Nasib Pengayuh Roda Tiga di Timika, Setiap Hari Sepi Penumpang

La Tele sedang duduk di atas becak (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
La Tele sedang duduk di atas becak (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

Siang itu, Minggu 4 Desember 2022, aktivitas lalu lintas di dalam Kota Timika, Mimika, Papua Tengah, cukup lengang.

Di tengah kesibukan kendaraan yang melaju, tampak seorang pria tua tengah duduk di atas becak yang sudah mulai rusak.

Tatapannya seolah-olah sedang menghitung jumlah kendaraan yang sedang melaju di Jalan Yos Sudarso, Timika.

Pria itu memakai baju berwarna biru, dengan rambut putih yang tertutup topi, dan tak beralas kaki. Bahkan urat tangannya tampak terlihat ketika ia memegang handuk kecil di pundaknya untuk sesekali menyeka keringat.

Dia adalah La Tele. La Tele merupakan satu dari sekian orang yang mencari harapan dari hasil mengayuh becak di Timika.

“Eh iya, mau pakai (Becak-red) untuk angkat barang,?,” Begitu respon Pria berusia 60 tahun itu, ketika Seputarpapua.com mencoba menyapanya.

Sejak 20 tahun lalu, La Tele yang berasal dari suku Buton, Sulawesi Tenggara ini sudah menggeluti profesi pengayuh becak keliling.

Meski tiga anaknya sudah berkeluarga, ia tak ingin merepotkan anak-anak. “Yah saya usaha saja, rejeki nanti biar Allah yang atur, seandainya kalau saya banyak uang mungkin anak saya juga bisa sarjana semua,” ungkapnya.

Tak hanya di Timika, ia juga sempat menghabiskan waktu dua tahun di Kaimana, Papua Barat, dengan profesi yang sama.

“Di Timika dulu ramai sekali orang gunakan becak, sekarang lebih banyak orang pakai ojek, tapi kalau di Kaimana sampai sekarang masih banyak orang suka naik becak,” ungkapnya.

 

 

Sebelum ke Kaimana, La Tele sudah menggeluti becak di Timika, lalu memilih untuk ke Kaimana.

Sampai di Kaimana, ia mengaku sulit untuk meninggalkan Timika akhirnya kembali lagi ke Timika.

Sayangnya, ketika ke Timika, becak sudah tidak lagi menjanjikan.

“Sudah disini yah apa mau dikata, harus semangat saja, saya sambilan kerja bangunan, karena saya bisa kerja bangunan,” ujarnya.

La Tele tak lagi memiliki becak, becak yang kini digunakan adalah becak sewaan. Ia menyewa dengan harga perharinya Rp10 ribu.

“Kemarin saya dapat Rp20 ribu, yah kalau begitu mau tidak mau Rp10 ribunya harus bayar sewaan,” katanya.

Di Timika, La Tele mengaku hanya tinggal sendirian, kadang ia mendapatkan rejeki lebih dari sewaan orang mengangkat barang menggunakan jasa becak.

“Uang itu saya sisihkan sedikit-sedikit untuk kebutuhan,” ujarnya.

Becak memang tak lagi diminati masyarakat Mimika, kecuali untuk mengangkut barang. Itupun beruntung jika ada yang memiliki langganan tetap bisa meraup Rp100-200 ribu perharinya.

“Jadi kalau ada yang panggil muat kayu, lemari, kulkas yang itu saja. Cuman dipangkalan becak kalau punya langganan tetap misalnya antar cakar bongkar. Memang hasilnya ada juga tapi kalau punya langganan tetap. Kalau dua kali pergi kan lumayan, kalau tidak yah hanya bisa parkir seperti saya tunggu rejeki,” ungkapnya sembari tersenyum.

Dari jasa angkat barang menggunakan becak, kadang La Tele bisa mendapatkan uang Rp30-40 ribu. Namun terkadang sepi.

“Sering 5 hari tidak dapat penumpang. Seperti hari ini sampai jam sebelas belum juga ada penumpang makanya saya duduk saja disini, merenung,” ujarnya.

Meskipun becak tidak lagi menjanjikan, namun La Tele mengatakan hanya profesi tersebut saat ini yang bisa ia kerjakan.

“Jujur saya tidak banyak berharap dari becak, meskipun sepi, saya tunggu-tunggu saja, tetap semangat cari penumpang, karena Allah kan sudah bilang pasti kasih rejeki, rejeki itu tidak tentu kapan datangnya, sama seperti maut,” kata La Tele.

Dengan usianya yang sudah lanjut, La Tele berencana akan pulang ke kampung halamannya di Buton. 

“Istri saya juga sudah tidak sama-sama dengan saya (cerai-red), saya sebatang kara, jadi saya mau kembali ke kampung halaman, coba cari kerja dan habiskan masa tua disana,” pungkasnya.

Dulu, memang becak masih disukai masyarakat, tak hanya kalangan orang dewasa, namun anak sekolah pun gemar naik becak bahkan sampai 3-4 orang naik dalam satu becak sembari bercanda riang.

“Waktu dulu kami SMP itu suka sekali pulang sekolah naik becak, biasa patungan bayar dengan teman-teman, rasanya senang sekali naik becak,” begitu kata Agatha mengenang kisah sekolah tahun 2005 lalu.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.