Sopir Taksi di Timika Mengeluh Harga BBM Naik, Tarif Angkutan Belum Ditetapkan

Sopir angkutan umum di Timika (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Sopir angkutan umum di Timika (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Presiden Joko Widodo pada Sabtu (3/9/2022) mengumumkan peraliham subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membuat penyesuaian harga bebera jenis produk BBM Pertamina.

Harga BBM subsidi Pertalite naik dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter, harga solar subsidi dari Rp5.150 ribu menjadi Rp6.800 per liter, sementara BBM non Subsidi pertamax turun dari harga Rp12.500 menjadi Rp14.500.

Sejak peralihan subsidi, hargaBBM yang dijual eceran pun ikut naik. Pantauan Seputarpapua.com, harga pertalite per botol biasanya dijual Rp15 ribu kini naik menjadi Rp18 ribu. Sementara Pertamax awalnya Rp20 ribu dinaikan menjadi Rp23 ribu.

Dampak kenaikan harga BBM subsidi ini dirasakan semua masyarakat Indonesia, tak terkecuali para sopir taksi di Timika, Papua Tengah. Mereka yang sehari-hari menggunakan BBM untuk kendaraan penghasil pundi-pundi ekonomi tentu cukup terdampak.

“Sebelum BBM naik, sehari bisa keluarkan Rp200 ribu untuk beli Pertalite, sekarang BBM naik ini uang bisa 300-400 untuk beli bensin,” kata Akbar, salah satu sopir taksi SP2 Timika kepada Seputarpapua.com, Senin (5/9/2022).

Dengan meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan BBM kendaraan, tentu Akbar berharap pemasukan juga lebih meningkat dari biasanya.

“Di sini kalau tunggu saja di terminal, lama skali ada penumpang, jadi kita sistim cari menumpang, itu yang buat minyak (BBM) cepat habis, kalau rejeki dapat penumpang kalau tidak ya kosong saja,” ujarnya.

Kenaikan harga BBM ini membuat para sopir taksi takut jika dapur mereka tidak lagi berasap. Sebab pengeluaran akan semakin banyak dibanding pemasukan.

“Makanya kita juga ada kewalahan ini, pusing juga. Tidak jalan, dapur tidak asap,” ungkapnya.

Mengenai tarif angkutan dirinya masih menunggu petunjuk dari Dishub, sebab hingga kini belum ada kepastian.

“Kami masih tunggu bagaimana Dishub karena kami tidak bisa seenaknya menaikan tarif, itu sudah ada yang atur, jadi kami tunggu saja, kami harap dalam waktu dekat ini kami bisa dapat informasi dari Dishub,” ujarnya.

Para sopir taksi juga mengaku belum ada informasi mengenai bantuan untuk angkutan umum.

“Kami menunggu saja, kami berharap bisa naikan tarifnya karena kalau dipaksa untuk narik dengan kondisi begini tetap kami yang hancur,” ujarnya.

Menurutnya, jika dengan kondisi BBM naik saat ini, tarifnya baik jauh maupun dekat diratakan menjadi Rp10 ribu.

“Jadi semua dari pasar ke Timika Indah misalnya, terus ke SP2-3 semua ratakan saja Rp10 ribu tapi semua putusan kami juga belum tau nanti seperti apa,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden saat mengumumkan kenaikan harga BBM telah memerintahkan kepada Pemda untuk menggunakan 2 persen dana transfer umum sebesar Rp2,17 triliun untuk bantuan angkutan umum, bantuan ojek online dan nelayan.

Kepala KPPN Kabupaten Mimika, Iwan Megawan menjelaskan terkait dana Transfer Umum untuk angkutan umum dan lainnya pihaknya belum mendapatkan petunjuk.

“Kebetulan untuk dana transfer yang kami kelola hanya DAK fisik , dana desa dan dana bos, untuk dana TU tadi (untuk angkuran umum, ojek online dan nelayan) kami sendiri belum ada info,” kata Iwan kepada Seputarpapua.com, Senin (5/9/2022).

Tanggapi Berita ini
reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.