Mencari Nahkoda Baru IKT Mimika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Ayub Pongrekun
Ayub Pongrekun

Ne’ Thomas dipercayakan beberapa kali menjadi ketua IKT. Ketua IKT diawali oleh Ne’ Thomas yang memiliki nama Thomas Muda Bato selama 2 periode, kemudian diganti Pak Petrus Tandi Tonggang, setelah itu Ne’ Thomas lagi, kemudian Pak Borong, kemudian Ne’ Thomas lagi, kemudian Pak Alex Padua. Saat Pak Alex Padua meninggal kemudian digantikan oleh Pak Marthen Paiding, kemudian untuk pertama kalinya IKT melakukan Musda I yang memilih Pak Yohanes Bassang, selanjutnya pada Musda II kembali mempercayakan Pak Yohanes Bassang.

Salah satu kerja-kerja panjang pengurus IKT bersama masyarakat Toraja kala itu, yang dirasakan dampaknya hari ini adalah upaya membangun Tongkonan bagi masyarakat Toraja yang ada di Timika. Lokasi bangunan Tongkonan saat ini adalah lokasi yang ke 3 dari upaya pencarian tempat. Lokasi pertama yang rencana dibangun adalah di dekat bundaran Petrosea SP 2, namun karena persoalan kepemilikan tanah, akhirnya dibatalkan. Kemudian lokasi ke 2 yang direncakan berada dekat SD Inpres Sempan. Lokasi ini tidak jadi karena berada dalam area sekolah. Lalu, akhirnya didapatlah lokasi sekarang yang dibeli dari salah satu anggota IKT, yaitu haji Kose. Saat itu, ketua panitia Pembangunan Tongkonan adalah Pak Yusuf Rombe. 

Persekutuan Keluarga sebagai Kekuatan

Persekutuan keluarga diawal-awal IKT terbentuk masih menggunakan nama arisan. Sekitar tahun 1995, jumlah arisan keluarga kurang lebih sekitar 10an arisan. Ne’ Thomas yang kala itu menjadi Ketua IKT tidak begitu setuju dengan adanya arisan-arisan keluarga dengan alasan bahwa hal itu akan menciptakan “kotak-kotak” dalam masyarakat Toraja. Ide Ne’ Thomas sejalan dengan pemikiran Pak Agus Biu kala itu. Ne’ Thomas mengusulkan untuk membentuk sistem wilayah, agar menjangkau dalam sub yang lebih kecil. Sistem wilayah ini berjalan diawal-awal, setiap ada kegiatan mama’ran mata (duka) dan Rambu’tuka (syukuran) orang-orang yang masuk dalam satu wilayah saling bantu membantu dalam melakukan pekerjaan. Namun, seiring dengan waktu fungsi dari wilayah semakin tidak berjalan, diganti dengan peran persekutuan keluarga. Sampai hari ini, Wilayah SP 2 yang masih cukup kompak dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan bersama saat ada acara.

Seiring dengan semakin banyaknya orang Toraja yang merantau ke Timika, ikut mempengaruhi semakin banyak lahirnya arisan-arisan keluarga karena kebutuhan untuk menjangkau dan saling membantu orang satu kampung yang ada di Timika.

Melihat semakin banyaknya arisan keluarga, Pak Markus Membala yang kala itu menjabat sebagai sekretaris IKT mengusulkan untuk menyeragamkan nama-nama arisan karena sangat variannya nama-nama yang ada. Sehingga dalam rapat IKT diputuskan untuk memberikan nama “Persekutuan Keluarga” pada semua arisan yang ada dalam lingkup IKT. Tercatat, sampai hari ini sekitar 40an persekutuan keluarga yang ada di Timika, dan kemungkinan bisa bertambah lagi.

Persekutuan Keluarga akhirnya menjadi media merangkul orang Toraja yang ada di Timika yang sangat efektif. Faktor kesamaan kampung menjadi pendekatan yang baik dalam mengajak orang Toraja untuk menjalin ‘Kasiturusan Sang Torayaan’ di Timika. Kemudian, Persekutuan Keluarga juga menjadi salah satu pendukung kegiatan IKT dalam hal dana. Dalam penyusunan kepanitian dan kepengurusan dalam IKT, juga ditopang dengan keterwakilan-keterwakilan dari tiap Persekutuan Keluarga, sehingga semakin beragam keterlibatan orang dalam IKT.

IKT dalam dimensi Sosial dan Politik

Keberadaan IKT sebagai organisasi sosial mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Jumlah anggota yang terus bertambah membuat IKT semakin berdinamis dan diperhitungkan dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Mimika.

Makin banyaknya anggota IKT, membuat banyak ruang-ruang aktifitas dan pekerjaan diisi oleh warga-warga Toraja. Ada yang berternak Babi, ada yang bekerja di perusahaan-perusahaan, ada yang bekerja di toko-toko, ada yang mengabdi sebagai PNS, ada yang honorer di kantor-kantor pemerintahan, ada yang menjadi Kontraktor, ada yang pekerja bangunan lepas, ada yang jadi aparat keamanan, ada yang jadi pemborong pekerjaan bangunan, ada yang bekerja dalam pertukangan dan ada yang mengembangkan peternakan ayam ‘saung’ dan banyak profesi lainnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Berita Terkait
Baca Juga