124 KK di Mimika Dilatih Budidaya Ternak Ayam Buras dan Babi

Para peserta sosialisasi ternak ayam buras dan babi yang mengikuti pelatihan. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua(
Para peserta sosialisasi ternak ayam buras dan babi yang mengikuti pelatihan. (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika, Papua Tengah memberikan sosialisasi dan pelatihan budidaya ternak ayam buras atau ayam kampung, dan ternak babi kepada 124 kepala keluarga (KK).

Kegiatan yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus) digelar di Aula Bobaigo, Keuskupan Timika, Kamis (21/7/2022).

Dari 124 KK, 28 KK merupakan peternak ayam buras, dan 96 KK peternak babi. 

Kegiatan ini bertujuan untuk membantu para peternak dalam memecahkan berbagai persoalan pemeliharaan ayam buras dan babi, seperti pakan, kandang dan kesehatannya.

Termasuk pemasarannya agar dapat mencapai tujuan meningkatkan produksi hasil ternak, meningkatkan pendapatan peternak, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak agar dapat menjadi sumber bibit ternak ayam buras dan babi.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Sabelina Fitriani mengatakan, hari ini selain penerima paket bantuan ternak tahun 2022 (pakan dan perlengkapan kandang) ada juga peternak tahun 2021 yang undang untuk ikut pelatihan.

“Namanya ilmu pengetahuan bisa banyak belajar karena nanti narasumber bisa berdiskusi terkait bagaimana merawat kandang dan merawat hewan ternak babi dan ayam,” jelasnya.

Untuk tahun ini, kata Sabelina ternak babi tidak sebanyak tahun sebelumnya karena tahun ini pihaknya fokus di ayam kampung.

“Tahun ini kita sebar (ayam) di Distrik Amar dan Kapiraya sebanyak 266 KK, dan di Timika ada 26 KK, sementara ternak babi hanya 50 KK yang tersebar 3 KK di Amar dan 47 KK di Timika,” jelasnya.

Menurutnya hal ini dilaksanakan agar melalui dana Otsus masyarakat tidak hanya mengembangkan peternakan babi, tapi juga bisa mengembangkan peternakan ayam bahkan sapi maupun kambing.

“Kita berharap semua masyarakat disini bisa memelihara hewan lain seperti kambing, sapi supaya bervariasi. Karena kita punya lahan banyak, rumput banyak tapi yang pelihara sapi dan kambing hanya sedikit padahal pemakan daging sapi banyak disini terpaksa ambil dari luar. Sehingga perlu dikembangkan supaya tidak datangkan dari luar,” pungkasnya.

reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.