Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe Terima Penghargaan AKI

AKI | Penerimaan penghargaan AKI oleh Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe. (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)
AKI | Penerimaan penghargaan AKI oleh Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe. (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

TIMIKA | Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe menerima apresiasi penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) kategori Pelestari Budaya tahun 2021 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Anugerah Kebudayaan Indonesia adalah program apresiasi/penghargaan tahunan di bidang Kebudayaan dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada individu, kelompok, dan/atau lembaga yang berkontribusi, berprestasi dan berdedikasi tinggi terhadap upaya Pemajuan Kebudayaan (Pelindungan, Pengembangan, Pembinaan dan Pemanfaatan) Indonesia.

Program tahunan yang telah berlangsung sejak tahun 2012 ini menjadi bentuk komitmen pemerintah terhadap Pemajuan Kebudayaan dalam rangka pembangunan jati diri dan penguatan karakter bangsa Indonesia.
 
Kehadiran Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe sebagai mitra Pemerintah Daerah di tengah seniman Kamoro telah memberi kontribusi nyata bagi upaya pelestarian budaya Kamoro di Kabupaten Mimika.

Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mimika memandang konsistensi dan upaya yang dilakukan Yayasan Maramowe patut mendapatkan apresiasi dan menjadi teladan, yang kemudian mendaftarkan Yayasan dalam ajang Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021.

Penyerahan piagam dan dana pembinaan sebesar Rp50 juta oleh Asisten I Bidang Pemerintah dan Kemasyarakatan Setda Mimika, Julianus Sasarari didampingi Perwakilan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Siswanto kepada pengurus yayasan di Hotel Rimba Papua, Timika, Senin (24/1/2022).

Yayasan Maramowe menerima penghargaan untuk kategori pelestari dari Bidang Karya Pelestari Budaya Kamoro.

Perwakilan Direktorat Pembunaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK), Siswanto menyampaikan apresiasi dari pemerintah pusat kepada pemerintah dan PT Freeport Indonesia atas dukungannya kepada yayasan yang memperhatikan keberlangsungan dan melestarikan budaya suku Kamoro.

“Saya bangga sekali karena Freeport kerja sama dengan yayasan, untuk melestarikan budaya di Mimika ini dengan mempertahankan nilai-nilai keasliannya,” katanya.

Siswanto berpesan kepada pengurus Yayasam Maramowe agar selain budaya tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.

Karena menurutnya budaya membutuhkan bahan atau membutuhkan lingkungan maka kelestarian lingkungan ini juga dinilai penting.

“Mudah-mudahan ini bisa kita bina bersama dan kami dari pusat mengapresiasi,” ujarnya.

Julianus Sasarari saat membacakan sambutan Bupati Mimika Eltinus Omaleng mengaku sangat bangga dan berbahagia atas prestasi yang diraih Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe yang diselenggarakan oleh Kemendikbud.

“Atas nama pemerintah daerah tentunya saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada pemerintah pusat dalam hal ini Kemendikbud dan Yayasan Maramowe Weaiku atas kontribusi dan prestasi yang diperoleh dalam rangka melestarikan dan juga melakukan kesinambungan terhadap seni dan budaya yang ada di Papua secara khusus di Mimika,” kata Julianus.

Melalui ini pemerintah pusat telah memberi peluang bagi individu, kelompok maupun lembaga untuk berkompetisi di tingkat daerah dan nasional sebagai upaya pengembangan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Keberagaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia di tengah dinamika perkembangan dunia.

Untuk itu menjaga dan melestarikan budaya lokal merupakan tanggung jawab kita bersama karena kebudayaan merupakan investasi untuk membangun masa depan bangsa dan masyarakatnya.

“Saya berharap penyerahan anugerah ini akan memberikan motivasi kepada kita semua untuk lebih meningkatkan kepedulian kita dalam menjaga dan melestarikan seni dan budaya yang ada di Kota Timika,” ucapnya.

Diakhir sambutannya, Sasarari menyampaikan terima kasih kepada manajemen PT Freeport Indonesia yang selain bergerak di bidang pertambangan tetapi juga memperhatikan dan meningkatkan masyarakat asli khusus suku Amungme dan Kamoro dalam bidang-bidang ekonomi tetapi juga kebudayaan.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Maramowe Weaiku yang punya hati ketika ada di tempat ini hadir untuk melestarikan budaya-budaya Kamoro yang adalah bagian yang terpenting kehidupan leluhur dari pemilik negeri dan tanahnya kita,” pesannya.

Manager Institutional Relations PT Freeport Indonesia, Ricardo Komul menyampaikan selamat kepada Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe atas pencapaian anugerah kebudayaan Indonesia tahun 2021.

“Ini bukan kaleng-kaleng tetapi dengan upaya yang sudah berjalan lama kita lihat hasilnya mereka sudah capai ada apresiasi tertinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ucapnya.

Dia mengunggkapan, Yayasan ini sudah didampingi Freeport sejak tahun 1966.

Sejak saat itu ada berbagai kegiatan yang dilakukan diantaranya Kamoro Kanguru di Logpon dan Hiripau.

“Jadi ada bikin Mbitoro, ada lomba panggayo dalam Sungai dan semua itu Freeport terlibat dan  mendukung. Kemudian ada juga festival Asmat dan beberapa kegiatan budaya lainnya,” kata Ricardo.

Hal ini, menurut dia, menunjukkan bahwa Freeport bekerja dan hadir di tengah masyarakat dengan mendukung pengembangan budaya.

PT Freeport juga berkomitmen untuk mendukung pengembangan budaya-budaya lokal dimana perusahaan beroperasi.

Komitmen ini juga disesuaikan dengan standar internasional. Ada beberapa standar praktik pertambangan internasional secara global yang mana perusahaan-perusahaan pertambangan di dalam kelompok itu diharuskan melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya dimana perusahaan beroperasi.

“Ini satu komitmen Freeport yang perlu kita apresiasi dan banggakan karena Freeport tidak hanya kerja di pertambangan tetapi juga terlibat di dalam pengembangan ekonomi dan kebudayaan masyarakat lokal,” tuturnya.

“Jadi ini satu komitmen Freeport dalam pelestarian budaya kita tetap mendukung men-support Yayasan Maramowe Weaiku,” tambahnya.

Penghargaan ini diharapkan bisa memberikan semangat dan motivasi untuk lebih mengembangkan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.

Kedepannya Freeport akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan dinas terkait yang relevan dengan kegiatan pengembangan dan pemberdayaan masuarakat atau seni dan budaya.

Herman Kiripi yang menerima penghargaan AKI mengaku bangga bisa meraih penghargaan ini. Dia menjelaskan nama Maramowe berarti seorang pengukir muda.

Pengurus yayasan ketika turun ke kampung selalu mengajak dan mengarahkan para pemuda untuk belajar mengukir agar ukiran ini hilang.

“Jadi saya terima kasih kepada kementerian dan Freeport yang sudah mendukung kami,,” katanya.
 
*Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe*
 
Nama yang sulit dilafalkan oleh banyak lidah, namun memiliki makna besar. Maramowe berarti pengukir, Weaiku bisa berarti orang yang hebat atau generasi muda dan Kamorowe adalah orang Kamoro.

Dapat diartikan sebagai “Orang Kamoro adalah Seniman Ukir yang Hebat” atau “Seniman Ukir Muda Kamoro”, mewakili fakta bahwa karya ukir Kamoro dapat disejajarkan dengan karya budaya hebat lainnya dan regenerasi berlanjut atas upaya pelestarian yang telah dilakukan.
 
Upaya pelestarian budaya Kamoro mulai dirintis sejak tahun 1996 oleh Dr. Kal Muller yang menjadi penasihat di Yayasan Maramowe. Dimulai dengan menggelar Pesta Budaya Kamoro atau Kamoro Kakuru yang menjadi sarana promosi budaya ini kepada publik.

Bagi para seniman Kamoro, pesta budaya ini merupakan titik awal bangkitnya seni ukir yang sempat meredup dan kembalinya rasa percaya diri para pengukir oleh apresiasi yang diberikan para pengunjung.

Perhelatan besar yang didukung penuh oleh PT Freeport Indonesia beserta perusahaan privatisasi dan kontraktor yang mendukung operasional tambang di Kabupaten Mimika.
 
Ketika Festival Kamoro berakhir di tahun 2005 dan semangat berkarya para seniman telah pulih, Yayasan Maramowe menyusun berbagai program kerja untuk membantu para seniman dalam memasarkan produk mereka.

Dukungan dana dan berbagai fasilitas dari PT Freeport Indonesia memungkinkan program kerja Yayasan Maramowe berjalan lancar.

Promosi budaya kian gencar dilakukan, baik melalui kegiatan pameran dan penjualan karya seni (ukir dan anyam), pertunjukan seni (musik, tari dan lagu), publikasi positif dan kampanye budaya.

Tim kerja di Yayasan Maramowe aktif mendokumentasikan kegiatan budaya dan pesta adat, menggali informasi dan mengumpulkan catatan sejarah, hingga menerbitkan serial buku tentang Papua.

Di samping itu, memperkenalkan budaya Kamoro melalui dunia pendidikan demi menumbuhkan rasa cinta akan ragam budaya di Indonesia pada generasi muda, karena budaya merupakan jati diri dan identitas bangsa.
 
Yayasan Maramowe telah menjadi rumah bagi lebih dari 500 orang seniman Kamoro. Upaya pelestarian, pemberdayaan, pendampingan dan promosi budaya Kamoro akan terus berlanjut.

Penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kepada Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe untuk kategori Pelestari dengan karya Pelestari Budaya Kamoro menjadi hadiah yang indah, tepat pada tahun ke-25 tim kerja mendampingi para seniman Kamoro.

Pencapaian ini tidak lepas dari dukungan para mitra kerja, kinerja tim Yayasan dalam melakukan pelayanan dan peran besar para seniman dalam berkarya.

 

reporter : Anya Fatma

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.