Perjuangan Siswa SMA di Timika, Jual Es Tebu Demi Gapai Cita-cita Jadi Ustad

Muhammad Ridwan Mansyur yang memiliki impian menjadi Ustad. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Muhammad Ridwan Mansyur yang memiliki impian menjadi Ustad. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

“Gantungkanlah Cita-citamu setinggi langit, Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”

Maksudnya dari untaian kalimat ini adalah kalian harus memiliki cita-cita dan impian yang tinggi agar kalian bisa bekerja keras untuk dapat mewujudkannya. Jika kalian gagal, kalian tidak akan menyesal karena perjuangan kalian tidak akan pernah menghianati kalian.

Kalimat penyemangat ini diungkapkan pendiri bangsa ini Ir. Soekarno. Kalimat ini juga menggambarkan usaha dan kerja keras yang dilakukan siswa Kelas 1 di SMAN 6 Timika, Papua.

Dialah Muhammad Ridwan Mansyur. Anak seorang kuli bangunan itu bercita-cita menjadi seorang Ustad. Alasannya sederhana, ingin masuk pesantren, memperdalam ilmu agama sehingga kelak bisa mengajar anak-anak mengaji.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Ridwan hampir setiap hari berjualan air tebu yang dicampur dengan es di Pasar Sentral Timika.

Siang itu, dipertengahan bulan Mei 2022, Ridwan terlihat sibuk melayani pelanggan di gerobak sederhana yang terletak di pinggir jalan akses keluar dari Pasar Sentral Timika.

Dengan mengenakan baju berwarna hijau dan celana berwarna biru tua, remaja itu sibuk memeras air tebu dengan menggunakan mesin peras manual.

Air tebu itu ditampung di sebuah gelas cup plastik kemudian ditambah dengan es batu. Tanpa pemanis ataupun topping lainnya membuat keaslian dan cita rasa tebu mampu memuaskan dahaga para pembeli.

Ridwan mengaku, jika libur sekolah, ia berjualan tebu mulai dari pukul 09.00 Wit, namun jika hari sekolah, ia baru bisa berjualan sekitar pukul 12.00 WIT karena harus ke sekolah terlebih dahulu.

Es Tebu yang dijual adalah milik kerabatnya (om). Dimana tebu tersebut biasanya dibeli dari masyarakat lokal dengan harga perikatnya Rp50 ribu.

Ayah Ridwan adalah seorang kuli bangunan juga tukang ojek, sementara sang ibu sehari-hari bekerja sebagai petani.

Ridwan tidak ingin merepotkan orang tuanya. Untuk itu, ia sedari remaja mulai membantu orang tua minimal tidak membebani kebutuhan jajan atau lainnya. “Saya rasa bisa membantu orang tua itu buat bahagia,” ucapnya.

Ridwan yang lahir di Malaysia karena keluarganya sering merantau. Ia kini berusia 17 tahun. Disaat anak-anak lain seusianya subuk menghabiskan waktu dengan bermain game ataupun bermain bersama teman-teman yang lain, Ridwan justru memilih mencari rejeki yang halal dari hasil keringatnya sendiri.

“Hasilnya per hari biasa dapat Rp300 ribu. Kalau gaji biasa saya dikasih satu hari Rp70 ribu, tergantung pendapatan juga,” kata Ridwan.

Perjuangan Ridwan ini, dilakukan demi menggapai cita-citanya menjadi seorang Ustad.

“Saya jual tebu ini hasilnya untuk beli perlengkapan dan lainnya agar bisa masuk ke pondok pesantren DDI Mangkoso di Makassar, Sulawesi Selatan,” ujar Ridwan.

Meski saat ini sudah masuk ke sekolah Negeri, namun keinginannya begitu kuat harus bisa masuk ke pesantren dan belajar ilmu agama lebih mendalam.

“Rencana bulan Juli mau pindah sekolah disana. Saya mau jadi Ustad, karena ingin belajar, kelak juga bisa ajar anak-anak lainnya biar pintar mengaji,” tuturnya.

Anak ke tiga dari empat bersaudara ini, mengaku apa yang dihasilkan dari jualan disimpan untuk nantinya bisa mewujudkan cita-citanya berangkat ke Makassar dan belajar di pondok pesantren.

“Insyaallah bisa kesampaian cita-cita saya,” ucapnya.

reporter : Kristin Rejang
editor : Batt

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.