Marak Tindak Pencabulan, Orang Tua Diimbau Tak ‘Pamerkan’ Tubuh Anak Secara Berlebihan di Media Sosial

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Ilustrasi

TIMIKA | Sejak Agustus 2020 hingga Februari 2021, Polres Mimika, Provinsi Papua, mencatat sebanyak sembilan perkara kasus pencabulan yang ditangani secara hukum di Timika, Papua.

Kendati demikian, psikolog mengimbau para orang tua untuk melakukan pencegahan dini agar tindak pencabulan atau dalam istilah medis disebut pedofilia tidak menimpa anak.

Psikolog Klinis, Niken Nurmei Ditasari mengajak para orang tua untuk lebih bijak bermedia sosial terutama dalam mempublikasikan bagian tubuh anak secara berlebihan dalam mencegah tindak pedofilia terjadi di Timika.

“Sekarang itu banyak orang tua yang suka memposting gambar anaknya di media sosial, mungkin lebih disaring lagi. Sebaiknya tidak memposting foto anaknya yang sedang berpose apalagai yang terlihat seksi. Karena kita tidak tahu apa yang ada di pikiran si pelaku,” terang Niken, di Timika kepada Seputar Papua, Jumat (5/3/2021).

Dikatakan Niken, dalam beberapa kasus, pelaku pedofilia gemar mengumpulkan gambar bagian tubuh dari anak kecil. Sehingga kebijakan orang tua dituntut agar perilaku pedofilia bisa dicegah. Terlebih dalam beberapa kasus yang terjadi di Timika, pelaku merupakan orang terdekat dengan korban.

Selain itu, Niken juga mengimbau orang tua untuk mengontrol anak dalam menggunakan media sosial, khusus bagi anak yang diperbolehkan orang tuanya bermedia sosial.

“Sekarang kita lihat anak SD itu sudah punya medsos sendiri, di sini fungsi orang tua adalah tetap menjadi pengawas. Karena hasrat pelaku pedofil bisa juga dimulai dari melihat postingan si anak,” ungkap praktisi dan pengajar di Universitas Timika ini.

Niken juga menekankan pentingnya pendidikan seksual dini untuk anak. Menurutnya, bagi orang tua sangat penting mengenalkan kepada anak tentang bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain.

“Untuk anak-anak kecil, bisa kita latihkan misalnya, Ketika ada orang asing memaksa untuk menciumnya, kita bisa latihkan dia untuk segera berlari atau berteriak. Karena kita tidak tahu siapa yang paling berpotensi menjadi pelaku jadi kita bekali anak kita. Apalagi anak-anak yang beranjak remaja,” sebutnya.

Khususnya bagi yang muslim, dikatakan Niken, ketika anak sudah akil balik sebaiknya anak diajarkan untuk menutup auratnya. Niken juga berharap agar orang tua memperhatikan busana yang dipakai anak, terutama yang tidak terlalu menonjolkan bagian tubuh anak yang sensitif.

“Belilah pakaian yang ‘tidak mengundang’. Karena biasanya ada anak kecil sudah dibiasakan berpakaian seksi. Sehingga kita sebagai orang tua sebaiknya harus lebih bijak,” pungkas Niken.

 

Reporter: Yonri Revolt
Editor: Batt
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Berita Terkait
Baca Juga
Dapatkan Notifikasi ?    Ya Nanti