Satpol PP Tutup Kedai Remang-Remang di Kawasan Bandara Mopah

Operasi Penutupan dan Penertiban Kedai Liar di sepanjang Bandara Mopah Merauke. (Foto: Hendrik/Seputarpapua)
Operasi Penutupan dan Penertiban Kedai Liar di sepanjang Bandara Mopah Merauke. (Foto: Hendrik/Seputarpapua)

MERAUKE, Seputarpapua.com | Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Merauke menutup sejumlah kedai remang-remang yang berjejer di kawasan Bandara Mopah Merauke, Kamis malam (20/6/2024).

Operasi penutupan dimulai sekitar pukul 22.30 hingga pukul 00.00 WIT dengan juga melibatkan dengan pihak Kelurahan Muli, Babinsa TNI AD, Paskas TNI AU dan petugas Bandara Mopah.

Pantauan media ini, upaya penutupan atau penertiban berupa peringatan dan teguran kepada setiap pemilik kedai untuk menghentikan aktivitas alias menutup usahanya karena dinilai tidak mengantongi izin dan meresahkan masyarakat Merauke.

“Mulai besok dan seterusnya kalian tidak boleh berjualan di sini lagi. Semua kontainer kalian ini harus kalian angkat. Kalau tidak kami akan melakukan upaya dan tindakan paksa,” ujar salah seorang dengan nada tegas kepada pemilik kedai.

Selain menutup kedai remang-remang, petugas Satpol PP juga melarang para pedagang kaki lima dan penjual cilok di depan Bandara Mopah untuk berjualan di depan pintu masuk dengan memasang spanduk larangan.

“Perhatian! Dilarang Keras Berjualan Di Depan Pintu Masuk Bandara Mopah Merauke,” demikian bunyi tulisan spanduk itu.

Satpol juga memberi teguran keras dan peringatan kepada para pedagang kaki lima atau penjualan cilok agar berjualan tidak boleh sampai larut malam.

“Mulai besok, batas waktu kalian berjualan di sini hanya sampai pukul 23.00 WIT. Tidak boleh sampai larut malam ya,” ujar seorang petugas dengan nada tegas.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Merauke, Fransiskus Kamijay melalui Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum), Jeremias Masriat mengatakan, keberadaan kedai-kedai di kawasan Bandara Mopah dinilai melanggar aturan dan meresahkan masyarakat karena beroperasi di luar batas.

“Kedai-kedai itu dibuka semacam hiburan malam. Mereka memutar lagu sambil karaoke (menyanyi) sampai tidak ada batas waktu. Ini diperintahkan oleh Kasat kami untuk melakukan penertiban,” kata Jeremias Masriat saat apel pasukan, Kamis malam.

“Masyarakat di kawasan bandara sudah melapor dan sampaikan bahwa musiknya bisa sampai jam 01.00-03.00 WIT. Ini yang kami jalan ini untuk menegur mereka. Kami bersama Pak Lurah Muli yang punya wilayah, akan memasang baliho bahwa di seputar bandara tak boleh ada jualan dan putar lagu sampai larut malam,” sambungnya.

Advertisements

Operasi yang dilakukan, kata Jeremias, menjadi bagian dari penegakan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Merauke tentang Ketertiban Umum. Kawasan bandara merupakan jalur hijau, sehingga tidak boleh ada aktivitas berjualan.

“Di situ kan kawasan hijau, tidak boleh ada jualan di depan jalan kera itu adalah jalan utama. Itu akan kami tindaklanjuti dan itu harus ditutup semuanya. Karena kawasan itu kan kawasan hijau, apalagi di depan Patung Hati Kudus Yesus, kan tidak boleh,” tegasnya.

Di tempat terpisah, warga Jalan Martadinata Merauke, Antonius mengapresiasi langkah tegas yang diambil Satpol PP Kabupaten Merauke yang menutup sejumlah kedai atau warung remang-remang di areal Bandara Mopah.

Advertisements

Menurutnya, keberadaan kedai atau warung remang-remang yang membuka usaha karaoke di pinggir jalan di areal Bandara dinilai meresahkan dan sangat mengganggu ketenangan dan ketenteraman warga beristirahat di malam hari.

“Kafe-kafe liar ini sangat mengganggu. Kalau malam suara musik terdengar sampai di kamar. Padahal jarak dari rumah kami itu sekitar 300 meter ke tempat itu, tapi masih kedengaran. Volume bunyi musik kadang tidak tahu diri,” ungkap Antonius di RKD Kafe Merauke.

“Kadang bunyi musik keras sampai jam 02.00 atau jam 03.00 WIT. Bahkan kadang sampai jam 05.00 pagi. Terlalu berisik, dan tempat-tempat itu sudah lama beroperasi,” sambungnya.

Advertisements

Dia menyebut, sebelum usaha kedai remang-remang tersebut pernah dibubarkan oleh Polres Merauke. Namun, tak berselang lama, warung remang-remang itu muncul kembali dengan jumlah yang bertambah.

“Pernah dibubarkan oleh Pak Kapolres Merauke, sempat berhenti kemudian beberapa hari ada lagi. Sebenarnya, lebih bagus dibubarkan, karena mengganggu dan bising,” beber Antonius.

Ia menilai keberadaan kedai remang-remang itu kerap kali menjadi ajang pesta minuman keras (miras), sarang maksiat, kekacauan dan tempat transaksi prostitusi terselubung. Padahal, keberadaannya persis di depan tempat suci, Patung Hati Kudus Yesus sebagai tempat suci umat Nasrani.

“Kalau sudah tengah malam di situ bukan lagi minum kopi, tapi alkohol. Sudah begitu ada perempuan cantik, sexy-sexy juga ikut temani minum. Ujung-ujung Open BO,” tutur Antonius lugas.

Advertisements

“Belum lagi di situ tempat mabuk-mabuk itu. Nanti sebentar mereka bikin masalah, kita tidak tahu. Baku tikam, baku bunuh. Jadi bisa timbul banyak kasus di situ. Satpol segera bubarkan itu,” tandasnya.

penulis : Hendrik Resi
editor : Iba

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan