Perjuangan Hidup Dari Gubuk Tua ‘Nenek Yohana Wondani’, Seminggu Hanya Dapat Ro25 Ribu

Nenek Yohana Wondama saat berada di dalam gubuk tuanya. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Nenek Yohana Wondama saat berada di dalam gubuk tuanya. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

Senin (29/12/2021), sore itu Pukul 17.10 WIT, cuaca Mimika tampak bersahabat dengan keindahan langit berwarna orange. Dengan mengendarai sepeda motor di Kampung Mulia Kencana SP7 – Mimika kami menuju ke suatu tempat yakni Jalur 1 di kampung tersebut.

Selanjutnya sepeda motor kami parkir dan mulai berjuang menyusuri semak belukar yang tampaknya tidak terlalu jauh dari jalan utama, sekitar 7 menit namun menegangkan karena dalam pikiran terdapat ilusi dan takut dengan makhuk yang sering melata di tanah.

Melewati semak belukar itu ternyata ada sebuah gubuk tua berukuran sekitar 4 X 3 M² terbuat dari papan kayu, dengan kondisi tidak beraturan dan lapuk.

Hanya sekitar 2 meter disampingnya ada sebuah bangunan kayu juga yang merupakan kandang babi. Ada satu ekor babi berukuran sedang.

Di dalam gubuk itu, tampak seorang Nenek menggunakan topi berwarna ungu, dengan baju yang lusuh, dan sebuah rok hitam, sedang berbaring tanpa kasur dan bantal.

Dia adalah Nenek Yohana Wondani (67), seorang wanita asal Kampung Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, . Nenek yang selalu tersenyum meski hanya tinggal sebatang kara, berjuang memelihara babi dan berjualan untuk bertahan hidup.

Dengan senyumannya yang khas ia berkata,”Sore anak, Nenek ada kurang sehat jadi ada tidur saja ini,” ujar sambil bangkit dari pembaringannya.

Gubuk yang berusia sekitar 15 tahunan itu merupakan buatan tangan sang anak yang sudah menghadap sang khalik tampaknya sangat disayangi oleh Nenek Yohana.

Tak ada meja, kursi, selimut, kasur, konfor, Dispenser, rice cooker, TV atau alat modern lainnya.

Didalam gubuk tersebut hanya ada dapur dan tempat untuk tidur yang di samping tempat tidur terdapat tumpukan kayu bakar, juga satu tungku api untuk Yohana memasak makanan babi juga makanan untuk dirinya sendiri.

 

Gubuk Nenek Yonaha. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

 

Sejak sang suami meninggalkan dunia untuk selamanya, dua anaknya pulang ke kampung bahkan satu anaknya meninggal dunia. Semua meninggal disaat tidak bersama dengan Nenek Yohana melainkan meninggal di Kampung Sugapa, sehingga saat ini Nenek Yohana hanya bisa berjuang sendiri di Kabupaten Mimika ini.

Sejak tahun 90-an Nenek Yohana datang dari Sugapa bersama seluruh anggota kekuarganya namun satu persatu pulang ke kampung halaman.

Ia mengisahkan dirinya yang tinggal hanya sendirian harus berjuang memelihara babi dan berjualan.

“Saya tidak ada kebun, tapi saya ambil – ambil sayur pakis di hutan baru jual di depan (Jalur poros SP7), biasa dapat 10 ribu saya langsung beli beras, besoknya jual lagi beli supermi, kopi atau gula,” katanya.

Hasil jualan jika dikalkulasikan dalam seminggu kadang ia hanya mendapatkan berkat Rp 25 – 30 ribu.
“Tidak tiap hari jual, saya tidak sehat jadi yang penting untuk makan,” ungkapnya.

Malam hari Nenek Yohana hanya ditemani sebuah lampu pelita karena dirinya tak memiliki cukup uang untuk memasang arus listrik.

Saat hujan, Nenek Yohana harus berjuang dengan air yang bocor memasuki gubuknya karena kondisi atap yang sudah seharusnya diganti.

