seputarpapua.com

Stop Stunting, Wujudkan Mimika Sehat dan Mandiri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
STUNTING | Pertemuan penyusunan rencana aksi daerah dalam rangka percepatan penurunan stunting di Mimika. (Foto: Anya Fatma/SP)
STUNTING | Pertemuan penyusunan rencana aksi daerah dalam rangka percepatan penurunan stunting di Mimika. (Foto: Anya Fatma/SP)

TIMIKA | Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar kegiatan penyusunan rencana aksi daerah dalam rangka percepatan penurunan stunting di Mimika.

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Horison Ultima Timika, Rabu (7/8) dibuka oleh Penjabat Sekda Mimika Jenny Usmani, dihadiri perwakilan OPD terkait dalam penanganan penurunan stunting.

Penjabat Sekda Jenny Usmani saat membacakan sambutan Bupati Mimika Eltinus Omaleng mengatakan, pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan kesehatan secara perorangan.

Selain itu juga perlu dilakukan peningkatan kesehatan ditengah masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif tanpa meninggalkan kuratif dan rehabilitatif secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.

Hal ini kata dia menjadi tanggung jawab bersama.

Untuk itu diharapkan stunting dijadikan sebagai program dalam penyusunan rencana kerja (Renja) OPD terkait dan selanjutnya menjadi rencana kerja pemerintah daerah (RKPD).

“Saya berharap agar kegiatan koordinasi ini tidak hanya dilaksanakan secara seremonial saja, namun harus segera ditindaklanjuti,” tutur Jenny.

Jenny mengimbau kepada Dinas Kesehatan untuk juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya perbaikan gizi serta mikro gizi bagi Balita di Kabupaten Mimika.

Ini agar visi dan misi Kabupaten Mimika mewujudkan masyarakat Mimika yang sehat dan mandiri bisa terwujud.

Katanya, untuk mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi berbagai penyakit menular, maka perlu dilakukan terobosan yang dapat memicu masyarakat agar berperilaku hidup bersih dan sehat melalui program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dan program promosi kesehatan.

“Stop stunting itu penting, salah satu upaya yang bisa dilakukan saat ini yang menjadi program prioritas di tingkat pusat maupun daerah, termasuk menjadi perhatian dan sebagai program prioritas di Kabupaten Mimika adalah program penurunan stunting,” tutur Jenny.

Menurutnya, jika mendengar kata stunting mungkin sebagian besar masyarakat belum begitu mengetahui artinya.

Stunting merupakan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak rendah atau kerdil dan memiliki keterlambatan dalam berfikir.

Stunting ini bisa dicegah melalui pelayanan dan perhatian bersama.

Dengan dilaksanakannya kegiatan ini maka stunting menjadi salah satu fokus pemerintah agar anak-anak di Mimika dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal dengan disertai kemampuan emosional, sosial dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi secara nasional dan global.

Sementara, Ketua Panitia Jenni Silas dalam laporannya melaporkan bahwa stunting merupakan kondisi dimana seorang anak lebih pendek di banding badan rata-rata anak seusianya.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

“Tidak sekedar pada tinggi tubuh yang terhambat, stunting dapat mengakibatkan mudah sakit, berkurangnya kemampuan kognitif dan fungsi tubuh tidak seimbang,” tuturnya.

Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan beresiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya sehingga menurunkan produktifitas pada saat dewasa.

Bahkan stunting dan berbagai bentuk masalah gizi diperkirakan berkontribusi pada hilangnya 2 sampai 3 persen produk domestik bruto (PDP) setiap tahunnya.

Akan tetapi, stunting dapat dicegah dengan pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (9 bulan) (370 hari) janin dalam kandungan, sampai 24 bulan (730 hari setelah lahir) dengan memperhatikan kecukupan gizi sebelum dan selama kehamilan. Memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif, memberikan makanan pendamping ASI sesuai kecukupan gizi anak, ibu hamil mengkonsumsi tablet tambah darah dan memberikan imunisasi secara lengkap kepada anak.

Penyusunan rencana aksi kegiatan ini adalah tindaklanjut pemerintah kabupaten dalam merealisasikan hasil rekomendasi dari analisis situasi.

Rencana ini berisikan program dan kegiatan OPD untuk meningkatkan cakupan layanan intervensi dan kegiatan untuk meningkatkan integrasi intervensi di tingkat kabupaten dan desa pada tahun berjalan atau 1 tahun mendatang.

Pemerintah kabupaten selanjutnya mengintegrasikan rencana kegiatan kedalam rencana kerja pemerintah daerah dan rencana kerja OPD.

“Dari kegiatan penyusunan rencana aksi kegiatan ini diharapkan adanya rencana program atau kegiatan untuk peningkatan cakupan dan integrasi intervensi gizi pada tahun berjalan dan atau 1 tahun mendatang,” tutupnya.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor: Misba Latuapo
Berita Terkait
Baca Juga