seputarpapua.com

Pdt Lewi: Soal Miras Jangan Hanya Lihat ke Bawah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Ketua GKI Klasis Mimika, Pendeta Lewi Sawor. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Ketua GKI Klasis Mimika, Pendeta Lewi Sawor. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Minuman Keras (Miras) menjadi penyebab berbagai macam kejahatan dan persoalan di Papua, salah satunya kecelakaan dan perkelahian.

Kondisi ini mendapatkan perhatian serius dari Ketua GKI Klasis Mimika Pendeta Lewi Sawor yang melihat akhir-akhir ini berbagai kejadian terjadi di Papua, khususnya di Timika disebabkan Miras.

Bersama pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pihaknya pernah melakukan pendekatan ke tempat-tempat penjualan Miras.

Menurutnya, pada umumnya selalu masyarakat yang minum yang disalahkan, sementara mereka yang menjual, bahkan memberikan ijin tidak pernah disalahkan.

“Mau minuman lokal kah atau toko kah, tetap yang namanya miras yah tetap miras, dan dampaknya adalah memberikan ketidaknyamanan kepada masyarakat,” kata Pendeta Lewi kepada awak media, Rabu (24/3/2021).

“Peristiwa seperti di Pomako baru-baru ini, kemudian di SP 4 dan lainnya ini akibat miras, tapi selalu yang disalahkan orang yang minum, orang tidak akan minum kalau tidak ada tempat jual miras, masalah juga tidak akan ada,” lanjutnya.

Ia mengatakan persoalannya bukan siapa yang minum tapi siapa yang jual.

“Katanya setiap daerah, income terbesar adalah dari itu (minuman – red), kalau demikian kita mau buat apa. Jangan kita salahkan orang yang minum tapi salahkan siapa yang produksi, datangkan, jual, ijin keluar terus. Hari ini saya mau bilang Kitong (kita) stop baku tipu sudah kalau negara mau bunuh masyarakat dengan ijin miras ini ada, biar bunuh satu kali mati semua saja,” tegasnya.

Berbicara tentang Miras, kata Pendeta Lewi, tidak akan pernah selesai kalau masih ada yang pasok minuman tersebut.

“Jangan bicara soal SDM, bagaimana generasi muda, orang yang berpendidikan pun sama saja, kalau mau salahkan masyarakat kecil tidak bisa. Orang yang hidup di Papua bahkan pendatangpun lihat minuman mata menyala, kalau sudah minum banyak dan berlebihan tidak ada penguasaan diri, jadi mereka yang dengan bintang – bintang ini yang koreksi diri, Bertobatlah untuk yang punya jalur itu, jangan orang mati baru masyarakat kecil yang disalahkan. Sesungguhnya kamu yang pembunuhnya,” ucapnya.

Berita Terkait
Baca Juga