Masalah Pendulangan di Area Freeport, Arnold Kayame: Perlu Adanya Sinergitas Semua Pihak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
PAPARAN | VP Community Relations &, HAM PTFI Arnold Kayame saat memaparkan sosialisasi HAM bagi para pendulang kepada awak media. (Foto: Mujiono/Seputarpapua)
PAPARAN | VP Community Relations &, HAM PTFI Arnold Kayame saat memaparkan sosialisasi HAM bagi para pendulang kepada awak media. (Foto: Mujiono/Seputarpapua)

TIMIKA | PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama mitra kerjanya melakukan sosialisasi Hak Asasi Manusia (HAM) di area pendulangan.

Sosialisasi berlangsung selama 10 hari dimulai sejak 20 Agustus hingga 2 September 2021.

Sosialisasi ini sebagai bentuk kepedulian PTFI terhadap masyarakat yang melakukan pendulangan.

Terlebih di area pendulangan saat ini terdapat 1.174 ibu dan anak yang ikut mendulang sisa hasil tambang di area kerja PTFI.

Terkait hal tersebut, VP Community Relations &, HAM PTFI Arnold Kayame mengatakan, masalah pendulang ini perlu adanya sinergitas bersama antara PTFI, Pemkab Mimika, dan pihak lainnya.

Kata Arnold, Manajamen PTFI melalui Departemen CR & HAM PTFI, CLO PTFI, VLO, dan mitra kerja PTFI mulai melakukan sosialisasi HAM di area pendulangan, tepatnya Kalikabur.

Tema sosialisasi HAM sendiri terkait dengan keberadaan ibu dan anak di lokasi pendulangan mulai dari Mile Post (MP) 26 hingga MP 41.

“Sasaran sosialisasi adalah para pendulang beserta anggota keluarga. Sosialisasi ini sendiri dilakukan selama 10 hari, mulai 20 Agustus 2021 sampai 2 September 2021 nanti,” kata Arnold saat paparan di depan awak media, Jumat (27/8/2021).

Sosialisasi penting, mengingat data jumlah ibu-ibu dan anak-anak di wilayah pendulangan sangat banyak.

Data per bulan Juli 2021, total pendulang beserta keluarga (ibu dan anak) mencapai sekitar 5.726 orang.

Jumlah ini tersebar mulai ‘lowland’ (dataran rendah) sampai ‘highland’ (dataran tinggi).

“Dari 5.726 orang, jumlah ibu-ibu mencapai 590 orang atau 10,30 persen. Anak-anak mencapai 584 orang atau 10,19 persen,” kata Arnold.

Ia menjelaskan, anak-anak ini mulai usia balita hingga 12 tahun. Sehingga jumlah populasi ibu dan anak yang di lokasi pendulangan dan terlibat pendulangan sekitar 1.174 orang atau 20,49 persen.

Keberadaan ibu dan anak di lokasi pendulangan ini, tentunya menyiratkan permasalahan HAM tersendiri yang membutuhkan perhatian khusus.

Utamanya, menyangkut pemenuhan hak bagi anak-anak kelompok usia balita hingga remaja (di bawah 15 tahun).

Karenanya, para pendulang dan keluarga perlu mendapat informasi dan pengetahuan tentang aspek HAM terkait ibu dan anak.

“Oleh itu, Departemen CR & HAM serta CLO PTFI mengambil inisiatif untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi di ini,” ujar Arnold.

Materi sosialisasi sendiri mencakup beberapa aspek pertimbangan bahwa di area tanggul barat dan timur terdapat kegiatan operasional perusahaan, yaitu intensitas lalu-lalang kendaraan kecil, sedang, dan berat.

Tentunya sangat berisiko terhadap keselamatan warga yang memasuki atau berkegiatan di area operasi PTFI.

“Risiko yang dimaksud, seperti bahaya kecelakaan. Dimana bisa tertabrak kendaraan dan mungkin terkena lontaran batu atau kerikil saat kendaraan melintas,” kata Arnold.

Selain itu, adanya risiko yang sewaktu-waktu timbul atau terjadi dan membahayakan, seperti bahaya banjir, longsor, tenggelam atau hanyut, dan lainnya.

“Ditambah lagi, kondisi kualitas kehidupan dilokasi tidak layak bagi anggota keluarga, utamanya Ibu dan anak. Terutama dilihat dari segi kesehatan, pendidikan, dan kehidupan sosial lainnya,” ujar Arnold.

“Kondisi ini berbanding terbalik dengan kehidupan di kota yang tersedia semua fasilitas, seperti RSUD/Puskesmas/Klinik, sekolah, dan lainnya,” tambah Arnold.

Melihat hal tersebut, menurut Arnold, maka perlu diberikan suatu pemahaman melalui sosialisasi. Dengan tujuan area operasi perusahaan PTFI bebas dari anak-anak di bawah umur, termasuk ketiadaan pelibatan pekerja anak (anak-anak usia di bawah 15 tahun).

“Tentunya, perusahaan berharap kepada para pendulang bisa memastikan jaminan keselamatan, kesehatan dan pendidikan untuk anak. Dengan kata lain, untuk ibu dan anak bisa tinggal di rumah, di kampung atau kota. Karena kehidupan akan lebih baik untuk anak, apabila tinggal di rumah atau di kota dibandingkan di area pendulangan,” ungkapnya.

*Perlu Sinergitas*

Terlepas dari sosialisasi HAM, masalah pendulang di area PTFI memang sudah lama terjadi. Karenanya butuh sinergitas bersama, baik PTFI, Pemkab Mimika, dan semua pihak.

