Pembelian Petasan Ramai, Tapi Pedagang Mengeluh

BELI | Seorang warga saat membeli petasan di salah satu pedagang petasan dan kembang api di Timika, Papua. (Foto: Kristin Rejang/SP)
BELI | Seorang warga saat membeli petasan di salah satu pedagang petasan dan kembang api di Timika, Papua. (Foto: Kristin Rejang/SP)

TIMIKA | Suasana tahun baru kerap kali diwarnai dengan berbagai nyala kembang api dan hiruk pikuk suara petasan. Namun, ada yang berbeda di penghujung tahun 2020 khususnya di Kabupaten Mimika, Papua.

Biasanya, pada tahun – tahun sebelumnya kembang api dan petasan dibeli oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta, organisasi maupun keluarga dalam jumlah banyak dengan ukuran besar, namun kali ini menurun drastis. Kembang api dan petasan juga dibeli yang berukuran kecil.

Maria, salah satu agen penjualan Petasan di bilangan Yos Sudarso, Timika, Papua mengatakan hal ini terjadi mungkin disebabkan dengan situasi Pandemi Covid-19 yang harus menjaga protokol kesehatan dengan tidak menimbulkan kerumunan.

“Masa pandemi ini masyarakat tetap antuasis untuk membeli, tapi mungkin mereka main di keluarga tidak ada acara yang besar karena memang biasanya masyarakat mungkin merasa kurang lengkap kalau tahun baru tidak ada kembang api atau petasan,” katanya saat diwawancarai, Selasa (29/12).

Selain masyarakat yang membeli, dirinya mengaku pedagang eceran juga datang dan membeli untuk dijual kembali.

“Ada pengecer yang beli dalam jumlah banyak dan mereka jual di pinggir jalan, karena memang disini barangnya lengkap jadi pengecer juga senang,” ujarnya.

IKLAN-TENGAH-berita

Dijelaskan waku Natal, masyarakat juga membeli namun menuju ke tahun baru, antusias untuk membeli kembang api dan petasan lebih banyak, meskipun yang membeli hanya mau main di rumah masing – masing.

Sementara itu, untuk Omset kata Maria, dirinya tetap optimis mendapatkan omset yang tidak jauh berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, dimana harga petasan yang dijual paling tinggi sekitar Rp. 1 juta, sementara yang standart sekitar Rp. 50 ribuan, ada pula Rp. 10 hingga 20 ribu.

“Sebagai agen kami berharap agar masyarakat boleh bermain petasan hanya saja harus bisa menjaga keamanan, jangan ada kerumunan, main di rumah masing – masing saja, jangan membuat acara yang besar,” harapnya.

Sementara itu, Seorang pedagang rumahan, Mama Rasya yang berjualan di SP 2 jalur 4 ini mengatakan dirinya hanya menjual saat malam hari.

“Lebih banyak orang beli kalau tahun lalu, tahun ini sedikit karena kita batasi saat orang datang beli, kami juga tidak sembarangan kasih anak – anak kecuali ada pengawasan dari orang tua. Dengan keadaan ini tentu omset juga ikut menurun,” ucapnya.

 

Reporter: Kristin Rejang
Editor: Batt

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar