Uskup Agung Sebut Kondisi Pendidikan di Pedalaman Merauke Memprihatinkan

Uskup Agung Merauke, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC berfoto bersama wartawan.
Uskup Agung Merauke, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC berfoto bersama wartawan.

MERAUKE | Uskup Agung Merauke, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC menyebutkan kondisi pendidikan di beberapa pedalaman Kabupaten Merauke, Papua sangat memprihatinkan.

Kegiatan belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana harusnya, karena sejumlah guru tidak berada di tempat tugas.

Uskup Mandagi menyatakan, hal tersebut dilihat dan didengarnya secara langsung dari masyarakat ketika melakukan kunjungan Kanonik di wilayah Distrik Kimaam dan Ilwayab pada dua pekan lalu.

“Tanggal 16-20 Mei 2022, saya melakukan kunjungan resmi di Kimaam dan Ilwayab. Saya berjumpa dan berdialog dengan masyarakat semua elemen, saya juga melihat banyak hal,” kata Uskup Mandagi, Sabtu (4/6/2022).

Ia juga mengungkapkan hal-hal memprihatinkan terkait kehidupan masyarakat di sana. Keadaan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan berbanding terbalik dengan kondisi daerah yang kaya akan sumber daya alam itu.

“Pendidikan di sana hancur. Guru-guru di mana? Ada di Merauke, terima gaji tinggal di Merauke sini dan tidak mengajar,” ujarnya.

“Masyarakat bilang ada beberapa guru saja, tapi itu juga hanya urus jaring ikan. Anak-anak menjadi terlantar, sungguh memprihatinkan,” sambung Uskup.

Uskup Agung Merauke mengkritisi Dinas Pendidikan setempat yang dinilai jarang melakukan kunjungan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan di kampung-kampung.

“Saya akan tanya kepada bupati, bagaimana kepala dinas di sini? Tidak ada pengawasan terhadap guru-guru,” katanya.

Uskup Mandagi menambahkan bahwa ia telah meminta stafnya untuk menginventarisasi para guru di seluruh  sekolah yayasan Katolik dalam wilayah Keuskupan Agung Merauke, untuk mengetahui apakah guru bersangkutan melaksanakan tugas atau tidak.

“Gereja bertekad untuk meningkatkan pendidikan. Jika ada guru Katolik yang tidak melakukan tugasnya, maka kita akan pecat. Kita butuh guru yang benar-benar mengabdi,” imbuhnya.

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka mengakui, penyelenggaraan pendidikan di kampung-kampung tidak optimal.

Pemerintah daerah telah berupaya memperbaiki manajemen pendidikan dan mengaktifkan fungsi kontrol terhadap kegiatan belajar mengajar di pedalaman.

“Masalah pendidikan ini memang selalu dikeluhkan masyarakat. Para guru tidak ada di tempat tugas. Kita akan menyiapkan model terpadu fungsi kontrol, juga membenahi manajemen pendidikan,” kata Romanus.

Ia menambahkan, perbaikan manajemen pendidikan di Merauke dilakukan dengan melihat pokok persoalan, sehingga masalah dimaksud dapat diperbaiki secara efektif dan efisien.

 

reporter : Emanuel
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.