Teknik Pengendalian Nyamuk Aedes Aegypti, Vektor Penular Penyakit Kaki Gajah di Papua

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Jimmy Fastu Victorio Fandy

Filariasis atau yang dikenal umum sebagai penyakit kaki gajah atau elefantiasis yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening ini termasuk salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat di Indonesia.

Sampai saat ini masih banyak kasus yang disebabkan oleh penyakit filariasis yang terjadi. Ini merupakan permasalahan Kesehatan yang serius karena apabila tidak secepatnya ditindak lanjuti maka akan sangat berdampak buruk karena dapat menyebabkan cacat permanen pada penderita dan menyebabkan gangguan pada mental dan psikologi penderita.

Menurut data dari kemenkes pada tahun 2018, Papua merupakan daerah dengan tingkat kasus filariasis tertinggi di Indonesia dengan jumlah 3.615 kasus. Kemudian Papua memiliki iklim tropis dan menjadi daerah endemic bagi nyamuk vector filariasis sehingga pentingnya informasi dan edukasi dilakukan dengan serius demi meningkatkan kesadaran masyarakat agar semua masyarakat terhindar dari penyakit kaki gajah (filariasis). Dan juga mendukung pemerintah yang telah merecanakan program eliminasi untuk nyamuk tular vector yang diharapkan bisa mengurangi intensitas penyebaran penyakit filariasis bahkan menghentikanya.

Penyakit filariasis ini dapat ditularkan dari beberapa factor utama yaitu (manusia dan hewan sebagai reservoir), parasit (cacing), vektor (nyamuk), manusia yang rentan (host), lingkungan (fisik, biologik, ekonomi dan sosial budaya). Salah satu factor dari penularan filarisis ini adalah hewan (nyamuk) sebagai vector.

Salah satu contoh nyamuk yang dapat menularkan penyakit filariasis ini adalah nyamuk Aedes Aegypti yang mana ini terjadi ketika nyamuk yang membawa cacing filaria menghisap darah suatu individu yang mana akan menyebabkan cacing parasit filaria itu berpindah dari nyamuk ke individu yang darahnya dihisap oleh nyamuk melalui lubang/pori-pori pada bagian tubuh individu tersebut sehingga cacing filaria yang dibawa oleh nyamuk tersebut kemudian akan tumbuh pada individu baru yang tertular. Ini tentunya sangat membahayakan kesehtan kita semua bukan? Nah maka dari itu kita perlu
memahami upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran dan perkembangbiakan nyamuk vector ini agar dapat dikendalikan.

Nyamuk vektor ini dapat berkembangbiak dengan baik pada daerah endemiknya dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, serta pada lingkungan yang banyak genangan air dan juga kotor sehingga kita sangat perlu meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan juga menggunakan kelambu, produk pembasmi nyamuk dan pembasmian massal (fogging), serta menggunakan pakaian yang dapat mengurangi kemungkinan kita
tergigit nyamuk apabila kita berada pada daerah yang rawan/endemik nyamuk tersebut, sehingga kita dapat tetap terhindar dari bahaya terinfeksi penyakit filariasis.

Di samping itu, membantu meningkatkan upaya memutuskan rantai penyebaran nyamuk vector tersebut. Dengan demikian diharapkan dari informasi yang disampaikan oleh penulis melalui artikel ini dapat meningkatkan kesadaran dari masyarakat agar bisa memperdulikan kebersihan lingkungan dan turut serta membantu upaya pemerintah dalam menangani kasus penyebaran penyakit kaki gajah (filariasis) di Indonesia khusunya provinsi Papua sebagai daerah endemic dengan jumlah kasus filariasis terbanyak saat ini.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Program Studi Biologi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Ditinjau oleh: Sevianto Pakiding

(Opini merupakan pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Seputar Papua. Keseluruhan tulisan/konten menjadi tanggungjawab penulis)

Tanggapi Berita ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.