Larangan Berboncengan Dinilai Diskriminasi Warga yang Tak Bisa Berkendara

Ilustrasi
Ilustrasi

TIMIKA | Kebijakan larangan berboncengan baik kendaraan pribadi maupun ojek dinilai mendiskriminasi warga yang tidak dapat berkendara.

Pemerintah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua hari ini, Kamis (21/5) mulai menerapkan Pembatasan Sosial Diperluas dan Diperketat (PSDD) hingga 4 Juni 2020 mendatang.

Salah satu larangannya adalah, kendaraan roda dua baik pribadi maupun ojek tidak diperbolehkan untuk memboceng atau mengangkut penumpang.

Salah satu warga Mimika, Yandri mengatakan, kebijakan PSDD untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sangat baik. Warga hanya diperbolehkan beraktivitas dari jam 06.00 – 14.00 WIT.

Namun, mengatur hingga berboncengan dalam berkendaraan adalah tidak tepat.

“Ini jelas diskriminasi. Kami juga ada aktivitas. Okelah kita sesuaikan jam aktivitas sesuai waktu yang ditentukan. Tapi sekarang berboncengan juga dilarang, terus kami yang tidak bisa membawa kendaraan bagaimana,” ujar Yandri, Kamis.

Yandri menilai, larangan ini tidak melihat nilai-nilai keadilan bagi semua warga. Apalagi dalam beraktivitas ia sangat membutuhkan kendaraan sebagai sarana pendukung.

Hal senada disampaikan Welly. Wanita cantik yang bekerja di salah satu instansi kesehatan di Mimika ini mengatakan, sebagian besar tenaga medis apalagi perempuan tidak dapat membawa kendaraan. Biasanya mereka diantar oleh suami atau keluarga ke tempat kerja.

Namun dengan adanya larangan ini, tentu membuat dirinya menjadi kebingungan untuk pergi bertugas.

“Mungkin bisa disiapkan bus atau kendaraan khusus biar kami juga nyaman. Tidak harus memikirkan bagaimana cara ke tempat kerja sementara kami tidak tau bawa kendaraan,” tuturnya.

Salah satu tukang ojek, Virgo mengatakan, selama pandemi Covid-19 pendapatan tukang ojek turun drastis.

Ia mengaku hari ini tidak narik (mengojek) karena takut.

Disisi lain, hingga saat ini Ia belum menerima bantuan bahan pokok dari pemerintah daerah sebagai konsekuensi dari penerapan kebijakan PSDD.

Warga Jalan Serui Mekar RT 19, Kelurahan Otomona, Distrik Mimika Baru ini mengaku hanya membiayai hidup keluarganya dengan penghasilan seadanya.

“Alhamdulillah, masih ada warga yang pesan jasa antar. Atau jasa membuang sampah. Itu yang dipakai untuk biaya hidup meski tidak seberapa,” ungkap Virgo.

Ia berharap, pemerintah dapat memberikan kebijakan yang terbaik untuk semua warga meski semua pilihannya sama-sama sulit.

 

Reporter: Batt
Editor: Aditra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar