Cerita Silfinus Mametapo, Terus Mengukir untuk Menjaga Peninggalan Leluhur

Pengukir kayu adal Suku Kamoro, Silfinus Mametapo. (Foto: Anya Fatma/SP)
Pengukir kayu adal Suku Kamoro, Silfinus Mametapo. (Foto: Anya Fatma/SP)

TIMIKA | Silfinus Mametapo, salah satu pengukir asal Suku Kamoro, Kabupaten Mimika, Papua mengaku tetap mengukir untuk menjaga peninggalan leluhur.

Silfinus merupakan anggota Sanggar Seni Otaima Kokoramo yang beberapa hari terakhir mengikuti pelatihan anyam dan ukir, yang diadakan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mimika.

Pada pelatihan itu, Sanggar Otaima Kokoramo juga memamerkan hasil-hasil ukiran kayu berbagai bentuk.

Silfinus menyebutkan, ukiran-ukiran kayu itu ada yang berbentuk burung taon-taon dan patung mbitoro.

Ia mengungkapkan, harga patung kayu dijual dengan harga mulai Rp100 ribu untuk yang berukuran kecil, ukuran sedang Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.

Untuk membuat ukiran patung berukuran kecil, Siflinus mampu membuatnya selama satu minggu, sedangkan untuk ukuran sedang sampai besar dibuat lebih dari satu minggu sampai dua minggu.

IKLAN-TENGAH-berita

Untuk penjualannya sendiri kata dia, ada orang dari Kota Timika maupun dari luar Kota Timika yang datang membeli langsung di kampung.

Selain itu, biasa dijual dan banyak yang membeli kalau ada pameran.

“Dulu itu mereka pesan kita bikin, kita juga langsung jalan keluar seperti ke Jakarta, Bali ikut pameran,” kata Silfinus kepada seputarpapua.com, Senin (24/8).

 

UKIRAN | Hasil ukiran kayu khas Suku Kamoro. (Foto: Anya Fatma)

UKIRAN | Hasil ukiran kayu khas Suku Kamoro. (Foto: Anya Fatma)

 

Ia mengakui, dulu banyak orang dari luar negeri yang membeli hasil ukirannya, namun sekarang sudah jarang.

“Dulu sering orang barat (turis-Red) beli, sekarang sudah jarang,” ujar Silfinus.

Silfinus mengaku memang tidak selalu ada yang membeli hasil ukirannya, namun ia terus mengukir kayu-kayu itu untuk menjaga peninggalan leluhurnya.

Bahkan jika tidak ada yang membeli, hasil ukirannya hanya disimpan di rumah.

“Karena ini peninggalan orang tua, jadi kita harus bikin terus supaya tidak hilang,” ungkap Silfinus.

Ia menambahkan, saat ini juga sudah ada anak-anak muda yang diajarkan mengukir agar peninggalan ini tidak hilang.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor: Aditra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar