Kota Jayapura Raih Nilai Tertinggi Lomba Pesparawi XIII Kategori Solo Anak 7-9 Tahun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Triefa R Wondiwoy, peserta dari Kontingen Kota Jayapura yang meraih medali emas dengan nilai tertinggi menangis haru dan berpelukan dengan pianisnya. (Foto: Sevianto Pakiding/Seputarpapua)
Triefa R Wondiwoy, peserta dari Kontingen Kota Jayapura yang meraih medali emas dengan nilai tertinggi menangis haru dan berpelukan dengan pianisnya. (Foto: Sevianto Pakiding/Seputarpapua)

TIMIKA | Triefa R Wondiwoy, peserta Pesparawi XIII se-Tanah Papua Kontingen Kota Jayapura berhasil meraih medali emas dan mendapat nilai tertinggi 85,67 untuk kategori lomba solo anak usia 7 sampai 9 tahun.

Tampil sebagai peserta terakhir dengan nomor urut ke 28 ia berhasil memukau juri dengan suara merdunya diiringi Pianis Alvin di Gereja GKI Diaspora, Jalan Cenderawasih SP2, Timika,Ibu Kota Kabupaten Mimika, Senin (1/11/2021).

Tidak hanya menyanyi dengan suara yang merdu tapi penampilan busana dan ekspresinya juga memukau saat membawakan lagu wajib ‘Alam Indah’ ciptaan Budi S Yohanes dan lagu pilihan ‘Aku Mau Bernyanyi bagi Tuhan’, ciptaan Marlyotte.

Gadis manis yang duduk di kelas V SD Negeri Kota Raja dan bercita-cita jadi dokter ini tampak menyeka air matanya saat MC mengumumkan nilainya, yang juga terpampang langsung dalam layar monitor yang ada gedung gereja tersebut.

Ia langsung dipeluk sang pianis kemudian keduanya mengambil medali emas dan sertifikat.

Nilai tertinggi urutan kedua 85,22 dirai Kontingen Mimika oleh peserta Patricia Wesley Tousalwa yang tampil pada urutan ketiga dengan nomor peserta 12.

Patricia yang bersekolah di SD Avent Timika dan bercita-cita menjadi dokter ini berhasil memboyong medali emas.

Dalam perlombaan itu ia menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Yesus Senang Kita Bersaudara’, ciptaan L Agus Wahyudi diiringi Pianis Adelaide Simbolon.

Peraih medali emas selanjutnya Kontingen Asmat oleh peserta Juasthin Bartoh Demetouw yang tampil pada urutan pertama dengan nomor peserta 04 dan nilai yang diperolehnya 82,17.

Dalam lomba ini Juasthin membawakan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Aku mau bernyanyi bagi Tuhan’, ciptaan Marlyotte diiringi Pianis Andhika Dyaniswara.

Medali emas selanjutnya diraih Frizi R. Wairissal, peserta dengan urutan kesembilan dan nomor peserta 20 dari Kontingen Biak Numfor dengan nilai 80.78.

Gadis manis yang bercita-cita jadi dokter ini menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Aku Mau Bernyanyi bagi Tuhan’, ciptaan Marloyte diiringi Pianis Alvin.

Medali emas terakhir diraih oleh Angel R Ungirwali peserta nomor 17 dari Jayawijaya yang tampil pada urutan keenam denga total nilai 80,06.

Gadis manis yang duduk di Kelas 5 SD Negeri Wamena yang bercita-cita jadi dokter ini menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Doa Waktu Pagi’, ciptaan Meiyoritha D. Istia diiringi Piania Theresia Widia Ningsih.

Berikut medali perak diraih oleh peserta nomor 15 yang tampil pada urutan kelima, Chantika Yubelina Gloria Mambai dari Kontingem Keerom, dengan nilai yang dikumpulkan 77,95.

Pada kesempatan itu gadis manis yang bersekolah di SD Papua Kasih dan bercita-cita jadi Polwan ini menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Aku Mau Bernyanyi bagi Tuhan’, ciptaan Marlyotte diiringi Pianis Alvin.

Peraih medali perak selanjutnya peserta Yedija Elvinry dari Puncak dengan nomor peserta 24 yang tampil pada urutan ketujuh dan mengumpulkan nilai 77,78.

Pada lomba itu gadis cilik yang manis ini menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Doa Waktu Pagi’, ciptaan Meiyoritha D. Istia, diiringi Pianis Theresia Widia Ningsih.

Medali perak selanjutnya disabet oleh peserta nomor 16 urutan tampil keempat Yolanda Theresia Mundoni, dari Kontingen Waropen.

Gadis manis yang bersekolah di SD YPK Bethania dan bercita-cita jadi Polwan ini mengumpulkan nilai 77,05 dari lagu wajib dan lagu pilihan yang dinyanyikannya ‘Aku Mau Bernyanyi bagi Tuhan’ ciptaan Marlyotte, diiringi Pianis Joshua Christian Santoso.