“Saya tidur ditempat sedikit ini (sambil menunjuk tempat sempit) supaya tidak kena air yang masuk,” ucapnya.

Meski sendirian, malam, gelap dan tinggal jauh dari rumah – rumah lainnya, Nenek Wondani tetap setia dan tidak pernah mau nginap di rumah yang lain.

“Saya sendiri saja, untuk apa takut tinggal sini, saya bukan anak kecil,” kata Yohana sambil tersenyum.

Sesekali Nenek Yohana pergi ke tetangga untuk menumpang nonton sebagai hiburannya setiap hari, jika malam hari ia hanya menggunakan senter kepala.

Tapi saat ini ia tidak bisa pergi dimalam hari.”Senter batrenya habis ini, belum ganti jadi tidak nyala,” katanya sambil tersenyum lagi memandang senter yang selalu menemaninya berjalan di malam hari mencari hiburan menonton TV.

Nenek Yohana agak kesulitan mendapatkan bantuan sosial, pasalnya NIKnya jika dimasukan ke aplikasi Kemensos yang terbaca malah beda nama dan beda Marga bahkan alamatnya pun bukan di SP7 melainkan di Kampung Jimbi SP3.

Hal ini disampaikan oleh mahasiswa Program Pejuang Muda dari Kementerian sosial yang bekerjasama dengan Kemendikbud dan Kemenag yakni Tika Amanda selaku Koordinator Tim yang berasal dari Kampus Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.

Tim ini di Mimika terdiri dari 6 orang yang berasal dari kampus berbeda – beda yang memiliki tugas untuk perbaikan data terpadu kesejahteraan sosial.

Mereka dipercayakan untuk mengkroscek sebanyak 6009 data di Mimika.

Dalam satu bulan ini, mereka sudah menyelesaikan pendataan di Kampung Mulia Kencana, Bhintuka, Utikini Baru, Utikini II, Limau Asri Barat, dan Naena Muktipura.

Sementara lainnya adalah di Kokonao, Potowaiburu, Jila, Jita dan pedalaman lainnya belum tersentuh karena kesulitan menjangkau daerah tersebut.

Mereka wajib turun ke lapangan untuk memperbaiki apakah benar masyarakat itu masih ada dan tinggal atau kondisi ekonominya seperti apa, sebab data yang di terima oleh para pejuang muda ini adalah data 10 tahun terakhir.

“Sehingga banyak masyarakat yang sudah meninggal, pindah atau sudah layak tapi masih dapat bantuan sehingga itu kami disuruh terjun ke lapangan untuk memvalidasi lagi apakah benar data yang kami terima itu sesuai atau tidak,” ungkapnya.

Dari 7 Kampung yang sudah didatangi salah satunya adalah rumah Nenek Yohana Wondani. Bukan hanya Nenek Yohana saja yang tidak menerima bantuan sosial.

“Menurut data kami banyak yang tidak sesuai masyarakat yang sudah layak, PNS, yang rumahnya sudah bagus itu mereka masih mendapatkan sedangkan rumah rumah yang sudah mau roboh itu malah tidak dapat dan sering namanya salah, NIKnya juga tidak terdaftar, namanya beda, Jadi tidak tepat sasaran, seperti Nenek Yohana,” katanya.

Kendala lainnya adalah mereka yang harusnya menerima manfaat bantuan dari Kemensos tidak memiliki pengetahuan yang cukup sehingga tidak bisa mencari informasi atau melaporkan kenapa dirinya tidak mendapatkan bantuan.

“Kami sedang berusaha agar Nenek Yohana juga bisa mendapatkan bantuan. Dan semoga setelah adanya perbaikan data kedepannya masyarakat yang menerima bantuan sosial baik itu PKH, BLT, BPNT itu sudah sesuai kalau mereka yang tidak sesuai kriteria yah di non aktifkan. Semoga lebih tersalurnya secara menyeluruh dan tepat sasaran,” harapnya.

reporter : Kristin Rejang
editor : Mish

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.