Reja Prayoga, Anak Muda yang Sukses Bangun Bisnis Kopi Dimulai dari Gerobak

Owner Kopi Djuang, Reja Prayoga (baju hitam) bersama karyawannya sedang meracik kopi. (Foto: Alley/Seputarpapua)
Owner Kopi Djuang, Reja Prayoga (baju hitam) bersama karyawannya sedang meracik kopi. (Foto: Alley/Seputarpapua)

“Untuk menjadi seorang pengusaha muda, Yoga membutuhkan waktu sekitar 7 tahun lamanya. Banyak proses panjang yang harus Ia lalui sebelum terjun dalam dunia bisnis.”

Membangun suatu bisnis adalah hal yang tak mudah. Butuh proses panjang dan tekad yang besar untuk mencapai kesuksesan. Bahkan, risiko untuk gagal pun kemungkinan besar dapat terjadi. Maka dari itu, tidak semua orang berani terjun ke dalam dunia bisnis.

Bicara soal bisnis, ada salah satu pengusaha muda yang saat ini sukses membangun bisnisnya, yaitu Reja Prayoga.

Di usia masih muda menginjak 27 tahun, pria yang akrab disapa Yoga ini, sudah memiliki dua kedai kopi yang diberi nama Kopi Djuang.

Memiliki konsep kedai kopi yang enak dan juga tempat yang cozy (nyaman), hingga kini Kopi Djuang mampu menarik perhatian para pecinta kopi dari semua kalangan.

“Jadi konsep dari Kopi Djuang ini, tidak muluk-muluk. Yang penting pengunjung datang, duduk menikmati kopi dengan rasa yang pas dan merasa nyaman, itu saja sih kak,” kata Yoga saat berbincang dengan reporter Seputarpapua.com di salah satu kedainya di kawasan Ruko Paldam, Kota Jayapura, Papua, Kamis (5/1/2023).

Untuk menjadi seorang pengusaha muda, Yoga membutuhkan waktu sekitar 7 tahun lamanya. Banyak proses panjang yang harus Ia lalui sebelum terjun dalam dunia bisnis.

Sedikit kilas balik, awalnya Yoga sempat bekerja di salah satu cafe sekitar 6 bulan lamanya sembari kuliah. Setelah itu, Ia sempat bekerja di salah satu hotel ternama di Jayapura.

“Setelah resign dari hotel, saya bantu teman di cafenya. Dari situ saya belajar menjadi barista, dan mulai mengeksplorasi kemampuannya saya soal kopi,” ungkapnya.

Belajar menjadi barista terus dikembangkan Yoga yang saat itu masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jayapura. Sampai akhirnya Yoga memberanikan diri untuk membuka usaha kedai kopi pada tahun 2018.

“Jadi saya itu dulu kerja part time di cafe juga. Karena merasa, kok enak ya kerja jadi barista, dan melihat prospek yang bagus, punya relasi banyak. Akhirnya saya kumpul-kumpul modal, terus ada kawan dan kerabat juga bantu,” beber Yoga memulai usahanya dengan menjajakan kopinya dengan gerobak.

“Dari gerobak kita putar-putar, alhamdulilah sekarang kita punya tempat yang permanen seperti ini,” imbuhnya.

Para pekerja di Kopi Djuang tak lain masih dalam sirkel (lingkaran) pertemanan Yoga. Ia merangkul teman-temannya untuk menjadi barista di cafenya.

“Sekarang kita sudah punya karyawan ada 13 orang, di mana masing-masing punya job desk yang berbeda. Jadi, alhamdulilah saya bisa membantu memberikan peluang kerja bagi teman-teman, khususnya anak muda,” ucap Yoga.

Menurut Yoga, konsistensi dan kedisiplinan sangat dibutuhkan bagi seorang barista. Pasalnya, kata dia, tidak sedikit anak-anak muda yang memilih sebagai barista karena hanya ingin pamer ke khalayak ramai.

“Padahal profesi barista itu bukan soal gaya-gayaan saja, tapi menurut saya barista itu harus orang berintegritas tinggi. Jangan cuma ko datang ke bar (meracik kopi) sudah begitu tidak tepat waktu dan semaunya. Kita harus punya disiplin yang tinggi kalau mau jadi barista,” tegas Yoga.

Kendati saat ini cukup banyak kedai kopi yang menjamur di Kota Jayapura, namun Yoga tak pernah merasa kehadiran kedai-kedai tersebut sebagai pesaing. Ia justru merasa bangga dengan banyaknya kedai kopi, dan itu menandakan kopi berkembang di Papua.

“Dan saya bukan menganggap mereka sebagai pesaing, toh saya pikir masing-masing kedai punya pelanggan tersendiri. Yang kita lakukan hanya mempertahankan kualitas rasa dari produk kita saja. Kita juga di sini mencoba menghadirkan sesuatu yang menarik atau disukai pengunjung, seperti kalau ada yang suka musik, hal-hal yang abstrak, random, ini yang kita selipkan di kedai kita,” ucapnya bijak.

Menu minuman kopi yang disajikan di Kopi Djuang sangat variatif. Saat ini yang menjadi best seller adalah Es Kodju dengan tawaran harga yang sangat terjangkau yakni Rp33 ribu per gelas.

“Ya bisa dibilang Es Kodju ini signature kopi susu, dan penjualannya tertinggi juga,” aku Yoga.

Selanjutnya soal penggunaan bahan baku, Yoga menyebut biji kopi yang dipakai selama ini diperoleh dari berbagai daerah.

“Macam-macam, ada kita pakai kopi Wamena, Lanny Jaya, Nabire, dan dari Sumatera juga ada,” tutupnya.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Alley
editor : Saldi Hermanto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.