Tangani Stunting, Tahun ini 25 Ribu Bayi dan Balita di Mimika Harus Ditimbang

Pemberian vitamin A kepada Bayi dan Balita yang dilaksanakan setiap bulan Februari dan Agustus (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Pemberian vitamin A kepada Bayi dan Balita yang dilaksanakan setiap bulan Februari dan Agustus (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Salah satu cara untuk mengetahui data pasti dan mencegah terjadinya stunting, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika akan berusaha mencapai target penimbangan dan pengukuran bayi dan balita.

Target yang ingin dicapai tahun ini adalah 25 ribu bayi dan balita harus bisa ditimbang.

Pasalnya, tahun 2021 hanya sekitar 10 ribu bayi dan balita saja yang di timbang. Bahkan tahun sebelum-sebelumnya hanya 3 ribu bayi saja yang di timbang dan ukur.

Penimbangan dan pengukuran bayi dan balita tersebut juga untuk membantu mengetahui situasi pasti terkait stunting yang ada di Mimika.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Reynold Ubra mengatakan, semua bupati atau wali kota harus mampu menurunkan kasus stunting sebanyak 14 persen. Hal ini berdasarkan target secara nasional.

Khusus di Mimika, pada tahun 2018 sebanyak 26,49 persen kasus, dan sudah turun per Agustus 2022 sebanyak 8,99 persen. Ini artinya, jika dibandingkan  dengan target nasional, maka Mimika sudah dibawah target.

Meski demikian, menurut Reynold, hasil tersebut masih belum pasti, sebab angka bayi dan balita di Mimika sekitar 30-35 ribu orang, sementara yang ditimbang hanya 10 ribu lebih.

Untuk itu, kata Reynold, agar mencapai angka 25 ribu bayi dan balita yang harus ditimbang, maka semua stakeholder harus berkolaborasi.

“Pertama adalah kegiatan konvergensi, PKK disiapkan, pemerintah kampung dan kelurahan, kemudian pada puskesmas mereka menyusun jadwal berkolaborasi dengan ibu-ibu PKK dan juga kampung dan lurah,” kata Reynold kepada awak media di Hotel Horison Diana Timika, Kamis (11/8/2022).

Selain itu, lanjut Reynold, Posyandu harus aktif, baik dari rumah ke rumah maupun di fasilitas kesehatan dan lainnya.

“Kalau kita lihat baru separuh. Kalau tahun ini kita bisa timbang 25 ribu, maka itu clear semua yang sebelum-sebelumnya data itu hanya cuma 3 ribu dan itu tidak menceritakan situasi (stunting) di Kabupaten Mimika,” ujar Reynold.

Selain penimbangan dan pengukuran bayi dan balita, kata Reynold, pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri paling tidak 52 tablet pertahun harus diminum.

Disamping itu pemantauan berat badan bayi harus dilakukan. Sebab, banyak kasus bayi dengan berat badan yang rendah sejak tahun 2004.

“Saya amati sejak 2004 apa yang menyebabkan bayi berat rendah ?, ternyata ada 4 TERLALU, yakni terlalu muda hamil (15-16 tahun), terlalu tua diatas 35 tahun, terlalu dekat (jarak kehamilan) dan terlalu banyak,” kata Reynold.

Reynold menambahkan, nilai kearifan lokal juga menjadi kunci yang menarik untuk menurunkan stunting.

Dirinya, mengakui kebersihan dan kasus diare di wilayah pegunungan jauh lebih rendah dibanding di wilayah kota Timika.

Pasalny,  pola kearifan lokal masyarakat gunung dalam menjaga kebersihan air sangat baik.

“Sebenanrya nilai kearifan lokal masyarakat gunung harusnya di pakai, karena di Timika per hari bisa ditemukan 30 kasus diare, sedangkan di daerah gunung berbulan-bulan hanya ditemukan satu kasus, itu karena pola hidup,” ungkap Reynold.

Pemberian ASI eksklusif wajib diterima oleh bayi. Sebab, kata Reynold, banyak ibu-ibu yang memilih memberikan bayi susu formula.

“Lainnya adalah cacing, dimana obat cacing harus diberikan kepada anak-anak, juga pemberian vitamin A yang dicanangkan setiap Februari dan Agustus,” pungkas Reynold.

 

reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.