Polda Papua Turunkan Tim ke Intan Jaya Selidiki Kematian Pendeta Yeremia dan Kasus Lainnya

Wakapolda Papua, Brigjen Pol Mathius D. Fakhiri didampingi Kapolres dan Kabag Ops Polres Mimika. (Foto: Saldi/SP)
Wakapolda Papua, Brigjen Pol Mathius D. Fakhiri didampingi Kapolres dan Kabag Ops Polres Mimika. (Foto: Saldi/SP)

TIMIKA | Polda Papua menurunkan tim ke Kabupaten Intan Jaya, Papua untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus penembakan yang terjadi di wilayah itu, termasuk penembakan terhadap Pendeta Yeremia Sanambani.

Wakapolda Papua, Brigjen Pol Mathius D. Fakhiri saat dikonfirmasi awak media di Timika usai kembali dari kunjungannya di Intan Jaya, Jumat (25/9) mengatakan, polisi sedang melaksanakan langkah-langkah atas sejumlah kasus penembakan di wilayah tersebut.

Dalam kunjungannya ke Intan Jaya,
Kamis (24/9), dirinya bersama tim ke Intan Jaya sekaligus memantau kondisi personel kepolisian yang bertugas di wilayah itu.

“Kalau olah TKP itukan bagian daripada langkah-langkah penyidikan, itu ada Kapolres di Intan Jaya yang sudah diperintahkan Kapolda. Semua tim itu akan bersama-sama,” kata Brigjen Pol Mathius D. Fakhiri di Timika.

“Kemarin itu saya sudah bersama tim, nanti mungkin setelah selesai (penyelidikan) bisa dikonfirmasikan kepada bapak Kapolda langsung,” sambungnya.

Sebelumnya, pihak TNI melalui Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa menyebut Pendeta Yeremia Sanambani ditembak oleh KKSB kemudian memfitnah TNI adalah pelakunya.

IKLAN-TENGAH-berita

Menurut Kolonel Suriastawa, kejadian ini telah menambah daftar panjang korban keganasan KKSB Papua, yang sedang mencari perhatian menjelang sidang umum PBB tanggal 22-29 September.

Ia mengklaim peristiwa tersebut adalah rekayasa KKSB dengan maksud kejadian ini menjadi bahan di Sidang Umum PBB.

“Saya tegaskan, bahwa ini semua fitnah keji dari KKSB,” kata dia dalam siaran pers tertulis.

Senada dengan TNI, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan pelaku penembakan Pendeta Yeremia bukan dilakukan oleh aparat keamanan, sebab wilayah tersebut dikuasai oleh KKB.

Ia bahkan meminta para tokoh yang mengaku sebagai pemimpin untuk tidak berkomentar atau menuding aparat keamanan adalah pelakunya.

“Mari kita mendukung langkah-langkah penegakan hukum yang akan dilakukan oleh aparat baik itu Polri maupun TNI,” kata Kapolda dalam rilis tertulis Humas Polda Papua.

Selain itu, Kapolda Waterpauw juga menyebut peristiwa ini adalah propaganda yang dilakukan, mengingat akan digelarnya sidang PBB, dan menurutnya semua orang paham tentang itu.

“Jadi para pihak mencoba mendramatisasi kejadian tersebut. Sangat tidak mungkin penembakan tersebut dilakukan oleh aparat TNI-Polri, karena kita ketahui bersama bahwa KKB telah menguasai wilayah tersebut,” kata Kapolda.

Terhadap peristiwa ini, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyatakan akan terus mengawal kebenaran atas pengungkapan pelaku kasus penembakan pendeta Yeremia Sanambani di Kampung Hitadipa yang terjadi pada Sabtu (19/9).

Para pemuka gereja se-Tanah Papua angkat bicara dalam konferensi pers online yang difasilitasi PGI, Kamis (24/9). Di mana, Sekretaris Umum PGI, Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty bertindak sebagai moderator.

Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua, Pendeta Petrus Bonyadone melaporkan, mendiang Pendeta Yeremia Sanambani merupakan tokoh yang paling disegani di Intan Jaya, lebih khusus di Distrik Hitadipa.

Kematian Pendeta Yeremia, kata dia, meninggalkan duka sangat mendalam bagi seluruh umat Kristiani di Kabupaten Intan Jaya.

Pendeta Petrus lantas membeberkan kronologis yang dihimpun dari hasil wawancara para saksi secara langsung di lapangan, tentang bagaimana sang gembala berakhir tragis.

Bahwa, pada Kamis 17 September, seorang anggota TNI Pratu Dwi Akbar dari Yonif 711/RKS/Brigif 22/OTA dibacok hingga tewas di Hitadipa, senjatanya dirampas dan dibawa lari oleh diduga KKSB atau TPNPB-OPM.

Lanjut Pendeta Petrus, pada Jumat 18 September, terjadi penyisiran oleh pasukan TNI di wilayah Hitadipa. Mereka berupaya mencari pelaku pembacokan namun tidak ketemu.

“Jadi ada semacam kecurigaan terhadap warga kami yang ada di Hitadipa. Di sana ada beberapa pendeta lainnya,” kata Petrus.

Pada Sabtu 19 September, Pendeta Yeremia bersama istri pergi ke kandang untuk memberi makan ternak babi. Setelah dekat dengan kandang babi, mereka sempat berjumpa dengan anggota TNI.

Anggota TNI bertanya; “bapak dengan mama mau kemana. Mereka jawab mau pergi kasih makan babi. Jadi ada semacam kecurigaan dari anggota TNI bahwa apakah mau kasih makan babi atau OPM/KKB,” kata Petrus.

Almarhum Pendeta Yeremia ketika itu berulang kali menegaskan bahwa mereka benar-benar hendak memberi makan ternak babi. Setelah itu, mereka kemudian berlalu menuju kandang babi.

Tak berselang lama setelah memberi makan ternak babi, sang istri lalu mengajak Pendeta Yeremia segera pulang lantaran melihat situasi kurang kondusif.

“Istrinya bilang, ini hari sudah malam, situasi juga kurang baik, kita pulang sudah. Tapi beliau bilang, mama duluan sudah. Saya ada bakar ubi jadi nanti saya makan dulu baru ikut dari belakang,” kata Petrus.

Begitu pulang ke rumah, sekitar pukul 18.15 WIT, istri Pendeta Yeremia mendengar bunyi tembakan dari arah kandang babi yang tidak jauh dari rumah tempat tinggal mereka.

“Mama lalu memberitahukan ini kepada beberapa teman pendeta, katanya: ini bunyi tembakan jangan sampai bapak ditembak,” ujar Petrus menirukan keterangan istri Pendeta Yeremia.

Pendeta-pendeta itu kemudian menegur istri Yeremia dan mengatakan bahwa “ini hari sudah gelap, sudah malam, kenapa bapak dengan mama berani pergi kasih makan ternak babi. Situasi juga kurang bagus”.

“Oleh karena sudah malam, para pendeta ini memutuskan untuk pergi mengecek ke lokasi kandang babi Pendeta Yeremia esok hari,” lanjut Petrus.

Sedangkan istrinya, masih memberanikan diri kembali ke kandang babi malam itu juga. Sesampainya di sana, ia mendapati suaminya tergeletak sudah ditembak. Tapi Yeremia masih bernafas, dia masih bicara ke istrinya; “aduh mama, saya sudah ditembak”.

Yeremia juga sempat ceritakan bagaimana sampai dia ditembak. Bahwa ada anggota TNI datang kepada dia menanyakan katanya; “Kami sudah mencari senjata teman kami yang sudah dibacok, tapi kami tidak dapat. Kami curiga bahwa bapak dorang yang ambil”.

“Almarhum sambil mengangkat tangan bilang, saya ini orang baik-baik tidak mungkin buat seperti itu. Pada saat itu dia ditembak di bahu,” ungkap Pendeta Petrus menceritakan keterangan saksi.

Istri Yeremia waktu itu langsung marah ke Yeremia dengan mengatakan; “Tadi saya sudah bilang bapak ayo pulang ke rumah sudah, sekarang bapak sudah ditembak”.

Yeremia dalam kondisi sekarat lalu meminta istrinya; “Mama pulang sudah, nanti besok datang baru bawa saya”. Dalam kondisi mencekam, istri Yeremia lalu memutuskan pulang ke rumah.

Rupanya, kata Pendeta Petrus, ada dua ibu dan seorang bapak yang menyaksikan peristiwa itu. Saat Pendeta Yeremia ditembak, ketiga orang ini sembunyi karena ketakutan.

“Setelah melakukan penembakan, tentara mereka kemudian tinggalkan tempat itu. Dua orang ibu dan seorang bapak tadi kemudian menemani beliau yang dalam kondisi sekarat,” kata Pendeta Petrus.

Menurut Pendeta Petrus, setelah ditembak sekitar pukul 18.15 WIT, Pendeta Yeremia tidak langsung meninggal dunia. Dia masih sempat bercerita, baik kepada istrinya dan juga kepada dua ibu dan seorang bapak.

“Mungkin ada hal-hal lain yang beliau bicarakan dalam bahasanya (Moni) kepada dua ibu dan seorang bapak tadi. Saya merasa mereka ini adalah saksi kunci,” katanya.

Menurut cerita ketiga orang ini, Pendeta Yeremia baru menghembuskan nafas terakhir pada sekitar pukul 00.00 (jam 12) malam.

Paginya, Minggu 20 September, beberapa pendeta datang ke Pos TNI di Hitadipa minta izin untuk pergi melihat kondisi Pendeta Yeremia yang sudah tertembak. Lalu pihak TNI menyampaikan kepada mereka bahwa tidak boleh lebih dari lima orang.

Setelah itu, mereka membawa jasad pendeta ke ibu kota Distrik Hitadipa. Sesampai di sana, ada surat pemberitahuan yang dikirim oleh kelompok KKB (TPNPB-OPM) isinya; “Segera kosongkan Hitadipa oleh karena kami mau masuk”.

Pada hari itu, ada perintah dari pasukan keamanan agar jasad Pendeta Yeremia segera dimakamkan. Setelah dimakamkan, mereka minta masyarakat kosongkan Hitadipa, tidak boleh ada masyarakat di sana.

“Termasuk di situ ada seorang mantri, orang Moni, namanya Kobogau juga diperintahkan oleh pasukan untuk meninggalkan Hitadipa,” kata Pendeta Petrus.

Pendeta Petrus Bonyadone menambahkan, dirinya merekam keterangan saksi terkait kronologis peristiwa tertembaknya Pendeta Yeremia itu, yang kemudian diserahkan ke Ketua PGI di Jakarta dan Biro Hukum PGI di Papua.

Ia meyakini bahwa 95 persen gambaran kronologis peristiwa tersebut dapat diduga kuat benar, dan penembakan dilakukan oleh TNI.

“Kenapa, karena informasi ini diperoleh dari lapangan dan para saksi masih ada saat ini. Informasi ini bukan kami dapat dari jarak jauh. Ada seorang pendeta, yaitu Pendeta Henok Kobogau yang mengontak para saksi,” katanya.

Pendeta Petrus bersama anggota DPRD Intan Jaya juga sudah menemui Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab, dan menyerahkan kronologis kejadian, ditambah pernyataan dari pihak keluarga.

Reporter: Saldi
Editor: Misba Latuapo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar