Menanti Harapan Cerah Setelah Nama Kamoro Menjadi Mimika Wee

PERARAKAN | Salib Yesus yang diarak oleh ribuan masyarakat Mimika bersama Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, Sabtu (23/4/2022) (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
PERARAKAN | Salib Yesus yang diarak oleh ribuan masyarakat Mimika bersama Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, Sabtu (23/4/2022) (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

Dua suku asli di Kabupten Mimika adalah Kamoro dan Amungme. Kamoro mendiami pesisir dan Amungme pegunungan.

Hidup masyarakat Suku Kamoro tidak terlepas dari 3S (Sagu, Sampan, dan Sungai), karena mata pencaharian masyarakat di Pesisir Mimika adalah nelayan dan mencari sagu. Mereka lebih nyaman tinggal di pinggiran sungai. Masyarakat Mimika sangat erat dengan budaya, alam dan ukiran dari kayu.

Masyarakat Suku Kamoro ini tidak hanya mendiami sejumlah distrik di Pesisir Mimika, yakni Mimika Tengah, Mimika Timur, Mimika Barat, Mimika Barat Jauh, Mimika Pantai, Mimika Timur Jauh, Mimika Barat Tengah, Amar, Jita dan Iwaka. Mereka juga tinggal di sebagian wilayah di Kota Timika dan Distrik Mimika Timur.

Istilah Suku Kamoro mulai dikenal sejak tahun 1996. Sebelumnya dikenal dengan sebutan Mimika Wee. Saat ini nama Mimika Wee kembali digaungkan untuk menggantikan istilan Suku Kamoro melalui rekonsiliasi yang dilakukan di Kampung Kokonao, Distrik Mimika Barat, Sabtu-Minggu (24/4/20220).

Tokoh Kamoro juga ketua panitia rekonsiliasi, Dominikus Mitoro menjelaskan sejarah Mimika Wee menjadi Kamoro, kemudian kembali menjadi Mimika Wee.

Sekilas Mimika Wee

Menurut Dominikus Mitoro, sesuai cerita jaman dulu, nama suku Mimika diambil karena Mimika memiliki daerah aliran sungai yang besar dan memiliki arus. Sungai tersebut bernama Mimiaika. Mimi artinya Air dan Aika artinya arus sehingga Mimiaika adalah Arus dari gunung.

“Dari nenek moyang kami disebut suku Mimika karena diambil dari nama sungai oleh orang Portugis waktu jaman dulu,” kata Dominikus.

Mengapa Menjadi Kamoro?

Dominikus Mitoro bercerita nama Kamoro berasal dari kata ‘Kamoroiku’ yang berarti orang hidup.

Nama Kamoro itu muncul saat tahun 1996 disaat PT.Freeport Indonesia mulai membagikan dana 1 persen.

Nama Mimika Wee berubah menjadi suku Kamoro karena nama sebuah Yayasan yang dibentuk sebagai syarat untuk menerima dana tersebut.

“Yayasan itu namanya Yayasan Kamoro, pendirinya adalah Jack Renwarin, saya juga salah satu pendirinya bersama dengan Apol Takati dan Apol Mameyao,” kata Dominikus.

Ia bersama Apol Takati dan Apol Mameyao sempat tidak ingin agar nama berubah, namun menurut para petua-petua yang juga kepercayaan saat itu di dunia ada orang hidup dan setan.

Dimana terjadi pertentangan antara Kamoroaiku dan Bee (setan), lalu yang menang adalah Kamoroaiku atau orang hidup sehingga nama diubah menjadi Kamoro.

“Akhirnya orang tua-tua waktu itu bilang sudah dorang panggil kita orang Kamoro saja karena kita ini orang hidup,” ujarnya.

 

PERARAKAN | Salib Yesus yang diarak oleh ribuan masyarakat Mimika, Sabtu (23/4/2022) (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

 

Harus Kembali Menjadi Mimika Wee

Setelah perubahan nama Kamoro, seiring berjalannya waktu menurut masyarakat ada sesuatu yang mengganjal, meski orang hidup menang, namun setan tidak mau meninggalkan manusia dan terus mengganggu kehidupan masyarakat.

“Kita berpikir nama Kamoro ini beban bagi kita ada sesuatu yang mengganjal sehingga kita harus berubah, nama Mimika harus kembali lagi,” katanya.

Salah satu anak perintis yang juga Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johannes Rettob memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat asli Mimika, sebab selain lahir di tanah Mimika, namun ia juga merupakan generasi ke-6 anak perintis para moyang sebelumnya yang masuk ke Mimika tahun 1927. Kakeknya Alexander Joseph Tawemeon Rettob, dan ayahnya Caspar Rettob wafat di Kokonao usai mengabdi di tanah Mimika. Dijelaskan hingga tahun 1999, nama suku masih dengan sebutan Mimika Wee.

