Obat Malaria Biru di Puskesmas Timika Hanya Diberikan untuk Ibu Hamil dan Anak-anak

Pengumuman yang dikeluarkan oleh pihak Puskesmas Timika
Pengumuman yang dikeluarkan oleh pihak Puskesmas Timika

TIMIKA | Obat dehidro artemisinin piperaquine (DHP) Frimal atau obat biru untuk menyembuhkan sakit malaria di Puskesmas Timika hanya diberikan kepada anak-anak lebih kurang 5 tahun dan wanita hamil.

Pihak Puskesmas memberikan informasi kepada masyarakat melalui pengumuman yang ditempel di Puskesmas Timika yang bertuliskan “Pengumuman, Diberitahukan kepada seluruh pengunjung Puskesmas Timika bahwa mengingat stok obat malaria biru terbatas maka pengobatan Malaria menggunakan obat Kina. Kecuali anak-anak < 5 tahun dan ibu hamil”.

Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung menjelaskan, pihaknya mengeluarkan informasi tersebut karena stok obat DHP di farmasi kabupaten mengalami kekosongan.

“Kemudian di provinsi juga kosong sedangkan di Puskesmas Timika sekarang stok tidak sampai 300 box, kami prediksi 2 minggu lagi baru mungkin bisa aman,” kata dr. Moses kepada Seputarpapua.com, melalui sambungan telfon, Kamis (18/8/2022).

Dijelaskan, 300 box obat DHP tersebut adalah cadangan yang memang selalu diperhitungkan oleh pihak farmasi Puskesmas Timika. 

“Rata-rata kunjungan per hari khusus malaria sekitar 60-70 kasus, memang selama ini stok kami bisa tangani semua tapi kerena mengalami keterbatasan sehingga tidak bisa semua diakomodir. Anggaplah satu kasus bisa 12 butir obat dan bisa saja 50-60 box habis dalam sehari, kalau 300 box kami berikan ke semua pasien, takutnya tidak mencukupi,” jelasnya.

Menurut dia, pihaknya memprioritaskan ibu hamil karena termasuk dalam kelompok yang berisiko jika terserang malaria, dan sangat berisiko jika minum obat kina.

“Begitupun dengan anak-anak, juga berisiko meminum obat kina sebab mereka akan muntah-muntah, apalagi mereka masih usia kecil, sehingga kami prioritaskan bagi ibu hamil dan anak-anak. Mau tidak mau kami ambil kebijakan ini,” kata dr. Moses.

dr.Moses mengemukakan, pihaknya sudah mengecek ke farmasi kabupaten dan ternyata disana obat DHP mengalami kekosongan.

“Memang sempat baru-baru ini ada yang sudah masuk, tapi itu hanya sekitar 3000 box saja dan itu sudah didistribusikan ke 23 puskesmas. Nah infonya dari provinsi nanti akan ada pengiriman dalam jumlah banyak itu dengan kapal, jadi mungkin pertengahan bulan ini sudah ada, sehingga teman-teman farmasi di Puskesmas  Timika harus cerdik mengatur logistik obat ini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, menurut Anggota Country Coordinating Mechanisms (CCM) Global Found dan Anggota Technical Working Group (TWG) Malaria Indonesia, dr. Enny Kenangalem saat ditemui di Hotel Horison Ultima Timika, Senin (8/7/2022) lalu menjelaskan obat DHP di Mimika sudah kembali normal tersedia.

“Sekarang sudah tersedia dan sudah didistribusikan ke semua puskesmas yang ada di Timika. Jadi kita aman sekarang di
Sudah normal seperti biasa lagi,” katanya.

Ini diperkuat dengan pernyataan Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johannes Rettob yang juga ketua Malaria Center Mimika, menjelaskan bahwa obat Malaria di Mimika sudah didatangkan dari Jakarta dengan jumlah yang cukup banyak.

Untuk itu, ia berharap dalam proses pengambilan obat dari faskes bisa tertata dengan baik.

“Karena ada laporan ke saya ada faskes yang sudah punya (obat dhp) tapi ada juga yang belum. Nah akhirnya pasien ini datang dimana-mana akhirnya dia ketemu ada yang ada obat biru ada yang tidak ada, sehingga saya berharap Dinkes bisa menangani ini dengan baik mendistribusikan dengan baik,” kata Wabup ketika di temui di Kampung Iwaka, Kamis (18/8/2022).

Ia juga berharap di Mimika, obat malaria tidak diperdagangkan sebab obat tersebut adalah obat program yang dibantu oleh pemerintah.

“Memang mungkin ada fakses yang beli sendiri, tetapi kalau yang diberikan oleh pemerintah itu harus secara cuma-cuma diberikan kepada masyarakat karena itu obat program. Rumah sakit atau fakses hanya menarik jasa dokter saja obat tidak boleh dibayar,” kata Johannes.

Ada pula keluhan bahwa di klinik tertentu banyak obat malaria, namun di Puskesmas malah belum didistribusikan obatnya.

“Saya juga kemarin dengar infornasi di faskes bahwa belum ada informasi dari Dinkes bahwa obat itu sudah ada, padahal obat itu sudah ada, sehingga saya berharap Dinkes bisa menyelesaikan situasi ini,” pungkasnya

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, Seputarpapua.com mencoba mengkonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengenai hal ini, namun belum memberikan tanggapan.

Tanggapi Berita ini
reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.