Populasi Ternak Babi di Papua Capai 728.213 Ekor

PENGIRIMAN BABI | Petugas Karantina menyiapkan babi untuk dikirim ke Wamena. (Foto: Ist/SP)
PENGIRIMAN BABI | Petugas Karantina menyiapkan babi untuk dikirim ke Wamena. (Foto: Ist/SP)

TIMIKA | Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I Timika melakukan pemeriksaan fisik atau klinis terhadap babi yang akan diterbangkan menggunakan pesawat ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Diagnosis penyakit pada hewan dapat diketahui melalui pemeriksaan klinis, sehingga pemeriksaan pada tubuh hewan perlu dilakukan untuk menemukan tanda penyakit.

Kepala Sub Seksi Pelayanan dan Operasional SKP Timika, drh. Amirullah mengungkapkan, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dua ekor babi tersebut dipastikan sehat tanpa penyakit kemudian diterbangkan menggunakan pesawat Hercules.

“Keduanya sehat tidak ada penyakit jadi aman untuk dikonsumsi,” katanya saat diwawancara di Timika, Kamis (6/8).

Ia mengungkapkan, beberapa penyakit hewan pada babi yang patut dicegah penularannya diantaranya adalah Hog Cholera, atau biasa disebut dengan Classical Swine Fever (CSF).

Selain itu, penyakit yang menjadi trending topic saat ini adalah African Swine Fever (ASF), penyakit ini sangat berbahaya.

IKLAN-TENGAH-berita

“Infeksiusnya sangat tinggi dan dapat menyebabkan kematian hingga seratus persen,” katanya.

Merujuk pada data Statistik Peternakan 2019, populasi babi di Provinsi Papua sebanyak 728.213 ekor, menempati urutan ke-5 dari 7 provinsi yang merupakan sentra produksi peternakan babi di Indonesia.

“Sehingga peran dan tanggung jawab karantina pertanian sangatlah besar dalam melindungi peternakan babi lokal di wilayah Papua,” tutur Amirullah.

Prev1 of 2

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar