Kisah Lagu ‘Ani Gobay Mukamu Manis’ Kini Viral, ada Cerita Cinta dan Misteri Nama Penciptanya

Nimrot Msen (Baju hitam) bersama dengan tiga rekan dalam grup musik Nemangkawi Rainbow (Foto: Ist For Seputarpapua)
Nimrot Msen (Baju hitam) bersama dengan tiga rekan dalam grup musik Nemangkawi Rainbow (Foto: Ist For Seputarpapua)

‘Mukamu manis seperti gula, lemon, kecap, frutang, sirup ABC salam kangen’ begitu lirik lagu yang sedang ramai digunakan di aplikasi Tiktok.

Lagu yang berjudul Ani Gobay, Mukamu manis ini tengah viral di jagad maya. Bahkan artis Indonesia seperti Nikita Mirzani, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga ikut meramaikan dan menggunakan lagu tersebut di akun tiktok mereka

Lagu ini terbungkus dengan berbagai nostalgia, sebelum pecah di jagad maya saat ini, lagu ini populer berkat grup musik Nemangkawi Rainbow.

Grup musik ini ditunggangi oleh Nimrot Msen, Theney Awom, Bobi Rejauw, dan Kevin Suruan.

Tanggal 24 November 2021, grup ini mengcover lagu Ani Gobay kemudian diupload di youtube yang kemudian menjadi viral hingga kini. Video klipnya dibuat di Timika sebab empat anggota grup musik Nemangkawi Rainbow tersebut merupakan karyawan Freeport yang menetap di Timika.

“Kepada Ani Gobay, Dengan alamat SMP Negeri 2 Mimika, Salam Kangen.
Kaka cinta ko seperti paku melekat di dinding, kaka sayang ko seperti daun kelapa melambai. Muka mu manis seperti gula, lemon, kecap, frutang, juga sirup ABC salam kangen,”.

Begitu lirik didalam lagu yang dibawakan oleh empat pemuda asli Papua tersebut. Bahkan sejak lagu tersebut populer, terlihat beberapa musisi luar Papua juga mulai ikut mengcover lagu tersebut.

Lagu tersebut membangkitkan kembali kenangan anak-anak sekolah tahun 2000-an di Nabire, Mimika maupun Jayapura.

Salah satu anggota grup musik Nemangkawi Rainbow, Nimrot Msen menjelaskan menurut cerita lagu ini sebenarnya asal mulanya dari Nabire.

Lagu tersebut diciptakan oleh seorang guru berdarah Serui yang bertugas di Enarotali, Kabupaten Paniai.

Guru tersebut membuat lagu karena ada kisah cinta dua orang siswa asli Paniai. Dimana sang pria jatuh cinta dengan wanitanya namun bingung untuk mengungkapkan.

“Tapi karena dia tinggal dengan Pak guru ini, jadi pemuda ini curhat ke Pak guru bahwa dia sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang merupakan teman sekolahnya, akhirnya dia minta tolong Pak Huru tersebut membuat kata khiasan yang ditulis di dalam surat,” kata Nimrot kepada Seputarpapua.com, Sabtu (20/8/2022).

Akhirnya sang guru menuliskan surat tersebut hingga tersirat kalimat Mukamu manis seperti gula, lemon, kecap, dan sirup ABC namun dalam surat tersebut tanpa ada kalimat Frutang sebab itu hanya tambahan saat lagu tersebut terkenal di Timika.

“Dia buat kata-kata khiasan itu karena tahun 1980 -1990 itu kan Gula, Kecap, lemon sirup ABC ini bahan makanan langka dan mahal serta sulit untuk didapatkan sehingga ia mengibaratkan sang wanita seperti bahan makanan dan minuman tersebut,” katanya.

Dari surat tersebut akhirnya lahirlah lagu yang kini terkenal yang diciptakan oleh pak guru di Enarotali.

“Orang tidak tau siapa penciptanya sampai sekarang, jujur saja kami juga tidak tau karena saya juga dari Jayapura datang kemari karena kerja di sini, tidak tau penciptanya siapa tapi ceritanya kami tau, jadi lagu ini tercipta berawal dari surat cinta. Cuman dulu betapa susahnya orang mau terkenal membuat lagu tidak sama seperti sekarang, dulu dunia recording itu kita harus masuk studio, pakai kaset pita buat video clip dan lainnya,” ungkapnya.

Untuk itu, Nimrot bersama tiga temannya sepakat untuk mengangkat kembali lagu tersebut, mengingat saat ini beberapa karya musik lokal Papua dengan lirik puisi sepertinya sudah jarang dan dibuat juga masih belum sempurna.

“Lagu ini saya bilang lucu juga, kita nyanyi sekarang siapa tau bisa orang pakai untuk goyang-goyang di tiktok kah,” kata Nimrot.

Lagu ini juga dipilih sebab dahulu awal lagu ini lahir di Nabire kemudian terkenal di Timika lalu anak-anak dari Nabire dan Mimika yang berkuliah di Jayapura ikut menyanyikan lagu tersebut dan akhirnya menjadi terkenal di Jayapura juga.

“Dulu sekitar tahun 2004-2006 lagu ini terkenal sekali dan waktu saya kuliah, di Jayapura kami juga sering nyanyi lagu ini untuk antar maskawin. Kami jadikan lagu ini seperti kalau main bola itu dia pemain inti, jadi terakhir baru dinyanyikan, jadi tuan rumah itu bisa tertawa sekali sampai terhibur dengan lagu ini, karena dia punya kata-kata gombal tadi itu “mukamu manis seperti gula, lemon, kecap, itu yang buat orang terhibur,” jelasnya.

Sayangnya tahun 2009, 2013-2014 lagu tersebut mulai hilang. Untuk itu Nimrot bersama teman-temannya ingin mengembalikan nostalgia anak-anak yang pernah merasakan pernah mendengar lagu tersebut.

Dengan mengcover lagu tersebut tentunya banyak harapan yang ingin disampaikan, khususnya perkembangan di dunia musik lokal Papua. Nimrot berharap anak muda sekarang yang sedang berkarir dalam dunia musik lokal Papua bisa menyanyi dan menciptakan lagu setidaknya 60-70 persen berisi nilai budaya Papua.

Selain itu bisa menampilkan Budaya Papua dalam setiap album yang dirilis, entah video klipnya dan lainnya.

“Sekarang orang bilang kita menjaga nilai-nilai budaya kita misalnya jangan tiru budaya luar, kalau bagi saya tidak menjadi masalah silahkan kita kolaborasi dengan budaya luar tapi kita harus bisa ada perpaduan dengan konsep Papua. Kemudian dialeg Papua yang menurut kami, juga perlu untuk digunakan,” pungkasnya.

 

reporter : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.