Sudah Tujuh Bulan Ruang Kelas SMPN 6 Mimika Digembok Pemilik Hak Ulayat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
GEMBOK | Welly Murib saat menunjukan pintu yang digembok. (Foto: Kristin Rejang/SP)
GEMBOK | Welly Murib saat menunjukan pintu yang digembok. (Foto: Kristin Rejang/SP)

Lain halnya bila anak – anak sekolah itu tinggal dalam satu lingkup, misalnya SP 12 (Utikini) guru bisa berkeliling dari jam 8 pagi sampai 4 sore baru semua bisa terkunjungi.

“Dampak dari masalah sekolah di gembok ini akhirnya pembelajaran semakin tidak efektif. Biasanya kalau sekolah tidak dipalang, anak – anak datang ke sekolah dan kami memberikan tugas sembari menjaga protokol kesehatan, lalu bisa memberikan sedikit penjelasan kepada anak – anak untuk menyelesaikan tugas di rumah dengan baik,” ungkapnya.

Dirinya berharap, agar permasalah antara pemilik tanah dengan pemerintah atau siapapun yang berwewenang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

“Jadi harapannya pihak terkait untuk bisa peduli supaya ada penyelesaian dan anak – anak bisa kembali datang ke sekolah, dan kami guru – guru juga bisa mudah memberikan materi kepada anak – anak,” tuturnya.

Sementara itu, Welly Murib yang mengaku sebagai pemilik lahan membenarkan dirinya melakukan penggembokan pintu dan menutup pagar sekolah.

Hal ini terpaksa dilakukan karena sejak tahun 2004, sekolah tersebut dibangun sampai saat ini pemda belum merespon terkait permasalahan tanah tersebut.

Welly mengatakan, banyak cerita terkait tanah tersebut dimana awalnya oleh pemerintah terdahulu dibuat pencanangan tanaman buah – buahan di Mimika yang dikerjakan oleh Dinas Pertanian.

Dirinya menuturkan sempat sudah ada pembayaran sebesar Rp100 juta, namun itu adalah uang ganti rugi tanaman perkebunan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Berita Terkait
Baca Juga