Tokoh Amungme Piet Magal Bicara Soal Musdat Lemasa

Tokoh masyarakat Amungme, Pieter Yan Magal. (Foto: Saldi/Seputarpapua)
Tokoh masyarakat Amungme, Pieter Yan Magal. (Foto: Saldi/Seputarpapua)

TIMIKA | Tokoh Amungme Pieter Yan Magal buka suara soal polemik Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) yang kini terdapat dua kelompok baik versi Stingal John Beanal yang masih mengklaim diri sebagai direktur eksekutif maupun Fransiskus Pinimet yang baru-baru saja dilantik setelah menyelenggarakan musyawarah adat (Musdat) III Lemasa.

Kepada awak media di kediamannya Jalan Mambruk (jalan Restu), Mimika, Papua Tengah, pada Sabtu (21/1/2023) malam, Pieter Yan Magal yang akrab dipanggil Piet Magal atau Yan Magal, menjelaskan soal saling klaim atau dualisme Lemasa.

Ia mengatakan, klaim Stingal John Beanal sebagai Direktur Eksekutif (Definitif) Lemasa sangat tidak tepat dan tanpa dasar. Apalagi soal kepengurusan yang diklaim akan berakhir pada tahun 2026.

Hal itu dipertanyakan Piet Magal. Sebab ia bersama tiga tokoh lainnya yakni Elminus Mom, Agustinus Anggaibak, dan Martinus Magal yang kini sudah wafat, adalah orang-orang yang dipercayakan sebagai tokoh independen atau netral pada saat itu untuk menentukan langkah menyikapi bagaimana kondisi Lemasa pada saat itu.

Sehingga, setelah empat tokoh ini bertemu dan berembuk beberapa hari lantaran dipercayakan oleh masyarakat Amungme, akhirnya diambil resolusi yang diputuskan pada 10 Agustus 2019. Kemudian memberi mandat kepada Stingal John Beanal untuk menjalankan tugas Lemasa pada tahun 2019 itu, setelah lengsernya Odizeus Beanal.

Beberapa poin menjadi tugas utama Stingal John Beanal saat ditunjuk menakhodai Lemasa saat itu. Salah satu tugas paling penting adalah mempersiapkan pelaksanaan musdat ke III Lemasa.

Kesepakatan saat itu, Stingal John Beanal ditunjuk menakhodai Lemasa per tanggal 14 November 2019 hingga 14 November 2021.

“Karena batas waktu 2 tahun yang kami berikan sudah lewat. Orang-orang tersebut sudah melampaui batas waktu yang kami berikan, dan kami tidak melihat adanya musdat,” ujar Piet Magal.

Sementara soal klaim sebagai direktur eksekutif definitif Lemasa, Piet Magal malah mempertanyakan kapan dan dimana musdat itu berlangsung. Sebab, untuk pemilihan direktur definitif Lemasa, sesuai anggaran dasat dan rumah tangga (AD/RT) hanya bisa diangkat atau dipilih melalui musyawarah adat.

“Sedikit kaget. Karena ada orang yang tiba-tiba muncul mengklaim diri sebagai pendiri Lemasa. Sepengetahuan saya, orang yang mengklaim diri sebagai pendiri Lemasa itu, dia bukan pendiri Lemasa, dia pendiri Yayasan Lemasa,” tandasnya.

Karena itu, Piet Magal berencana besok, Senin 23 Januari 2023, akan memanggil Elminus Mom dan Agustinus Anggaibak untuk membahas masalah yang terjadi sekaligus mengambil sikap atas klaim yang terjadi.

“Justeru musdat ini tumbuh dari bawah. Jadi masyarakat bergotong royong sampai sumbang menyumbang duit baru mereka lakukan musdat,” ujarnya.

“Sedangkan Anda (Stingal John Beanal) yang kami kasih tugaskan, ada dimana? Saya kira itu hal yang patut kami pertanyakan, karena mereka tidak bisa duduk atasnama masyarakat, terus menyelewengkan apa yang seharusnya menjadi hak masyarakat,” imbuhnya.

Terkait musdat III Lemasa yang sudah dilaksaksanakan dan berhasil melahirkan keputusan bersama memilih Fransiskus Pinimet sebagai Direktur Lemasa, Piet Magal memberikan apresiasi.

Begitu juga terkait 14 resolusi yang menjadi tugas utama dalam kepemimpinan Fransiskus Pinimet di Lemasa, Piet Magal mengatakan selama resolusi itu baik untuk masa depan dan generasi masyarakat suku Amungme, ia tetap akan mendukung.

Piet Magal berani berbicara soal Lemasa lantaran ia bersama ayahnya adalah orang yang memberikan dukungan penuh kepada Tom Beanal untuk mendirikan Lemasa. Tak hanya itu, Piet Magal menjadi staf pertama di Lemasa meski saat itu dia bekerja di PT Freeport Indonesia.

“Tidak ada yang tahu tentang bagaimana sejarah Lemasa didirikan. Semua takut (pada saat Lemasa akan didirikan), masih daerah DOM disini. Jadi waktu kami dirikan Lemasa itu, semua Amungme bubar, tidak ada mau mendukung,” katanya.

“Sekarang semua sudah tenang, semua mulai hormat pada Lemasa, tunduk dan angkat topi, dan satu per satu datang bahkan sampai tepuk dada bilang saya punya, dan makan duit banyak. Kami tidak pernah mendirikan Lemasa untuk duit, bahkan sampai jual tanah,” imbuhnya.

Karena itu, ia mengharapkan adanya jiwa pengorbanan dari pihak atau kelompok Amungme sendiri yang mengklaim diri sebagai yang berhak di Lemasa. Hal ini ia maksudkan untuk menyudahi polemik Lemasa, agar kedepan Lemasa dapat dibenahi dan kembali menjadi satu untuk mempersatukan masyarakat Amungme di Bumi Amungsa.

“Lemasa yang ada berapa kubu itu, demi Amungme, harus ada yang berkorban. Ajaran Kristus itu, dia berkorban demi semua orang yang dia tidak kenal,” pungkasnya.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Saldi
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.