Pemuda Yahukimo ini Bisa Kuliah Lagi Berkat Jualan Pentolan di Jayapura

Zakhius Keroman
Zakhius Keroman

Siang itu Selasa (12/6/2022) di Sentani, Kabupaten Jayapura, matahari terasa cukup menyengat kulit.

Di Jalan Raya Sentani tepatnya pertigaan Genyem, seorang pemuda mengenakan topi merah dan baju hitam sedang memencet terompet sebagai isyarat memanggil pembeli untuk datang dan membeli jualannya.

Pemuda itu menjual jajanan pentolan dan tahu. Perkenalan mengawali cerita bersama pemuda bernama Zakhius Keroman atau biasa dipanggil Naftali.

Zakhius terlahir dari suku Yahukimo, Papua pada 13 Agustus 2003. Zakhius adalah anak ketiga dari enam bersaudara.

Ia menghabiskan masa SD hingga SMA-nya di Yahukimo dan memilih merantau ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikan.

Zakhius sendiri tidak pernah ingat wajah sang ayah, pasalnya sejak kecil ayahnya sudah meninggalkan mereka menghadap sang khalik. Ia hanya bertahan hidup bersama ibunya Metek Doyela hingga ia dewasa.

Tahun 2020 menjadi sejarah bagi Zakhius karena memilih untuk ke Jayapura dan meninggalkan ibunya demi menggapai cita-citanya. Berbekal hasil bekerja sebagai tukang bangunan di Yahukimo, ia lalu mendaftar Kuliah di STT GIDI.

Zakhius sangat bahagia bisa melanjutkan kuliahnya. Namun sayang, setelah semester dua dan akan melanjutkan ke semester tiga, Zakhius tak punya pilihan lain selain berhenti kuliah.

“Saya tidak ada biaya jadi keluar dari kuliah, saya tidak lanjutkan lagi padahal saya saat itu senang bisa kuliah,” kata Zakhius kepada Jurnalis Seputarpapua, Kristin Rejang, Senin (11/7/2022).

Setiap hari Zakhius hanya menganggur tanpa kegiatan. Akhirnya satu hari ia bertemu dengan seorang pengusaha pentolan.

“Saya ke Waena ketemu bapa orang Jawa, dia ajak kami ke rumahnya. Sambil minum kopi bapa itu tanya saya, anak sudah masuk sekolah? Saya cerita saya masuk kuliah tapi putus, lalu bapa Jawa bilang anak kalau uang saya tidak bisa bantu tapi kalau pekerjaan saya bisa bantu, adik mau julan pentolan?, Saya langsung mau,” jelasnya.

Esok harinya Zakhius akhirnya mulai berjualan. Setiap hari ia mengambil pentolan yang sudah siap dijual di rumah pengusaha dan mulai berjualan keliling.

“Awalnya saya rasa takut-takut, minder, tapi karena saya sudah tidak tau mau kerja apa jadi saya terima saja,” katanya.

Ia lalu mulai menjajakan jualannya keliling menggunakan gerobak hanya di area Pasar Lama Sentani, namun karena semangatnya tinggi, akhirnya bos memberikan motor lalu digunakan untuk jualan.

“Motor ini juga Supra yang lama sudah eror-eror tidak kuat naik tanjakan jadi saya hanya pakai jualan di sekitar Sentani saja,” kata Zakhius.

Ia bercerita, selama berjualan jika ramai sehari bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp600 ribu, kalau sepi Rp300-400 ribuan.

Hasilnya akan disetorkan ke bos pemilik pentolan kemudian nantinya dibagikan kembali per hari.

“Jadi cara menghitung pendapatan saya perhari itu dari berapa plastik pentolan yang habis (sambil menunjukan plastik pentolan), satu plastik kalau habis berarti mereka kasih saya Rp25 ribu, hari ini puji Tuhan sudah enam plastik habis,” ujarnya.

Setelah hampir setengah tahun ia berjualan pentolan, Zakhius akhirnya berhasil mengumpulkan uang dari hasil jualan pentolan untuk kembali mendaftarkan kuliah.

Kali ini, ia memilih mendaftar di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani karena ia bercita-cita ingin menjadi guru agama.

“Saya sudah bisa kumpul uang, sudah daftar kulian nanti di STAKPN, tapi saya tidak akan berhenti jualan pentolan, karena ini satu-satunya pekerjaan saya untuk bantu saya, jadi saya nanti kuliah sambil jualan pentolan,” jelas Zakhius.

Zakhius juga mengaku selama ini ia tidak pernah mau merepotkan orang lain bahkan pada keluarga terdekat sekalipun.

“Kalau minta ke orang lain itu kurang bagus makanya saya harus bertindak sendiri jual ini dari pada minta ke orang lain nanti orang marah juga. Mendingan kerja sendiri,” ungkapnya.

Ia berpesan kepada anak-anak muda Papua khususnya mereka yang tidak memiliki orang tua dan hidup di atas kaki sendiri, agar terus berjuang dan jangan menyerah dengan keadaan.

“Saya pesan anak-anak yang berjuang sendiri , jangan larut dengan kesedihan, bisa diisi dengan bekerja apa saja. Dari pada minum, rokok dirumah tidak bagus. Sekarang saya ada ajak dua teman saya juga jualan begini semoga mereka bisa bertahan,” pungkasnya.

reporter : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.