seputarpapua.com

Pembela HAM Bereaksi dan Surati Gubernur Atas Penembakan Guru di Puncak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
JENAZAH OKTOVIANUS - Jenazah guru Oktavianus Rayo dan guru Yonatan Renden saat tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Sabtu (10/4/2021).
JENAZAH OKTOVIANUS | Jenazah guru Oktavianus Rayo dan guru Yonatan Renden saat tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Sabtu (10/4/2021).

TIMIKA | Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Theo Hesegem menyebut penembakan dua orang guru di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua adalah tindakan keji dan tidak manusiawi.

“Saya sebagai pembela HAM sangat menyesal tindakan brutal yang diduga dilakukan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka),” kata Theo ketika menghubungi Seputarpapua, Minggu (11/4/2021).

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela Ham Sedunia) ini menegaskan, tidak ada untungnya mengorbankan tenaga pendidik yang sebetulnya tidak tahu menahu dengan masalah apa pun.

“Sebagai warga negara mereka juga punya hak hidup yang sama dengan kita, sebagai warga negara mereka juga punya hak hidup di seluruh Indonesia termasuk tanah Papua,” katanya.

Menurut Theo, guru yang masuk membawa misi kemanusiaan di bidang pendidikan punya andil besar bagi kemajuan sumber daya manusia Papua. Oleh karenanya, mereka tidak pantas menerima kenyataan tragis seperti ini.

“Mereka datang untuk membangun sumber daya manusia di tanah Papua, ko mereka ditembak. Menurut saya adanya guru maka kita bisa menjadi pintar dan menjadi orang-orang hebat di tanah ini, untuk membangun Papua,” tuturnya.

Menurut Theo, perlu ada tim gabungan yang melibatkan berbagai pihak untuk melakukan investigasi mendalam terhadap insiden penembakan dua orang guru tersebut.

“Menurut saya mereka harus diberikan kebebasan dan penghargaan karena mereka juga adalah bagian dari masyarakat sipil yang sama sekali tidak punya senjata dan tidak tahu masalah apa-apa,” ucapnya.

Berita Terkait
Baca Juga