Berikut medali perak diraih oleh Jeni Yuliance Pakei, peserta yang tampil urutan kedua dengan nomor peserta 07 dari Kontingen Deiyai.

Ia berhasil mengumpulkan nilai 76,33 dari lagu wajib dan lagu pilihan yang dinyanyikannya ‘Bersinar bagi Allah’, ciptaan Meyorita diiringi Pianis Emanuel Isak Iyai.

Medali perak terakhir disabet oleh Yunita Lies Princes Marani dari Kontingen Sarmi dengan nomor peserta 25 dan tampil pada urutan kelima.

Gadis yang duduk di SD Katolik Sato Antonius Sarmi yang bercita-cita menjdi polisi seperti ayahnya ini mengumpulkan nilai 75,84 setelah membawakan lagu wajib dan lagu pilihan ‘Aku Mau Bernyanyi bagi Tuhan’.

Semua peserta yang berlomba selain mendapatkan medali juga sertifikat dan miniatur patung Mbitoro ukiran Suku Asli Kamoro.

Sementara itu juri perlombaan, Linda Sitinjak, S. sn, M.sn ditemui wartawan setelah lomba mengatakan peserta sudah menyanyi dengan baik sesuai aturan-atura secara nasional.

“Karena kita ini menyanyi secara klasik anak-anak sudah berusaha tidak lagi menyalahi aturan tinggal mengeksekusi lagunya aja,” kata Linda.

Dosen S1 Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang mengajar mata kuliah mayor vokal, paduan suara dan kajian musik opera ini dari hasil penilaiam, kemampuan semua peserta sudah diatas rata-rata.

“Mungkin dari provinsi-provinsi lain ini yang tertinggi karena kita lihat produksi suaranya juga bagus, secara teknis yang perlu ditingkatkan mungkin ketebalan suara, power kalau sudah nyanyi di depan umum dia takut mengeluarkan suaranya jadinya tipis,” ujarnya.

Untuk masalah intonasi, lanjut Linda yang sudah 6 kali menjadi juara Bintang Radio Televisi ini, ketinggian atau kurang tinggi intonasi itu masalah mental.

Menurutnya bisa saja peserta grogi saat melihat banyak orang, mungkin juga kelelahan.

Ia menjelaskan kriteria penilaiannya yakni intonasi kemudian suara, ketepatan terhadap ketukan lagu dan penampilan dia secara keseluruhan.

“Bagaimana dia mengeksekusi semua,” pungkas Linda yang sudah berpengalaman menjadi juri Pesparawi dan Pesparani tingkat Nasional ini.

Turut menyaksikan perlombaan itu Ketua Panitia Pelaksana Pesparawi XIII se-Tanah Papua, Johannes Rettob, S.Sos, M.M, yang juga sebagai Wakil Bupati Mimika dan Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos. (Yosefina/Misba/PesparawiXIII)

Editor: Mish

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berita Terkait
Video Seputar Papua TV Terbaru
1/10 videos
Satpam Palang Pasar Sentral Timika Buntut Pemberhentian Hononer
Satpam Palang Pasar Sentral Timika Buntut Pemberhentian Hononer
Pelajar SMK di Timika Curi Uang Rp40 Juta Beli Sepeda Motor dan Traktir Teman
Pelajar SMK di Timika Curi Uang Rp40 Juta Beli Sepeda Motor dan Traktir Teman
Anak Muda Timika Jadi Pemakai dan Produsen Ganja Sintetis, Polisi Beri Atensi
Anak Muda Timika Jadi Pemakai dan Produsen Ganja Sintetis, Polisi Beri Atensi
Polisi Bongkar Pabrik Ganja Sintetis Milik Pemuda 19 Tahun
Polisi Bongkar Pabrik Ganja Sintetis Milik Pemuda 19 Tahun
Oknum Guru Ngaji di Timika Diduga Cabuli 5 Muridnya
Oknum Guru Ngaji di Timika Diduga Cabuli 5 Muridnya
Kasus Pencurian di Mimika Dominasi Tahun 2021
Kasus Pencurian di Mimika Dominasi Tahun 2021
Pemkab Mimika Gelar Ibadah Lepas Sambut Tahun 2021-Tahun Baru 2022
Pemkab Mimika Gelar Ibadah Lepas Sambut Tahun 2021-Tahun Baru 2022
Kaleidoskop Papua 2021   Rangkaian Peristiwa Sepanjang Tahun 2021 di Papua
Kaleidoskop Papua 2021 Rangkaian Peristiwa Sepanjang Tahun 2021 di Papua
Warga di Mimika Ikut Vaksinasi dapat Sepeda Motor
Warga di Mimika Ikut Vaksinasi dapat Sepeda Motor
Kepolisian Mimika Sita Ribuan Petasan dari Pedagang Eceran Tak Berizin
Kepolisian Mimika Sita Ribuan Petasan dari Pedagang Eceran Tak Berizin
Baca Juga