Adanya pendulangan ini karena faktor ekonomi, sehingga warga datang dan tinggal di daerah pendulangan.

Bukan hanya saja bapak-bapak yang melakukan pendulangan, tetapi juga ibu dan anak.

Padahal banyak potensi masalah yang dapat ditimbulkan di area pendulangan, baik masalah keamanan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Apalagi dengan adanya anak-anak di area pendulangan, maka potensi masalah yang dapat ditimbulkan cukup besar. Jika itu terjadi siapa yang akan bertanggung jawab.

Berbeda jika kecelakaan kerja terjadi terhadap karyawan, tentunya manajemen PTFI akan bertanggujawab.

Bahkan harus menghadapi pemeriksaan dari semua pihak terkait seperti Kepolisian, Komite Tehnik Tambang hingga Kementerian ESDM.

“Apalagi mereka (pendulang) statusnya bukan pekerja tapi berada di area perusahaan, siapa yang akan bertanggungjawab jika ada masalah yang terjadi,” ujar Arnold.

Menurut Arnold, sepanjang Kalikabur sebenarnya tidak boleh dilakukan pendulangan karena masih wilayah operasional PTFI dan merupakan Objek Vital Nasional.

Pihak manajemen PTFI tentunya akan terus memberikan pemahaman kepada para pendulang. Tapi tentunya manajemen PTFI tidak bisa melakukannya sendiri, dan perlu dukungan Pemkab Mimika.

“Dari perusahaan terus memberikan pemahaman-pemahaman terhadap kondisi yang ada. Ini karena, kalau membatasi susah, apalagi kawasan pertambangan ini cukup terbuka,” ujar Arnold.

*Ini Alasan Ibu dan Anak di Pendulangan*

Sementara Mitra PTFI, Asep mengatakan, sosialisasi HAM dilakukan secara humanis. Karenanya, pada saat sosialisasi lebih banyak dilakukan oleh petugas dari CR dan HAM yang perempuan.

Bahkan saat tim turun, anak-anak di area pendulangan ternyata memiliki cita-cita yang tinggi, seperti ingin menjadi dokter, polisi, maupun tentara.

“Ini menunjukkan bahwa anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, membutuhkan perhatian dalam pendidikan,” kata Asep.

Menurut Asep, alasan keberadaan ibu dan anak di area pendulangan ternyata diungkapkan bapak-bapak akibat dari pandemi Covid-19.

Bapak-bapak ini tidak ingin keluarganya terpapar Covid-19. Selain itu, sekolah masih dilakukan secara daring.

Alasan lain adalah, ibu-ibu ikut membantu suami menambah penghasilan. Dalam arti, di pendulangan itu ada kegiatan yang harus dikerjakan dua orang. Sehingga dengan adanya istri bisa membantu dan pendapatan akan bertambah.

“Alasan lain adalah, lebih hemat biaya hidup. Kalau di kota harus kontrak rumah. Sehingga biaya akan terpecah (biaya hidup di kota dan pendulangan). Tapi kalau sama-sama kan tidak begitu,” tutur Asep.

Namun demikian, kata Asep, yang perlu dipertimbangkan bapak-bapak jika membeli logistik di kota, tentu mereka akan meninggalkan istri dan anaknya di lokasi pendulangan.

“Ini yang harus dipertimbangkan bapak-bapak. Karenanya, dengan sosialisasi ini sifatnya mengajak agar lebih memperhatikan kondisi ibu dan anak,” pungkas Asep.

Reporter: Mujiono
Editor: Aditra
Berita Terkait
Video Seputar Papua TV Terbaru
1/10 videos
LIVE - PENGUKUHAN EXCO DAN PELANTIKAN PENGURUS ASKAB PSSI MIMIKA PERIODE 2019-2023
LIVE - PENGUKUHAN EXCO DAN PELANTIKAN PENGURUS ASKAB PSSI MIMIKA PERIODE 2019-2023
Tuntut Pertanggungjawaban, Warga Korban Kecelakaan Tutup Jalan Cenderawasih Timika
Tuntut Pertanggungjawaban, Warga Korban Kecelakaan Tutup Jalan Cenderawasih Timika
Jelang Peparnas, Papua Siap Jadi Tuan Rumah yang Baik
Jelang Peparnas, Papua Siap Jadi Tuan Rumah yang Baik
Sukseskan Peparnas XVI Papua 2021
Sukseskan Peparnas XVI Papua 2021
Ada Joker di Laga Estafet PON XX Papua
Ada Joker di Laga Estafet PON XX Papua
Wajah di Balik Kangpho dan Drawa PON XX
Wajah di Balik Kangpho dan Drawa PON XX
Pecahkan Rekor Berusia 21 Tahun, Atina Dulang Emas Lempar Lembing Putri PON XX Papua
Pecahkan Rekor Berusia 21 Tahun, Atina Dulang Emas Lempar Lembing Putri PON XX Papua
Meski Cedera, Alvin Tehupeiory Tambah Emas untuk Maluku dari  400 M Gawang Putri
Meski Cedera, Alvin Tehupeiory Tambah Emas untuk Maluku dari 400 M Gawang Putri
Kalahkan Bali, Tim Basket Putri Jatim Raih Medali Emas
Kalahkan Bali, Tim Basket Putri Jatim Raih Medali Emas
Odekta Elvina Naibaho, Persembahkan Medali Emas Terakhirnya di PON XX Papua
Odekta Elvina Naibaho, Persembahkan Medali Emas Terakhirnya di PON XX Papua
Baca Juga