Umat Budha Harap Pembangunan Cetya Sesuai RAB, Jendela dan Pintu Tidak Sesuai

Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Mimika, Jemy Mulyono bersama dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Panitia Pembanguna Yayasan Bodhi Mandala. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Mimika, Jemy Mulyono bersama dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Panitia Pembanguna Yayasan Bodhi Mandala. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Mimika, Jemy Mulyono bersama dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Panitia Pembanguna Yayasan Bodhi Mandala berharap agar pembangunan Cetya di SP6 sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Pasalnya Jemy saat melakukan kunjungan untuk melihat proses pembangunan Cetya di SP6 menemukan ada pekerjaan yang tidak pas.

“Saya hubungi pengawas, sampaikan saya minta RAB supaya kami tau pekerjaan ini pakai bahan apa karena kami lihat ada yang tidak pas di lapangan karena sudah mulai pengecoran,” kata Jimy di Vihara Bodhi Mandala, Senin (12/9/2022).

Pihaknya kemudian mencoba menghubungi bagian kesejahteraan rakyat agar bisa difasilitasi bertemu dengan kontraktor dan konsultan untuk mengetahui spesifikasi pembangunan, sebab jika disesuaikan dengan RAB menurut mereka ada yang tidak pas.

“Spek yang dipakai pembangunan di sana itu tidak pas. Tapak fundasi pakai pasir cor. Tapi RAB nya ternyata ada batu pecah, dari pengawas sampaikan kalau itu adalah RAB dari konsultan perencana. Kami berharap pekerjaan jangan ada penurunan kualitas harus sesuai dengan RAB. Seharusnya dari awal pakai batu pecah. Jika kontraktor bmenggunakan pasir cor apakah sama dengan kualitas beton pada umumnya,” jelasnya.

Menurutnya, ini merupakan tempat ibadah yang sakral dan tidak bisa disamakan dengan pembuatan bangunan lainnya.

” Kalau dari Kesra mau berhenti, berhenti saja karena kita tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena tidak sesuai. Kemungkinan akan terjadi kalau kurang pengawasan karena jangan sampai terjadi temuan,” ungkapnya.

Untuk itu pihaknya berharap agar kontraktor bisa bekerja sesuai dengan RAB.

Dikatakan, mengenai perencanaan pembangunan Cetya ini sudah sejak dua tahun lalu hanya saja terbentur dengan pandemi covid-19 sehingga baru dilaksanakan tahun ini.

“Tepatnya tahun lalu sudah kita clearkan semua proposal yang diminta, kemudian dari pihak konsultan sempat beberapa kali datang cek lokasi tanya terkait dengan gambar itu. Saya sampaikan ke mereka bahwa saya minta pembangunan ini agar bisa selesai tahun ini, jika ada yang mau dikurangi saya setuju jika direvisi agar dananya bisa cukup,” jelasnya.

Sehingga mereka jmemberikan ruang untuk konsultan merevisi gambar, namun hingga desaj. disetujui, konsultan pihak panitia pembangunan tidak dikoordinasikan mengenai desain yang terbaru.

“Ada bagian yang menurut kami juga tidak pas yaitu kusen pintu dan jendela, Namun setelah kita komplain konsultan katakan tidak bisa sebab waktunya mepet. Kami rasakan terkesan pekerjaan proyek ini dipaksakan sehingga tidak sesuai dengan mau kami,” ungkapnya.

Untuk itu pihaknya sementara berkomunikasi lagi sebab selain fundasinya juga model jendela dan pintu yang menurut mereka tidak pas.

“Namanya pembangunan rumah ibadah harusnya kita saling koordinasi, tapi mengenai gambar, kami tidak dikoordinasikan tiba-tiba sudah ada pembangunan. Sehingga sementara kami putuskan untuk pembangunannya diberhentikan saja dulu, sambil menunggu keputusan yayasan,” pungkasnya.

Sementara itu dari pihak Kontraktor pelaksana yakni Agustinus selaku pengawas menjelaskan pihaknya sudah mengikuti RAB.

“Saya sebagai kontraktor pelaksana, kami sudah ikuti acuan yang ada, tapi di sini pengerjaan pertama adalah slop sehingga batu kerikilnya belum terpasang,” pungkasnya.

 

reporter : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.