Mengenal Nixon Mehue, Polisi Muda yang Bangga Kembangkan Pertanian Orang Papua

Briptu Nixon Mehue membantu petani binaan Polres Mimika memanen cabai. (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)
Briptu Nixon Mehue membantu petani binaan Polres Mimika memanen cabai. (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

Matahari pagi itu malu-malu menampakkan wajahnya, tetapi tangan-tangan terampil itu begitu lihai memetik satu demi satu cabai dari kebun green house milik petani di Kampung Mulia Kencana.

Percakapan begitu ramai di kebun cabai yang panen setiap hari Jumat. Ada bapak Jon, mama, dan dua anggota polisi yang membantu memanen cabai.

“Yang rusak itu petik juga baru buang keluar,” itu kata-kata yang terdengar darinya kepada petani di kebun, Jumat (24/6/2022).

Karena ditempatkan menjadi anggota bidang pembinaan masyarakat (Binmas) mengharuskan dia untuk bertemu dan bersosialisasi hampir setiap hari dengan masyarakat.

Dia adalah Briptu Nixon Mehue. Sejak menjadi anggota Binmas hampir dua tahun terakhir ini kesibukannya menjadi anggota polisi berbeda dari biasanya.

Mulai dari mengikuti program Pijar (polisi pi ajar) yaitu mengajar ke wilayah-wilayah pesisir dan pegunungan Mimika bahkan sampai ke kabupaten tetangga seperti Yahukimo, Intan Jaya, Pegunungan Bintang dan Ilaga.

Selain itu, polisi yang lahir di Sentani 29 tahun lalu ini juga aktif di program Kasuari (kesejahteraan untuk anak negeri), yaitu memberikan pelajaran tentang pertanian kepada masyarakat khususnya orang asli Papua.

“Sekarang di Binmas kita harus mengedepankan perasaan kita, buat pendekatan ke masyarakat sehingga masyarakat tidak takut polisi,” kata Nixon saat diwawancara di Jalan Cenderawasih Kota Timika, Sabtu (25/6/2022).

Untuk masuk ke tengah masyarakat bukan hal yang mudah, apalagi dengan pemikiran dan rasa takut masyarakat kepada polisi yang entah sejak kapan dirasakan.

Nixon dan timnya bahkan pernah diusir saat melakukan kegiatan Pijar.

“Dulu kita masuk di SP 7 kita buat Pijar dengan anak-anak Papua di gereja sempat, masyarakat sampai usir kita ada yang bawa batu dengan panah, sampai anaknya dipukul,” katanya mengenang awal-awal masuk ke tengah masyarakat.

Tetapi hal itu dimengerti, karena pemikiran masyarakat saat itu bahwa polisi ketika datang mungkin mau menangkap orang di wilayah itu. “Kita mulai rubah pola salah satunya dengan pertanian,” ucapnya.

Program pembinaan beternak dan bertani ini terus dilakukan. Pembinaan ini tidak dilakukan hanya  datang memberi bibit lalu masyarakat dibiarkan mengaturnya sendiri.

Tetapi Nixon menjadi salah satu polisi muda yang mengajarkan mulai dari menyiapkan bibit, menanam, merawat hingga membantu para petani untuk memanen hasil pertaniannya.

Dia bahkan juga ikut memasarkan hasil panen dari para petani yang sebagian besarnya ialah orang asli Papua itu.

“Kadang kita jual ke teman-teman polisi, kita posting di media sosial juga,” ungkapnya.

Beberapa petani di Kampung Mulia Kencana juga terlihat begitu dekat dengan polisi Nixon yang menyelesaikan pendidikan SD, SMP dan SMK di Sentani.

Kedekatannya tidak hanya sebagai polisi yang membina masyarakat, tetapi sudah seperti keluarga.

Semua itu dilakukan atas arahan dari mantan Kapolres Mimika AKBP Era Adhinata dan juga Kapolres Mimika saat ini AKBP I Gede Putra.

“Terpenting sekarang masyarakat kita bisa hidup mandiri. Saya senang dan saya bangga skali,” ungkapnya.

Saat ini petani-petani yang ia bina terbilang berhasil, belum sampai menjadi paling kaya tetapi sudah mampu membiayai kehidupannya sehari-hari.

Cita-cita menjadi polisi

Sejak kecil, Nixon memang bercita-cita menjadi polisi. Terinspirasi dari film film yang ia tonton, polisi identik dengan menangkap penjahat, menembak dan pekerjaan polisi pada umumnya.

