UKSW Salatiga Beberkan Kondisi Riil Peserta Beasiswa YPMAK

Yayasan Pemberdayaan Amungme Kamoro (YPMAK) pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia lakukan monitoring dan evaluasi mahasiswa peserta beasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Rabu (21/9/2022). (Foto: Yonri/Seputarpapua)
Yayasan Pemberdayaan Amungme Kamoro (YPMAK) pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia lakukan monitoring dan evaluasi mahasiswa peserta beasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Rabu (21/9/2022). (Foto: Yonri/Seputarpapua)

SALATIGA | Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia kembali melanjutkan kunjungan ke Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, pada Rabu (21/9/2022).

Pada dialog terbuka bersama mitra UKSW, Tim Monev YPMAK menerima penjelasan spesifik terkait perkembangan 58 mahasiswa asal Mimika yang selama ini mendapat bantuan beasiswa YPMAK di lembaga pendidikan tersebut.

Sekedar diketahui, dari 58 mahasiswa saat ini tersisa 52 orang. 6 mahasiswa lainnya dikeluarkan lantaran dinilai tidak mampu mengikuti aturan yang diterapkan UKSW Salatiga.

Dalam acara tatap muka di Balairung UKSW, Roy Sihainenia selaku Koordinator Mitra UKSW memaparkan kondisi riil yang dialami para mahasiswa penerima beasiswa YPMAK serta berbagai tantangan yang dihadapi pihak universitas berhadapan dengan mahasiswa.

“Soal laporan kami sudah buat khusus perkembangan masing-masing mahasiswa selama ini. Saya mau ada format yang pas sebagai indikator penilaian sesuai pedoman yang dikeluarkan YPMAK,” ujarnya.

Menurut dia, kebiasaan mabuk-mabukan mahasiswa sudah berkurang. Namun yang menjadi kendala, ada mahasiswa atau mahasiswi yang sering mengalami gangguan kesehatan. Kondisi ini mempengaruhi perolehan IPS dan IPK mereka.

“Ada mahasiswi yang masuk rumah sakit beberapakali. Akibatnya IPK dan IPS tiga kali berturut-turut 0 koma. Diagnosa berbeda-beda, awal penyakit jantung bawaan, tahun kedua apendix, tahun ketiga pergi masuk RS jogja. Pernah rawat di Semarang, Salatiga, Jogja. Terhadap hal ini kita perlu sepakati apakah tetap dibiayai YPMAK atau bagaimana. Karena itu mempengaruhi pembiayaan dan lamanya masa kuliah,” bebernya.

Selain dua persoalan tersebut, masih banyak hal lain yang disampaikan Roy Sihainenia serta tiga pendamping Giner Maslebu, Debora Natalia dan Desy.

Sebagai bentuk evaluasi, Tim Mitra UKSW menyerahkan data lengkap kondisi mahasiswa serta evaluasi selama menjalani masa studi di UKSW.

Roy juga menjelaskan agar tidak menyulitkan mahasiswa dalam pembelian laptop, pihaknya memberlakukan pemotongan uang belanja bulanan sebesar Rp500 ribu.

“Kami siapkan dana awal beli laptop misalnya Rp 5 juta. Nanti kami potong Rp 500 ribu setiap bulan selama 10 bulan. Sehingga sekarang semua mahasiswa beasiswa YPMAK ada laptop,” jelasnya.

Wadir Program dan Monev YPMAK Ifha Nur Karupukaro dihadapan Koordinator dan pendamping mahasiswa UKSW menyampaikan terima kasih lantaran penerapan sistem di UKSW dinilai sudah maksimal.

“Memang untuk keberhasilan studi tergantung anak-anak itu sendiri. Kami menyampaikan terima kasih kepada UKSW yang terus memberi motivasi setiap mahasiswa. Tujuan monitoring ini dalam rangka evaluasi perkembangan mahasiswa. Memang indeks prestasi sangat menurun. Ini informasi baik sekali bagi kami untuk evaluasi,” tukasnya.

Ia juga mengapresiasi kebijakan pemotongan uang saku untuk setiap mahasiawa agar bisa membeli laptop.

“Ini juga sangat membantu mahasiswa. Kedepan nanti kami punya database online yang selalu diisi mitra supaya kami bisa melihat perkembangan masing-masing mahasiswa,” paparnya.

Sementara terkait kesehatan mahasiswa, YPMAK juga akan memasukkan mahasiswa penerima beasiswa sebagai peserta BPJS kesehatan.

Tanggapi Berita ini
reporter : Yonri
editor : Felix

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.