seputarpapua.com

Meneteskan Air Mata, Martina Natkime: Sa Pikir Sa Akan Mati di Timika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

TIMIKA | Mama Martina Natkime seorang perempuan Amungme yang terus berjuang agar masyarakat Kampung Banti 1, Banti 2 dan Opitawak bisa segera pulang ke kampung halamannya.

Saat menandatangani kesepakatan bersama tim gabungan yakni Pemda, TNI/Polri dan PT.Freeport Indonesia, Senin (14/12), Mama Martina meneteskan air mata dan memeluk Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob lalu berkata ,”Sa (Saya – red) pikir sa akan mati di Timika sini, tapi Tuhan kasih jalan saya harus pulang ke Kampung halaman,” tuturnya penuh haru.

Mama Martina bersama masyarakat tiga kampung sangat ingin kembali dan merayakan Natal di kampung halaman.

Mama Martina mengatakan dirinya meneteskan air mata karena mengingat perjuangan dan sudah sebanyak 21 warga dari tiga kampung tersebut yang menghembuskan nafas terakhirnya saat sedang mengungsi di T
imika.

“Saya sedih, saya punya orang kalau tinggal di kampung dorang bisa hidup, dorang tidak akan mati, tapi kenapa mereka turun disini baru mereka mati. Pikiran itu yang saya sedih dan saya menangis, Saya mau pulang ke kampung halaman saya jadi saya sedih.Itu yang tadi saya menangis,” ujarnya.

Ia menjelaskan warganya yang meninggal dunia karena sakit, merasa trauma, stres.

“Mereka tidak bisa hidup disini (Timika – red), tidak tau naik mobil, naik taksi itu kami tidak tau, disini semua makan, hidup itu dengan uang disini. Ada lagi mereka di kos-kosan disuruh keluar, lampu, air di cabut. Mereka susah. Akhirnya mereka maunya harus pulang,” katanya.

Dirinya mengatakan kerinduan untuk pulang dan tinggal serta hidup bahagia di Kampung halamannya.

“Saya mau bawa pulang saya punya masyarakat saya mau mati ka hidup ka itu di kampung saya tidak apa apa. Saya maunya sehat di kampung, di kampung kami tidak pernah sakit, daerahnya dingin, minum juga baik, kalau disini (Timika – red) kami sakit – sakitan, orang tua yang tidak pernah sakit dia bisa meninggal karena trauma dan pikiran,” ujarnya.

Berita Terkait
Baca Juga