitar pukul 18.30 WIT mereka tiba di RSUD Sele Be Solu Kota Sorong.

Tiba di rumah sakit, pihak RSUD langsung melakukan pemeriksaan kemudian dikonsultasikan dengan dokter spesialis kandungan untuk dilakukan tindakan lanjut.

Imelda yang merupakan lulusan dari Politeknik Kemenkes Sorong lulusan 2012 ini mengaku ia sempat merasa khawatir, namun kekhawatiran tersebut bisa terbantahkan dengan pengalamannya yang pernah bekerja di pedalaman sehingga ia berusaha untuk tidak terlalu khawatir.

“Yang ada didalam pikiran kami saat itu, tidak boleh panik dan harus bisa selamatkan ibu dan bayi,” katanya.

Bidan Imelda yang merupakan seorang CPNS di Kabupaten Tambrauw ini sudah 8 tahun bekerja sebagai seorang bidan.

Ia mengaku kasus persalinan yang ditangani kali itu adalah pengalaman pertama.

“Selama ini memang ada kasus seperti ini namun bersalinnya tidak didalam mobil biasanya saat saya mau merujuk ke kota tiba sebelum rujuk sudah lahir. Tapi kalau persalinan di dalam mobil ini pengalaman pertama,” ujarnya.

*Bidan Imelda dan Suster Ida Diberi Kepercayaan Memberikan Nama Bayi*

Bidan Imelda mengatakan menjadi sebuah kehormatan sebab ibu yang dibantu meminta untuk ia dan suster Ida yang memberikan nama untuk anaknya.

Sehingga mereka memberikan nama ‘Pratama Jubeline Melda Yesyan’.

Dimana Pratama adalah nama rumah sakit Pratama Fef, Jubeline adalah nama pemilik mobil hilux yang digunakan saat merujuk, Melda adalah gabungan antara nama Bidan Imelda dan suster Ida.

Sebagai Bidan, ia berharap semoga kedepannya bayi dan ibu selalu sehat, bertumbuh dan berguna bagi keluarga dan masyarakat, menjadi penerus yang membanggakan.

“Karena dari 9 saudaranya dia saja yang perempuan. Jadi memang harapan juga kalau Tuhan berkehendak mungkin bisa jadi dokter kandungan,” katanya.

Ia pun merasa bangga menjadi seorang Bidan sebab bisa menjadi berkat untuk orang lain.

“Saya bangga menjadi seorang Bidan karena bisa menjadi berkat dan penolong bagi orang lain. Dan saya tidak terlalu khawatir karena saya sebelum melakukan dan selama melakukan tindakan selalu saya berdoa di dalam hati sampe selesai. Dan Yakin pasti Tuhan akan tolong,” pungkasnya.

Reporter: Kristin Rejang
Editor: Mish

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berita Terkait
Video Seputar Papua TV Terbaru
1/10 videos
Tiga Prajurit Tewas Diserang KKB, Jenderal Andika Terbang ke Papua
Tiga Prajurit Tewas Diserang KKB, Jenderal Andika Terbang ke Papua
Buntut Temuan Mayat, Warga Palang Perempatan SP 1  SP 4
Buntut Temuan Mayat, Warga Palang Perempatan SP 1 SP 4
Warga Temukan Mayat dalam Galian Kabel Optik di Timika
Warga Temukan Mayat dalam Galian Kabel Optik di Timika
Dua Tahun YPMAK  Benih Kecil Tumbuh Jadi Pohon Rimbun dan Berbuah
Dua Tahun YPMAK Benih Kecil Tumbuh Jadi Pohon Rimbun dan Berbuah
Mop Papua dan Karya Lainnya Harus Daftar Hak Cipta, Harus Bergerak Lebih Cepat
Mop Papua dan Karya Lainnya Harus Daftar Hak Cipta, Harus Bergerak Lebih Cepat
Buaya 7 Meter Ditangkap Warga dan Tim SAR usai Terkam Seorang Pria
Buaya 7 Meter Ditangkap Warga dan Tim SAR usai Terkam Seorang Pria
Pria di Timika Dikabarkan Diterkam Buaya, Tim SAR Lakukan Pencarian
Pria di Timika Dikabarkan Diterkam Buaya, Tim SAR Lakukan Pencarian
Jasad Perempuan Tanpa Busana Ditemukan di Bawah Jembatan di Jayapura
Jasad Perempuan Tanpa Busana Ditemukan di Bawah Jembatan di Jayapura
Satpam Palang Pasar Sentral Timika Buntut Pemberhentian Hononer
Satpam Palang Pasar Sentral Timika Buntut Pemberhentian Hononer
Pelajar SMK di Timika Curi Uang Rp40 Juta Beli Sepeda Motor dan Traktir Teman
Pelajar SMK di Timika Curi Uang Rp40 Juta Beli Sepeda Motor dan Traktir Teman
Baca Juga