Kisah Pasutri Asal Jabar, Tiap Tahun Naik Pesawat ke Timika Hanya untuk Jual Bendera Merah Putih

Bendera yang dijual Lilis dan suaminya di Samping SPBU Jalan Yos Sudarso, Jumat (22/7/2022). (Foto: Kristin Rejang)
Bendera yang dijual Lilis dan suaminya di Samping SPBU Jalan Yos Sudarso, Jumat (22/7/2022). (Foto: Kristin Rejang)

TIMIKA | Momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahun dimanfaatkan pasangan suami istri (Pasutri) untuk mengais rezeki di Timika, Papua Tengah.

Pasutri ini adalah Dadang (42) dan Lilis (37) asal Provinsi Jawa Barat.

Keduanya setiap tahun harus rela naik pesawat ke Timika untuk berjualan bendera merah putih, dan bendera umbul-umbul berbagai jenis.

Tahun ini, Pasutri ini tiba di Timika tanggal 13 Juli 2022, dan mulai berjualan bendera di pinggir jalan, samping SPBU Yos Sudarso.

“Setiap tahun biasa begini, kalau habis 17an kami kembali lagi ke Jawa,” kata Lilis ketika ditemui Seputarpapua.com, Jumat (22/7/2022).

Lilis bercerita, bejualan bendera sudah dilakoninya sejak tahun 2017. Hanya saja tahun 2020 dan 2021 mereka tidak bisa berjualan karena situasi Covid-19, dan persyaratan penerbangan yang rumit.

“Kami kesini cuma untuk 17an saja.
Kesini hanya jualan, sudah dua tahun kami tidak datang jualan karena pandemi, tapi Alhamdulillah tahun ini bisa lihat Timika lagi, dua tahun lalu kami jualan di depan SMAN 1,” ujar Lilis.

Lilis mengaku nekat bersama suaminya berjualan di Timika karena penjual bendera di Jawa sangat banyak. Disamping itu, harga jual di Timika tentu lebih tinggi dibandingkan berjualan di Jawa.

“Kalau disini (Timika-red) bisa dapat untung lumayanlah, biasa umbul-umbul di Jawa Rp30 ribu disini kita bisa jual Rp60-65 ribu,” tutur Lilis.

Menurut Lilis, dia bekerjasama dengan keluarganya di Sorong, Papua Barat, untuk berjualan. Sehingga untuk tiket mereka tanggung sendiri hingga ke Sorong.

Sedangkan untuk tiket ke Timika, ditanggung oleh keluarganya.

Hasil penjualan kemudian disetor ke keluarganya, dan nantinya akan ada persen untuk Lilis dan suaminya.

Di Timika, Lilis mengaku dibantu rekan-rekan satu suku.

“Kalau tinggal kami di kontrakan, jadi sewa kontrakan satu bulan, lalu nanti kalau sudah babis jualan langsung balik lagi ke Jawa,” tutur Lilis.

Lilis bilang, berjualan bendera sudah pernah dia lakukan bersama suaminya di NTT dan NTB, termasuk kota lainnya di Indonesia. Hal ini karena suami Lilis memang suka merantau.

Lilis harap, bendera yang dijual dapat segera terjual habis, karena hasil penjualan tersebut untuk bisa memasukan anaknya ke Pesantren untuk bersekolah.

“Di Papua khususnya Timika yang nyaman makanya kesini. Semua terima kami, orangnya ramah semua,” ujar Lilis.

*Harga jual bendera bervariatif*

Untuk harga jual bendera bervariatif, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp950 ribu.

Untuk harga Rp750 ribu – Rp950 ribu tentunya berukuran besar dan berbahan kain tebal.

Harga Rp5 ribu – Rp10 ribu bendera berukuran kecil yang biasa digunakan untuk dikendaraan roda dua maupun empat.

Sedangkan untuk harga umbul-umbul Rp60 ribu.

“Untungnya lumayan juga, sebagian untuk anak sekolah dan lainnya untuk modal usaha. Alhamdulillah,” ujar Lilis.

Lilis mengaku pembeli akan mulai ramai mulai 1 Agustus. Meski demikian sudah ada yang memesan bendera, seperti dari komunitas yang biasanya untuk dibagi-bagi ke masyarakat.

“Timika ini saya pikir nyaman sekali apalagi kalau tidak ada orang mabuk, karena kadang kami duduk jualan ada orang mabuk datang minta uang. Terus bulan Juli ini hujan terus, kadang bendera tidak laku sama sekali,” pungkasnya.

 

reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.