Penumpang Keluhkan “Seat” Penerbangan Subsidi di Mimika

Penerbangan Penumpang Subsidi
Pesawat perintis di Bandara Mozes Kilangin Timika. (Foto: Dok/Seputarpapua)

TIMIKA | Penumpang angkutan pesawat udara perintis yang disubsidi pemerintah tak mengeluhkan soal harga tiket pesawat untuk ke kampung halamannya, khususnya di wilayah pedalaman Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Perhubungan Udara pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Mimika, Djoko Irawan saat diwawancarai di Timika, Selasa (26/9/2023).

Untuk di Mimika sendiri, kata dia, terdapat penerbangan ke beberapa distrik baik di wilayah pegunungan maupun pesisir. Masing-masing tujuan penerbangan subsidi ini memiliki jarak dan harga tiket yang tentu berbeda-beda.

Tujuan penerbangan terjauh ialah ke Potowayburu, dengan jarak 120 mil dan ditempuh dalam waktu 50 menit penebangan, harga tiketnya Rp412 ribu per orang/penumpang.

Kemudian disusul Agimuga dengan jarak 49 mil, Jila dan Alama mencapai 45 mil, dengan harga tiketnya mulai Rp359 ribu sampai Rp395 ribu. Ketiga tujuan ini bisa ditempuh penerbangan dengan waktu rata-rata 30 sampai 35 menit.

Sedangkan untuk penerbangan ke Tsinga harga tiket Rp324 ribu per orang dan Kokonao harga tiket Rp252 ribu per orang, membutuhkan waktu penerbangan hanya sekitar 15 menit.

“Semuanya subsidi, karena kalau tidak subsidi (harga) tiketnya pasti lebih mahal,” kata Djoko.

Rata-rata harga tiket mulai Rp200 ribu sampai Rp400 ribu untuk satu orang dewasa satu kali penerbangan.

“Kalau komplain soal harga itu tidak, paling yang dikomplain itu tidak dapat seat (tempat duduk),” ujarnya.

Djoko menyebut ini karena permintaan penerbangan terlalu tinggi, beberapa diantaranya ialah Jila, Tsinga dan Alama.

Untuk seat penumpang disesuaikan dengan jenis pesawat. Untuk pesawat Pilatus menjual enam seat, sedangkan untuk Grand Caravan delapan sampai 10 seat.

“Tergantung kalau 1 pilot 8 penumpang, 2 pilot 10 penumpang. Tapi tergantung jenis pesawat juga,” jelasnya.

Advertisements

Untuk penambahan seat, kata Djoko, biasanya dievaluasi load faktor (okupansi atau kursi).

“Mana yang load faktornya tinggi, itu biasanya frekuensinya ditambah. Contoh, kita target penumpang 5, tapi terisi hanya 3-4. Itu nanti di jasa produksi merah. Tapi kalau terisi 5 terus bisa hijau. Kalau hijau bisa tambah frekuensi,” katanya.

penulis : Anya Fatma
editor : Saldi Hermanto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan