Polio Mudah Menyebar, Jangan Biasakan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold R. Ubra. Foto: Saldi/Seputarpapua

TIMIKA | Kejadian luar biasa (KLB) Polio terjadi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Lingkungan menjadi salah satu sarana virus poliomyelitis berkembang dan menyebar dari satu manusia ke manusia lainnya, terutama anak-anak yang sangat rentan terkena penyakit polio.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika dalam upaya menanggulangi penyebaran virus atau penyakit polio, berharap masyarakat dapat meninggalkan kebiasaan atau perilaku hidup tidak sehat, seperti buang air besar sembarangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold R. Ubra mengatakan, temuan kasus polio di Mimika juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, dalam hal ini kebiasaan hidup tidak sehat di masyarakat.

Kebiasaan ini harus ditinggalkan, agar penyakit-penyakit yang asalnya atau berkembang kemudian penyebarannya dari kondisi lingkungan tidak sehat, dapat dicegah. Hal ini memang perlu peran serta dari semua pihak, namun lebih utama adalah masyarakat dilingkungannya masing-masing.

“Penularannya dari manusia ke manusia, karena polio ini adalah salah satu virus yang menyebabkan lumpuh layu, kemudian dia masuknya ke dalam tubuh melalui saluran cerna,” jelas Reynold Ubra dalam diskusi bersama awak media terkait upaya penanggulangan penyakit polio di Kabupaten Mimika, Jumat (31/5/2024).

“Ketika perilaku buang air besar masih sembarangan, maka anak-anak yang belum menerima imunisasi polio, itu mereka bisa terpapar. Jadi ada faktor lingkungan, dan kami juga melakukan pemeriksaan terhadap lingkungan sekitar,” sambungnya.

Meskipun sampai hari ini hasil pemeriksaan secara detail terkait temuan kasus polio di Mimika belum keluar, tetapi berdasarkan informasi yang dikumpulkan bahwa perilaku buang air besar sembarangan turut mempengaruhi penyebaran penyakit polio. Padahal menurut dia, cakupan imunisasi termasuk imunisasi polio di Mimika sudah 100 persen.

“Tapi hanya gara-gara satu saja kena, maka harus yang lainnya juga bisa dilindungi, karena sifatnya virus itu, dia bisa bermutasi secara terus menerus,” kata Reynold.

Soal temuan kasus polio di Mimika, Reynold mengungkapkan itu ditemukan pada Februari 2024. Saat itu terdapat pasien diduga mengalami polio lumpuh layu akibat virus poliomyelitis. Lantaran informasinya masih dugaan, tim Dinkes Mimika meresponnya dan melakukan pemeriksaan. Alhasil, pasien dinyatakan positif polio.

Polio menyebabkan lumpuh layu secara mendadak, anak mengalami panas maupun demam, kemudian tubuh bagian bawah tak mampu bergerak untuk bisa berdiri. Jika satu saja kondisi seperti itu ditemukan, maka semua anak harus diberikan imunisasi.

Dinkes Mimika telah melakukan pengumpulan sampel untuk 45 anak lantaran ditemukan satu anak positif polio. Dari 45 sampel itu, ditemukan delapan sampel positif, meski status anak-anak yang diambil sampelnya sudah pernah menerima imunisasi polio lengkap. Kondisi kedelapan anak tersebut tidak sampai mengalami lumpuh layu, mereka masih beraktivitas seperti biasanya hingga sekarang.

Dengan kondisi itu, disimpulkan bahwa imun atau kekebalan tubuh kedelapan anak-anak tersebut bekerja menangkal virus poliomyelitis, lantaran pernah mendapatkan imunisasi polio secara lengkap.

Advertisements

Sementara pasien positif polio yang mengalami lumpuh layu, setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata belum pernah menerima imunisasi polio sebelumnya. Sehingga ketika pasien terpapar virus poliomyelitis tubuhnya tidak memiliki kekebalan untuk menangkal virus yang akhirnya menyebabkan pasien mengalami lumpuh layu.

penulis : Saldi
editor : Felix

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan