seputarpapua.com

Orang Tua Murid: Lakukan Investigasi dan Tutup Sementara Asrama Taruna Papua

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
ORASI | Adolfina Kum, aktivis dan juga orang tua murid di SATP berorasi tuntut penanganan kasus ini tuntas.
ORASI | Adolfina Kum, aktivis dan juga orang tua murid di SATP berorasi tuntut penanganan kasus ini tuntas

TIMIKA | Sejumlah orang tua murid dari Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) berunjuk rasa di Kantor Yayasan Pengembangan Amungme-Kamoro (YPMAK) di Jalan Yos Sudarso, Timika, Papua, Senin (15/3/2021).

Kedatangan mereka sekaligus menuntut empat hal kepada YPMAK menyusul terjadinya kasus pencabulan dan kekerasan terhadap 25 anak didik di SATP.

“Hentikan sementara waktu aktivitas di Asrama Taruna Papua dan segera cabut kerjasama antara YPMAK dengan Yayasan Lokon. Dan kembalikan pengelolaan sekolah ke YPMAK,” tegas salah satu orang tua murid, Adolfina Kum dalam orasinya sebelum tuntutan diserahkan ke Direktur YPMAK, Vebian Magal.

Berkaitan dengan pernyataan tersebut, dijelaskan Adolfina bahwa pengelolaan sekolah dalam hal ini guru, dapat mengambil tenaga dari luar. Sedangkan untuk tenaga pengawas dan pembina, sebaiknya menggunakan SDM lokal karena dinilai lebih memahami karakter para anak.

“Untuk pembina, ada banyak-banyak ini, mama-mama, bapak-bapak ini. Nanti kasih masuk dorang (mereka),” tegasnya.

Para orang tua juga menuntut YPMAK memfasilitasi adanya tim pencari fakta serta Lembaga Bantuan Hukum untuk menginvestigasi kasus ini karena terkesan ditutup-tutupi.

“Harus ada tim independen atau tim investigasi untuk kawal kasus ini dan kami akan koordinasi ke teman-teman di LBH Jayapura,” terang Adolfina.

Adolfina menilai kedatangan tim investigasi dirasakan sangat penting karena jumlah korban yang menurutnya ada 32 anak serta kejadian ini sudah sangat lama terjadi. Sehingga, menurutnya, kasus ini terkesan ditutup-tutupi dan diduga tersistem.

“Ketakutan kami ini, kenapa baru terungkap? Ini jangan-jangan tersistem ya ini, kalau mau dilihat. Jangan sampai keseluruhan anak itu kena, bukan hanya 32 anak. Ini kekuatiran kami,” sebutnya.

Berita Terkait
Baca Juga