“Setelah tahun 2001 saya kembali ke Timika dari Jakarta karena bekerja, lalu saya balik, nama suku sudah berubah menjadi Kamoro,” ungkapnya.

Saat itu ia berpikir suku Kamoro adalah masyarakat yang tinggal di Iwaka, Miyoko, dan Atuka .Itupun namanya adalah Kamora karena mengikuti nama sungai. Saat itu ada sungai selain Kamora, juga Ajikwa, dan Otomona.

Dulunya, kata John ada beberapa kampung suku Mimike Wee seperti ada Koperapoka, Negerpi, Nawaripi, Waonaripi yang aksen bahasanya agak berbeda. Selain itu di area sungai Wania ada kampung Hiripau, Kaugapu, Mware, dan Pigapu, di ujung Timur Mimika ada Kampung Omoga, Inauga, dan Otakwa.

Ada juga Sempan Timur yakni Faka Fuku, Sumapro, ke arah Barat ada Kampung Timika, Kekwa, Aikawapuka, Kokonao, Ipiri, Paripi, Yaraya, Amar, Karwar, Manoware, Kipiaz Mapar, Kapiraya, Uta, Wakia, Pronggo, Umar, Aindua dan Potowaiburu. Diantara kampung-kampung tersebut, ada yang namanya sudah hilang ada pula yang sudah dimekarkan.

Diungkapkan John, Pusat Kota Timika saat itu masih hutan belantara yang dijadikan masyarakat sebagai tempat berburu dan mencari rotan. Namun seiring berjalannya waktu, masuknya Freeport ada tiga kampung yaitu Koperapoka, Nawaripi, dan Nayaro yang direlokasi ke tempat yang saat ini menjadi pusat kota Timika hingga kini kota Timika menjadi pusat keramaian.

Tahun 1927 dengan kondisi yang terbatas kemudian ada sekolah-sekolah yang diatur oleh Yayasan Katolik. Anak-anak dijaman itu semua bersekolah setelah selesai pendidikan dasar di kampung mereka lalu melanjutkan pendidikan guru di Fak-fak, Merauke, Jayapura ada juga di Biak saat itu.

Orang Mimika sebenarnya pada saat itu sudah banyak yang menjadi guru bahkan tersebar di beberapa wilayah di Papua seperti Sorong, Fak-fak, Kaimana, Jayapura, dan hampir semua pegunungan tengah, pegunungan bintang, Jayawijaya, juga di Paniai.

Orang asli Mimika juga bahkan saat itu pernah menjadi kepala dinas pariwisata, pendidikan dan jabatan strategis lainnya bahkan sampai di luar Papua seperti di Sulawesi tengah, Jakarta dan Cilacap.

“Contoh juga bupati pertama Timika adalah Titus Octovianus Potereyauw yang sebelumnya sudah sering menjadi kepala dinas, camat dan lainnya saat Mimika masih tergabung dengan Kabupaten Fak-fak,” jelasnya.

Sehingga ada harapan dari masyarakat agar semangat yang dulu sebagai Mimika Wee bisa bangkit kembali.

 

Sekertaris Aliansi Pemuda Kamoro (APK), Rafael Taorekeyau mengatakan sejauh ini orang Mimika mengalami keterpurukan di Timika khususnya dan Papua pada umumnya.

“Kami mengalami kemunduran di 50 tahun belakangan ini. Sehingga kami mencoba merefleksikan itu, memikirkan hal itu bagaimana caranya supaya kita bergerak kedepan dan memulainya dan kami putuskan untuk membuat kegiatan ibadah rekonsiliasi atau misa pengampunan,” katanya.

Sampai saat ini banyak masyarakat yang merindukan nama Mimika Wee kembali disebut.

“Kita sebenarnya menyatakan diri kita Mimika Wee. Kamoro itu baru disebut tahun 1996. Kita masih menyebut diri kami itu Mimika,” ungkapnya.

Dilakukan Rekonsiliasi

Hari ini, Sabtu (22/4/2022), menjadi hari bersejarah bagi masyarakat asli Mimika di Pesisir Pantai.

Dimana mereka mulai mengadakan rekonsiliasi yang dilaksanakan dua hari berturut-turut.

Mengangkat tema menemukan sejarah keselamatan dan menatap masa depan, seluruh masyarakat dari Nakai sampai Potowaiburu berkumpul di Kokonao untuk mengikuti prosesi penanaman salib.

