Tekan ASF, Disnakkeswan Mimika Siapkan 5000 Serum ScoVet Gratis

Posko penanganan ASF di Halaman Kantor Disnakkeswan Mimika, Rabu (31/1/2024). (Foto: Fachruddin Aji/Seputarpapua)
Posko penanganan ASF di Halaman Kantor Disnakkeswan Mimika, Rabu (31/1/2024). (Foto: Fachruddin Aji/Seputarpapua)

TIMIKA | Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Mimika menyiapkan sekitar 5000 ampul atau vial serum Konvalesan African Swine Fever (ASF) atau serum ScoVet untuk menekan angka kematian hewan ternak babi di Mimika.

Kepala Disnakkeswan Sabelina Fitriani melalui Kepala Bidang Keswan drh. Bakti Erma Surfani mengatakan saat ini serum ScoVet didatangkan secara bertahap ke Mimika. Yangmana pengadaannya gratis untuk peternak yang ada di Mimika. Mereka hanya perlu datang ke kantor Disnakkeswan untuk mendapatkan serum itu.

“Hari ini datang 200 vial, kemudian 200 lagi, dan pada tahap ketiga sekitar 400 ampul, total yang kita datangkan 5000 ampul,” terang drh. Bakti Erma saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (31/1/2024).

Ia mengatakan seluruh serum ScoVet merupakan produk dari Indonesia yang didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur.

“Kami datangkan dari Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), itu kan Indonesia punya produksi, kadang mereka produksi vaksin termasuk serum ini,” ungkapnya.

Erma menjelaskan bahwa pembagian serum kepada peternak dilakukan bertahap, namun bagi peternak yang memiliki populasi ternak babi cukup banyak tidak diberikan serum sesuai dengan jumlah populasi babi yang dimiliki.

“Yah, nanti mungkin dia bisa swa (pengadaan) sendiri tambahannya, tapi sementara kita kasih,” katanya.

Satu ampul serum ScoVet yang berisi 16 ml disuntikan ke hewan ternak babi sesuai dengan berat badan. Sehingga jumlah serum yang diterima tiap peternak beragam, sesuai dengan jumlah populasi ternak.

Disnakkeswan saat ini telah memetakan zonasi ASF menjadi area zona hijau dan merah, serta spot (titik) merah sesuai dengan laporan yang ada.

“Indikasi spot merah itu di Gorong-gorong (Kelurahan Kebun Sirih) samping kantor lama (Jalan Sosial). Kalau indikasi area zona merah itu Sam Ratulangi, Sempan, dan arena lama. Dua spot lagi di Gang Flora, satu spot di Jalan Pisang, Nawaripi satu spot dan Nawaripi dalam itu sudah spot merah, Jalan Baru juga, ini yang terlaporkan ya,” terangnya.

Per hari ini, 31 Januari 2024, ia mengungkapkan jumlah kematian babi berdasarkan data laporan ke Disnakkeswan, sudah ada 287 ternak babi atau ada penambahan 42 kematian. Diantara data tersebut, menurut Erma, ada penumpukan jumlah lantaran ada kematian yang belum terlaporkan.

Data populasi hewan ternak babi di Kabupaten Mimika berdasarkan laporan Disnakkeswan, saat ini berjumlah mencapai 11.000.

Selain serum, Disnakkeswan juga mendatangkan paranet, sebab virus ASF selain bisa dibawa oleh manusia, juga bisa melalui lalat atau burung. Bahkan Disnakkeswan juga menyiapkan vitamin yang diberikan melalui aplikasi injeksi atau suntikan dan vitamin yang dicampurkan ke makanan.

Kepala Disnakkeswan, Sabelina Fitriani menambahkan, jika ada pendapat yang mengatakan mengapa setelah disuntik hewan ternak babi tetap mati? Ia mengatakan sebab serum tersebut memang bukan vaksin atau obat.

“Daya proteksi serum memang hanya 30 persen, bergantung kondisi babi. Apabila kadar virus di dalam babi sudah tinggi maka tetap tidak bisa, artinya lebih efektif kalau belum sakit. Kalau pun sakit masih awal-awal, bisa,” jelasnya.

penulis : Fachruddin Aji

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *