OPINI | Kepemimpinan Kepala Sekolah Multikultural

Oleh: Magdalena Noya, S.Pd. Guru SD Sekolah Asrama Taruna Papua (sejak Juli 2013 s/d sekarang) dan Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Manajemen Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih.

Indonesia memiliki keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya yang sangat beragam dari Sabang hingga Merauke. Salah satu contoh keragaman di Pulau Papua yang tercatat memiliki 255 suku dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Kabupaten Mimika sendiri memiliki dua suku asli yaitu suku Amungme dari wilayah pegunungan dan suku Mimika Wee (sebelumnya dikenal dengan sebutan suku Kamoro) dari wilayah pesisir, serta lima suku kerabat lainnya yaitu Moni, Dani, Nduga, Damal, dan Lani.

Keragaman suku di Mimika tidak hanya dua suku asli dan lima suku kerabat yang mendiami Kabupaten Mimika, namun ada beragam suku dari pulau-pulau lain di Indonesia, contohnya dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Timor, Sulawesi dan pulau lainnya dapat ditemukan di kota ini. Kondisi keragaman multikultural seperti contoh tersebut juga dapat ditemukan di berbagai daerah di tanah air kita tercinta.

Keragaman suku, agama, ras, dan budaya juga sangat berdampak ke dunia pendidikan. Sekolah sebagai wadah formal dalam struktur masyarakat sangat berperan penting untuk mengenalkan perbedaan dan mengajarkan rasa saling menghargai, sehingga dapat menghindari konflik dalam masyarakat yang multikultural. Pernyataan ini sependapat dengan Wiyanarti (2017) bahwa untuk menyelamatkan aset bangsa berupa keragaman budaya Indonesia dan mengangkat martabatnya di masa yang akan datang, tak ada pilihan lain bagi pemerintah kecuali memberikan prioritas pada perbaikan dunia pendidikan, tanpa harus mengorbankan identitas budaya bangsa baik secara nasional maupun lokal.

Kepala sekolah memiliki peranan sebagai ujung tombak dalam menciptakan lingkungan dan budaya multikultural. Tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (PermendikbudRistek) Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah, menyatakan bahwa yang dimaksud kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin pembelajaran dan mengelola Satuan Pendidikan yang meliputi Taman Kanak-kanak, Taman Kanak-kanak Luar Biasa, Sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah Menengah Atas Luar Biasa, atau Sekolah Indonesia di Luar Negeri. Oleh karena itu, kajian mengenai kepemimpinan sekolah berbasis pendidikan multikultural menjadi penting sebagai upaya merancang pedoman dan landasan bagi suksesnya peran kepemimpinan multikultural dalam lingkup sekolah khususnya dalam konteks Indonesia sebagai negara yang mempunyai keragaman budaya dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Sa’adah, 2018).

Setiap kepala sekolah tentunya memiliki permasalahan yang berbeda terkait multikultural di sekolah yang dipimpinnya. Hal ini disebabkan karena orang-orang di dalam sekolah yang dipimpinnya tentu berbeda latar belakang termasuk budayanya. Kepala sekolah perlu memiliki strategi dalam mengatasi perbedaan yang ada untuk menghindari terjadinya konflik, misalkan saja dalam memberikan pendapat setiap guru berhak memiliki pendapat yang berbeda, seringkali didapati juga ketika penyampaian dan respon yang berbeda terjadi perseturuan dikarenakan dari faktor latar suku dan budaya yang berbeda. Hal ini bisa menjadi konflik antar rekan kerja jika tidak disikapi dengan baik oleh pimpinan, sehingga pemimpin harus memahami perbedaan karakteristik bawahannya.

Kepala sekolah harus memberikan perhatian terhadap keragaman budaya yang ada di sekolah.  Kepala sekolah berada di garis terdepan dalam memberi komando agar setiap perencanaan yang telah disusun bersama tim kerja para pendidik dan tenaga kependidikan dapat berjalan sesuai tujuan. Indikator kepemimpinan kepala sekolah berbasis kecerdasan multikultural menurut Mataputun (2021) terdiri dari 4 komponen, antara lain; membangun sikap demokratis, membangun paradigma keragaman, membangun sikap anti diskriminasi, dan membangun sensitive gender antara laki-laki dan perempuan harus saling menghargai,

Menjadi pemimpin idaman yang memiliki rasa kepemimpinan multikultural sangatlah diinginkan, namun memerlukan banyak pengalaman dan pengetahuan untuk mewujudkannya. Pemimpin memiliki peran yang sangat penting untuk menentukan arah dan kemajuan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Gaya kepemimpinan multikultural di sekolah dari tingkat TK hingga SMA memiliki peranan yang sangat penting agar dapat memimpin sumber daya manusia multikultural yang ada tanpa  memandang perbedaan, namun menjadikan perbedaan tersebut menjadi keberagaman yang perlu dihormati.

Berikut ini terdapat beberapa solusi ideal yang dapat digunakan terkait fungsi kepemimpinan yang dapat dipraktikan di sekolah sesuai dengan kebutuhan maupun tantangan yang dihadapi agar sesuai dengan yang diharapkan menurut Nababan, dkk. (2021);

1.          Fungsi instruktif

       Fungsi instruktif menjadikan pemimpin sebagai penentu keputusan dan pemberi tugas kepada bawahannya agar dapat menjalankan perintah yang diamanahkan.

2.          Fungsi konsultatif

       Fungsi konsultatif bersifat dua arah, antara pemimpin dan bawahannya untuk mencari jalan terbaik agar tercapai tujuan yang terbaik.

3.          Fungsi partisipasi

       Fungsi partisipasi bertujuan pemimpin menggerakkan bawahannya untuk memberikan konstribusi dan berpartisipasi aktif.

4.          Fungsi delegasi

       Fungsi delegasi menjelaskan bahwa pemimpin untuk mendelegasikan kepada bawahannya sesuai dengan tugas dan kemampuan.

5.          Fungsi pengendalian, artinya pemimpin dengan tegas dan teliti dapat mengontrol aktivitas bawahannya menjadi efektif sesuai tujuan.

Kepemimpinan kepala sekolah multikultural hendaknya memiliki sifat jujur, peduli, kompeten, bertanggung jawab, dan berorientasi ke depan. Sehingga jika seorang pemimpin multikultural dapat mengayomi beragam perbedaan yang ada di sekolah niscaya akan dapat diterima atau disenangi oleh bawahannya sehingga terciptanya kerjasama yang saling bersinergi.

Ditinjau oleh: Irsul P. Aditra

(Opini adalah pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Seputar Papua. Keseluruhan konten menjadi tanggungjawab penulis)

Tanggapi Berita ini
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.