Sikapi Gagal Panen, Bupati Merauke Sebut Petani Bakal Disantuni Asuransi

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka. (Foto: Hendrik Resi/Seputarpapua)
Bupati Merauke, Romanus Mbaraka. (Foto: Hendrik Resi/Seputarpapua)

MERAUKE, Seputarpapua.com | Bupati Merauke, Romanus Mbaraka menyikapi serius musibah gagal panen yang dialami para petani di Kabupaten Merauke pada beberapa kawasan sentra produksi (KSP) di Distrik Kurik, Semangga dan Tanah Miring.

Bupati Romanus Mbaraka menyebutkan, petani yang terdampak gagal panen akan diberikan Subsidi Pemerintah Pusat dalam bentuk asuransi gagal panen dengan nilai kurang lebih Rp3 juta hingga 6 juta. Hal itu dihitung 36.000 hektare per musim tanam.

“Petani yang gagal panen ini sedang diteliti datanya. Alokasi dana asuransi secara nasional kita ditetapkan untuk 10.000 petani yang dibayar dari dana APBN per 10 hektar,” kata Bupati Romanus Mbaraka kepada awak media di Merauke, Papua Selatan pada Sabtu, 4 April 2024.

“Jadi yang gagal panen betul-betul akan diteliti oleh tim analisa dari Dinas Pertanian, kemudian menetapkan yang kategori gagal panen, maka dia akan mendapat asuransi kurang lebih sebesar 3 juta sampai 6 juta rupiah,” sambungnya.

Langkah cepat diambil Bupati Romanus Mbaraka mengatasi kesulitan petani gagal panen yakni mengumpulkan seluruh kepala kampung di Distrik Tanah Miring dan distrik lainnya di KSP untuk membahas solusi yang diambil.

“Ada beberapa solusi sudah kami tempuh. Salah satunya kami hari ini bersama dengan Pimpinan Cabang BRI telah melakukan pertemuan membahas angsuran petani lewat kredit usaha rakyat (KUR) bisa dicicil dengan kondisi gagal panen,” ujar Bupati Mbaraka.

Menurutnya beberapa alternatif sudah disepakati bersama Pimpinan Cabang BRI dan stafnya untuk memberikan kemudahan bagi petani dalam cicilan Kredit Usaha Rakyat.

“Poin pertama disepakati, angsuran KUR BRI agar bisa dijadwalkan kembali. Jadi mereka tidak seperti biasa, tetapi hanya mengangsur 2 kali. Ini bisa dijadwalkan kembali untuk tidak langsung dibayar. Ini agar petani bisa ketahui dan berkoordinasi langsung dengan kepala kampung,” bebernya.

Poin kedua yang disepakati, lanjutnya, para petani yang gagal panen bisa mencari pinjaman dengan catatan setelah angsuran disetor bisa mengajukan kredit kembali. Petani bisa mengelola tanam gadu (musim kedua) sekalian bisa menyicil angsuran.

Advertisements

“Jadi itu dua cara yang bisa ditempuh. Mudah-mudahan keputusan kita ini bisa membantu petani agar tetap eksis mengelola pertanian khususnya tanam gadu. Kita tetap monitor iklim yang ada sesuai ramalan BMKG secara nasional bahwa kita akan mengalami panas tinggi,” ucapnya.

Bupati Romanus berpesan agar di musim tanam gadu petani harus mempersiapkan dengan baik. Petani juga diingatkan untuk tidak menjual stok beras seluruhnya. Mengingat, tahun 2024 diramalkan musim kemarau akan lebih panjang dari tahun sebelumnya.

“Banyak negara yang tadinya ekspor hasil pertanian, sekarang sudah tidak ekspor lagi. Karena stok pangan mereka tahan sebagai cadangan, mengantisipasi minus pangan dampak panas yang tinggi tahun ini. Jadi saya harap para petani kalau boleh jangan dijual semua, diatur baik sesuai dengan kebutuhan yang ada,” tandasnya.

 

penulis : Hendrik Resi
editor : Saldi Hermanto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan