OPINI: Kenali Bahaya Penyakit Hipertensi

dr. Gio Vano B. K. Naihonam
dr. Gio Vano B. K. Naihonam

Oleh: dr. Gio Vano B. K. Naihonam

Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan global seluruh masyarakat penjuru dunia.

Berawal dari kondisi yang sering kali diabaikan sebagian besar orang yang merasa tidak memiliki keluhan, namun sesungguhnya menjadi sumber komplikasi kesehatan yang lebih fatal untuk organ vital seperti otak, jantung, ginjal maupun mata.

Hipertensi masih menjadi faktor risiko utama dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini.

Berangkat dari kondisi tersebut, hipertensi sering disebut sebagai ‘Si Pembunuh Senyap’ atau ‘The Silent Killer’. 

Kondisi ketika merasa tidak adanya keluhan pada orang yeng mengalami Hipertensi atau tekanan darah tinggi, menyebabkan penyakit ini sering terlambat untuk terdiagnosa maupun memulai pengobatan.

Biasanya Hipertensi terdeteksi pada saat skrining kesehatan berkala atau saat memeriksakan diri terkait penyakit lain.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Ini mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 sebesar 25,8%.

Diperkirakan hanya 1/3 kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis, sisanya tidak terdiagnosis.

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah seseorang terdeteksi > 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan yang berbeda saat pengukuran di klinik atau fasilitas layanan kesehatan dengan menggunakan alat ukur tekanan darah yang sudah tervalidasi dan pemeriksaan dilakukan pada kondisi istirahat.

Penyebab Hipertensi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu hipertensi primer (esensial) sebanyak 90-95% kasus merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, dan hipertensi sekunder (5-10%), yaitu tekanan darah tinggi disebabkan oleh penyebab yang mendasarinya antara lain berhubungan dengan tanda-tanda gangguan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar gondok (tiroid), dan penyakit kelenjar adrenal (sebuah kelenjar di atas ginjal yang bertugas menghasilkan hormon), serta konsumsi obat-obatan tertentu.

Sebagian besar kondisi tekanan darah tinggi tidak memiliki gejala yang spesifik. Gejala klinis baru dirasakan bila kondisi hipertensi telah memberat atau yang telah berkomplikasi.

Gejala yang dapat muncul antara lain sakit kepala atau pusing, rasa mudah lelah saat aktivitas, nyeri dada, gelisah, penglihatan buram, mimisan, bahkan penurunan kesadaran.                      
Faktor risiko terjadinya Hipertensi dibedakan menjadi dua faktor yaitu, yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

Konsumsi makanan asin atau tinggi garam (natrium), konsumsi makanan kemasan atau makanan cepat saji, kurangnya konsumsi buah dan sayur, pola hidup sedenter yaitu terlalu banyak duduk dan kurang berolah raga, obesitas, konsumsi alkohol, serta kebiasaan merokok merupkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Sedangkan usia lanjut dan riwayat hipertensi pada keluarga termasuk dalam faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

Pengobatan hipertensi bertujuan untuk mengendalikan tekanan darah sesuai target agar dapat memperpanjang harapan hidup serta mengurangi risiko komplikasi.

Pengobatan hipertensi dimulai dengan mengontrol faktor risiko yang dapat dimodifikasi disertai pemberian obat-obatan penurun tekanan darah.

Pada kasus hipertensi yang sudah mendapatkan obat penurun tekanan darah rutin dari dokter, diharapkan untuk selalu mengkonsumsi obat secara teratur dan berkala sekaligus memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas kesehatan, karena penggunaan obat penurun tekanan darah ini disesuaikan dengan usia dan kondisi, serta tingkat keparahan tekanan darah tinggi yang dialami dan tidak sama untuk setiap orang.

Tindakan pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan menerapakan pola hidup sehat yaitu, mengkonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang yaitu pola makan dengan meningkatkan konsumsi buah, sayur, dan konsumsi rendah lemak, membatasi konsumsi natrium, yaitu dianjurkan maksimal 1 sendok teh garam atau setara 5 gram garam dapur dalam sehari, menghindari konsumsi alcohol, tetap mempertahankan berat badan ideal, berhenti merokok dan membiasakan untuk beraktivitas fisik teratur, yaitu dengan berolahraga yang bersifat aerobik minimal 30 menit per hari dengan frekuensi 5x dalam seminggu. Serta memeriksakan kondisi kesehatan secara berkala ke fasilitias kesehatan terdekat.

Penulis adalah dokter umum di RS Ibnu Sina Jakarta.

Ditinjau oleh: Sevianto Pakiding

(Opini merupakan pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Seputar Papua. Keseluruhan tulisan/konten menjadi tanggungjawab penulis)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.