Rekonsiliasi ini merupakan agenda dari Keuskupan saat jaman Almarhum Uskup John Philip Saklil dan baru bisa terealisasi pada tahun ini.

Dimana hidup di dunia ini ada tiga hal yakni Tuhan, Leluhur dan Pemerintah. Rekonsiliasi ini dilaksanakan untuk ketiga hal tersebut.

Rekonsiliasi untuk merefleksikan diri, memohon pengampunan yang mungkin pernah dilakukan oleh nenek moyang di tanah ini.

“Kita ingin melepaskan semua kesalahan-kesalahan di masa lalu, dan menjadi hidup bersih, diberkati kembali,” kata Dominggus Mitoro.

Ritual

Masyarakat asli Mimika dari Nakai hingga Potowaiburu berkumpul di Kokonao, Distrik Mimika Barat.

Pada Sabtu (23/4/2022) rangkaian rekonsisiliasi dimulai dengan perarakan salib Yesus dari Kampung Apuri kompleks misi kemudian diarak dan diiringi dengan tari-tarian asli suku Mimika.

Patung Salib diarak oleh ribuan masyarakat menuju Kampung Atapo tepatnya di depan Pelabuhan. Salib akan siap ditancapkan di depan pelabuhan pada Minggu (23/4/2022).

Salib tersebut merupakan hasil pahatan dari masyarakat 7 Kampung yang ada di Kokonao.

Ritual dalam rekonsiliasi ada perpaduan antara acara adat juga kerohanian yaitu mengangkat sakramen di dalam gereja Katolik yakni pertobatan.

Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo menjelaskan Rekonsisiliasi dalam gereja katolik adalah sakramen pertobatan atau pengakuan dosa.

Dimana hari ini, Sabtu (23/4/2022) merupakan perarakan Salib Yesus. Sementara untuk hari Minggu (24/4/2022) akan dilaksanakan upacara ritua pengakuan pertobatan.

“Ritus pengakuan pertobatan atas segala hal yang mengikat atau mempengaruhi suku Mimika tapi juga yang pernah tinggal di tanah Mimika.Karena semua Kristus punya yang mau percaya kepada dia dan yakin bahwa dia melepaskan segala kesalahan dan dosa karena salib,” jelasnya.

Acara kedua dalam gereja nanti adalah liturgi sabda, semua umat akan mendengarkan firman Tuhan melalui Alkitab.

Bagian ketiga itu perayaan ekaristi, perjamuan Tuhan dan sekaligus penanaman salib yang sebelumnya salib tersebut akan diberkati oleh Pastor. Salib merupakan lambang kemenangan.

“Jadi gereja hanya menajalankan pertobatan dan penyucian sementara perubahan nama itu adalah rananya para petua adat dan masyarakat,” katanya.

Harapan

Ada harapan yang tersirat dari proses rekonsiliasi yang dilaksanakan oleh masyarakat Mimika. Dimana usai rekonsiliasi, sebutan nama Mimika Wee akan mulai kembali dikumandangkan.

“Harus panggil kami suku Mimika, bukan lagi Kamoro,” kata Dominggus Mitoro

Ia berharap kedepannya, generasi anak Mimika memiliki hidup yang baik dan tidak ada gangguan dari manapun.

Mereka bisa duduk di pemerintahan, legislatif, yayasan-yayasan Freeport, bahkan profesi-profesi lainnya.

“Anak cucu kedepan harapan kami bisa maju, tidak ada beban yang terikat, semua sudah ditinggalkan, kamu bisa sekolah apa saja, sekolah yang tinggi dan datang bangun daerahmu, tanah ini adalah milik kalian (generasi muda),” ungkapnya.

Rafael Taorekeyau mengatakan usai rekonsiliasi dilaksanakan ia berharap bukan hanya sebatas acara saja namun akan ada perubahan yang besar.

“Jadi harapan tidak hanya bayangkan, pikirkan dan rencakan tapi begitu selesai rekonsiliasi kami akan mulai bergerak apapun yang bisa kami lakukan yang penting kita lakukan. Ada semangat baru dari masyarakat Mimika,” ungkapnya.

Dari sisi Pemerintah Johannes Rettob mengungkapkan pihaknya tentu mendukung saja apa yang mau dilaksanakan oleh masyarakat.

“Saya kira mengubah nama tentu prosesnya akan panjang sebab nanti urusannya panjang ada Freeport, Yayasan ada Pemerintah terkait Otsus juga, tapi paling tidak masyarakat sendiri mau disebut Mimika Wee,” pungkasnya.

 

reporter : Kristin Rejang
editor : Mish

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.