Cita-cita itu mulai dia jajaki saat lulus dari SMK YPKP Sentani tahun 2012.

Ketika lulus sekolah waktu itu, Nixon langsung mengikuti tes namun gagal. Kegagalan pertamanya membuat dia semakin bersemangat untuk mencoba lagi.

Tetapi percobaan keduanya juga belum berhasil membawanya mendapatkan cita-citanya.

Kegagalan sesungguhnya ialah ketika kita tidak mencoba. Di tahun 2014, Nixon mencoba mengikuti seleksi kepolisian dan tahun itu dia berhasil menjadi polisi seperti yang dicita-citakan.

Tetapi saat dia berhasil menjadi polisi, kedua orang tuanya sudah tidak lagi bersamanya. Ibunya Anaci Felle meninggal dunia saat dia mengikuti tes pertama tahun 2012.

Sedangkan ayahnya Michael Mehue meninggal dunia saat dia sedang menjalani pendidikan polisi tahun 2014.

“Bapak dan mama mendukung sekali untuk saya jadi polisi,” kenangnya.

Saat menyelesaikan pendidikan, polisi yang kini bergelar sarjana hukum itu langsung ditempatkan untuk bertugas di Timika tahun 2015.

Selama ini polisi yang dikenal tidak merokok dan miras itu sudah bertugas di Satuan Sabhara, Satuan Polair, pernah menjadi anggota di Binmas Noken dan kini di Binmas Polres Mimika.

Bertugas di Sabhara dia melakukan pekerjaan seperti yang sering ia tonton di masa kecil, mulai melakukan patroli, pengamanan jika ada aksi massa hingga melakukan penindakan seperti menangkap orang pencuri.

“Sekarang di Binmas modalnya harus berani bicara dan yang utama itu harus pakai perasaan kalau mau dekat dengan masyarakat,” ucapnya.

 

Briptu Nixon bersama petani saat melihat kebun pisang cavendish di Kampung Mulia Kencana. (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

 

Menjadi Bhabinkamtibmas

Nixon juga ditugaskan menjadi Bhabinkamtibmas di Kampung Hangaitji, Distrik Mimika Baru.

“Bagian kiri Suku Moni, kanan Suku Damal yang kita tau mereka cukup keras,” katanya.

Arahan dan bimbingan dari komandan dan seniornya tentang cara masuk dan bersatu dengan masyarakat terus dia pakai.

“Kita polisi yang baru harus belajar dari polisi yang senior, seperti pak Lalu dan yang lainnya bagaimana mereka itu dikenal masyarakat baik,” tuturnya.

Tentu dia tidak langsung diterima. Salah satu cara yang dia buat ialah memastikan bahwa kehadirannya sebagai polisi untuk menjadi keluarga menjadi teman yang bisa memberikan rasa aman.

Dia menunjukkan bahwa kehadirannya di kampung itu ialah perpanjangan tangan dari Kapolres Mimika.

“Saya dulu ditolak digertak dengan panah, tapi saya belajar kenali dan hargai mereka punya tradisi disitu. Sampai sekarang kalau tidak datang mereka telpon,” ungkapnya.

Ketika telah diterima, Nixon mulai merubah pola pikir masyarakat termasuk anak-anak muda untuk bertani dengan mencontohkan petani-petani asli Papua yang sudah dibina.

“Anak-anak muda sekarang berlomba-lomba bikin kebun. Saya bilang kalian siapkan tempat nanti kita bawa bibit dan bantu kalian,” katanya.

Salah satu seniornya, Aiptu Lalu Hiskam Anady juga mengungkapkan keaktifan Nixon menjadi anggota Binmas yang begitu dekat dengan masyarakat.

“Dia itu satu-satunya yang masih muda dan orang asli Papua,” ungkap Kaka Lalu, sapaan akrabnya.

Sejak bertugas di Polair, Nixon kata dia memang dikenal baik dalam melakukan pendekatan ke masyarakat.

Bukan hanya setelah masuk Binmas, sebelumnya dia juga sudah aktif mengikuti program polisi pi ajar dan juga kegiatan pramuka.

“Orangnya memang cocok. Komunikasi ke masyarakat dapat, komunikasi ke tokoh atau orang yang lebih tua itu juga dapat,” ungkap Lalu.

reporter : Anya Fatma
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.